Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi obligasi. Foto: beritasatu.com

Ilustrasi obligasi. Foto: beritasatu.com

Emisi Global Bond RI Marak

Farid Firdaus, Selasa, 4 Februari 2020 | 07:32 WIB

JAKARTA, investor.id – Penerbitan obligasiglobal (global bond) oleh korporasi Indonesia sepanjang tahun ini diyakini lebih marak dibandingkan tahun lalu. Selama Januari saja, penerbitan global bond mencapai US$ 3,82 miliar atau Rp 52,4 triliun.

Selanjutnya, sejumlah perusahaan berencana emisi global bond sebesar US$ 10,93 miliar atau Rp 150 triliun. Dengan demikian, totalnya bisa mencapai US$ 14,7 miliar atau Rp 202 triliun.

Selama Januari, tercatat tujuh perusahaan telah merampungkan penerbitan global bond. PT Pertamina (Persero) menjadi penerbit dengan nilai emisi paling besar mencapai US$ 1,5 miliar. Tahun ini, BUMN tersebut meluncurkan program surat utang jangka menengah (medium term notes/MTN) hingga senilai US$ 10 miliar. Fitch Ratings telah menyematkan peringkat BBB terhadap MTN tersebut, dengan prospek stabil.

Analis Fixed Income MNC Sekuritas I Made Adi Saputra mengatakan, maraknya penerbitan global bond pada Januari sebenarnya momentum bagi emiten untuk mendapatkan biaya dana (cost of fund) penerbitan yang murah Sebab, yield atau imbal hasil US Treasury yang merupakan acuan obligasi korporasi global tengah menurun.

“Apalagi, ada beberapa penerbit yang merupakan issuer baru seperti BTN dan Bayan Resources, di mana mereka percaya diri menerbitkan global bond perdana pada awal tahun ini,” kata Made kepada Investor Daily di Jakarta, Senin (3/2).

Tahun ini, Made yakin nilai penerbitan global bond lebih tinggi dibandingkan tahun lalu. Penerbit dari kelompok BUMN dinilai memiliki kelebihan di mata investor luar negeri, karena mendapatkan prospek stabil dari lembaga pemeringkat internasional.

Terlebih, investor global tak asing lagi dengan latar belakang dari BUMN, seperti Pertamina, PT PLN (Persero), ataupun bank-bank BUMN. Tahun lalu, PLN menerbitkan Samurai Bond senilai 23,2 miliar yen atau setara Rp 3 triliun.

Berkaca pada pengalaman tersebut, bukan tidak mungkin PLN kembali menerbitkan Samurai Bond tahun ini.

Untuk emiten dari sektor lain, kata dia, sebelumnya ada kekhawatiran dari investor asing, khususnya kepada emiten tekstil sejak kasus Duniatex mencuat pada pertengahan 2019. Namun, hal ini tidak serta-merta membuat minat investor asing berkurang terhadap surat utang emiten dalam negeri.

“Mereka akan menimbang dahulu sektor emiten tersebut. Ketika sejumlah sektor emiten terpapar sentimen kurang bagus, ongkos penerbitan global bond emiten di sektor itu akan lebih tinggi,” ujarnya.

Sementara itu, Head of Fixed Income Mandiri Sekuritas Handy Yunianto mengatakan, likuiditas yang besar pada awal tahun ini mendorong emiten beramai-ramai menerbitkan global bond. Selain itu, pandangan dovish Bank Sentral Amerika Serikat (AS),

The Fed. Foto: wikipedia
The Fed. Foto: wikipedia

The Fed, menjadi faktor yang memengaruhi pasar obligasi. Investor surat utang dan emiten sebagai penerbit juga optimistis dengan ekonomi global setelah fase I kesepakatan perdagangan antara AS dan Tiongkok, serta meredanya perseteruan kedua negara.

“Tahun ini tantangannya ada pada semester II, terutama menjelang pemilihan umum Presiden AS yang biasanya membuat market volatile,” jelas Handy.

Secara terpisah, Fixed Income Division Head-SVP Bank Sinarmas Anup Kumar mengemukakan bahwa terdapat kebutuhan belanja modal (capital expenditure/capex) ataupun modal kerja dalam denominasi dolar AS yang mendorong emiten menerbitkan global bond. Dengan begitu, tidak terjadi mismatch antara pendanaan dan penggunaan dana.

Selain itu, menurut dia, faktor kupon yang lebih rendah dibanding tahun lalu turut membuat aksi penerbitan kian ramai pada 2020. Sebab, cost of debt perusahaan lebih baik bila hasil emisi obligasi untuk pelunasan utang yang memiliki bunga lebih tinggi.

Salah satu emiten yang mengincar suku bunga surat utang lebih rendah tahun ini adalah Alam Sutera. Perseroan setidaknya berharap mampu menerbitkan global bond minimal dengan nilai yang sama dan bertenor minimal selama lima tahun.

Refinancing Utang

Direktur Utama PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI) Joseph Sanusi Tjong pernah mengatakan, pihaknya menunggu waktu yang tepat untuk melakukan refinancing surat utang 

“Jika melihat pengalaman yang lalu, kalau rate-nya lagi bagus, kami akan terbitkan yang lima tahun, jatuh temponya pada 2024,” tutur dia.

Alam Sutera. Foto: DEFRIZAL
Alam Sutera. Foto: DEFRIZAL

Alam Sutera berhasil mengantongi izin permohonan persetujuan (concent solicitation) perubahan atas dua global bond yang telah diterbitkan sebelumnya. Surat utang tersebut berupa senior notes senilai US$ 175 juta dengan bunga 11,5% dan jatuh tempo 2021, serta senior notes senilai US$ 370 juta dengan bunga 6,625% yang jatuh tempo 2022.

Amendemen pada dua surat utang ini memberikan fleksibilitas bagi Alam Sutera dalam meraih pembiayaan hingga US$ 185 juta. Dana tersebut akan dimanfaatkan untuk kebutuhan pelunasan kembali utang.

Di sisi lain, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk mengejar penyelesaian limited review laporan keuangan 2019 guna merealisasikan penerbitan sukuk global minimal senilai US$ 500 juta pada kuartal I-2020.

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra dan Komisaris Utama Triawan Munaf dalam Talkshow bertema Semangat Baru Garuda Indonesia di Jakarta, Jumat (24/1/2020). Foto: BeritasatuPhoto/Defrizal
Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra dan Komisaris Utama Triawan Munaf dalam Talkshow bertema Semangat Baru Garuda Indonesia di Jakarta, Jumat (24/1/2020). Foto: BeritasatuPhoto/Defrizal

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengatakan, sukuk global akan menjadi prioritas, karena perseroan menghadapi utang jatuh tempo sukuk global senilai US$ 500 juta pada 3 Juni 2019.

Proses penerbitan nantinya turut melewati persetujuan dewan komisaris perseroan. “Kami mesti selesaikan utang ini secepatnya. Yang prioritas global sukuk, kami akan negosiasi,” jelas dia.

Sementara itu, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) memiliki sisa jatah penerbitan global bond hingga senilai US$ 1,25 miliar, yang merupakan bagian dari nilai yang diizinkan oleh regulator sebesar US$ 2 miliar. Perseroan berencana menerbitkan global bond secara bertahap dalam satu tahun.

Penerbitan global bond juga masuk dalam rencana bisnis bank (RBB) PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI). Dana hasil penerbitan tersebut rencananya akan dipakai untuk refinancing utang dan sebagian untuk penyaluran kredit. (jm)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA