Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Fasilitas produksi PT Tridomain Performance Materials Tbk (TDPM)  (Foto: Ist)

Fasilitas produksi PT Tridomain Performance Materials Tbk (TDPM) (Foto: Ist)

Gagal Bayar Tridomain Berujung PKPU

Selasa, 13 Juli 2021 | 20:03 WIB
Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – PT Mandiri Manajemen Investasi (MMI) melalui kuasa hukumnya, Raden Suharsanto Raharjo (Suharsanto) dari Kantor Hukum AKSET, akhirnya mengajukan pemohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) terhadap PT Tridomain Performance Materials Tbk (TDPM) di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat pada 8 Juli 2021.

Pengajuan PKPU tersebut dilakukan setelah proposal restrukturisasi utang yang diajukan Tridomain atas adanya kondisi gagal bayar atas underlying asset Reksa Dana Terproteksi Mandiri Seri 147, 151 dan 152 yaitu surat utang (Medium Term Notes atau MTN) seri II yang diterbitkan Tridomain dianggap merugikan investor.

Menurut Suharsanto, MMI selaku manajer investasi telah meminta proposal restrukturisasi utang terbaik kepada Tridomain sejak akhir April 2021, setelah perusahaan petrokimia tersebut dinyatakan wanprestasi atau gagal melunasi utang pokok MTN Seri II senilai Rp 410 miliar beserta bunganya, yang jatuh tempo 27 April 2021.

Sehubungan dengan hal tersebut, Tridomain kemudian menunjuk SJ Investment & Advisory sebagai konsultan penasihat keuangan untuk membantu menyusun restrukturisasi utang Tridomain terhadap para krediturnya. Tercatat, Tridomain telah menyampaikan proposal restrukturisasi sebanyak enam kali kepada MMI.

Namun, setelah dicermati secara teliti oleh MMI dan setelah menerima masukan dari para pemegang unit penyertaan Reksa Dana Terproteksi Mandiri, MMI merasa proposal restrukturisasi yang diajukan Tridomain merugikan investor pemegang unit penyertaan Reksa Dana Terproteksi yang menjadi pemegang MTN II tersebut. Bahkan sampai dengan penyampaian proposal restrukturisasi keenam yang diajukan oleh Tridomain pada 29 Juni 2021, revisi proposal restrukturisasi tersebut juga dirasa masih tetap merugikan investor.

MMI menilai bahwa seluruh proposal tersebut belum mencerminkan kondisi Tridomain sesungguhnya, yang dirasa masih mampu memberikan penawaran penyelesaian yang lebih baik. Berkaca pada pemberitaan sejumlah media, Tridomain menyatakan bahwa fundamental bisnis perusahaan masih baik. Tridomain juga menyatakan operasional perusahaan masih berjalan normal, dan tidak melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap karyawannya.

Karena itu, MMI merasa dengan diajukannya permohonan PKPU terhadap Tridomain dapat memberikan suatu penyelesaian yang tidak merugikan investor serta memberikan kepastian hukum. “Kami harap permohonan PKPU terhadap Tridomain dapat diterima Pengadilan Niaga agar proses penyelesaian kewajiban Tridomain mendapat kepastian hukum,” tegas Suharsanto dalam keterangan tertulis, Selasa (13/7).

Proses PKPU tersebut merupakan bentuk itikad baik dan upaya optimal yang dilakukan MMI dalam memberikan perlindungan hak dan kepentingan investor Reksa Dana Terproteksi Mandiri Investasi. Sebab selain memberikan skema penyelesaian yang tidak optimal, Tridomain dinilai kurang terbuka atas kondisi perusahaan yang sesungguhnya.

“PKPU ini diharapkan bisa memberikan kepastian penyelesaian kewajiban kepada MMI dan investor pemegang Reksa Dana Terproteksi Mandiri Investasi. Sebab penyelesaian kewajiban Tridomain akan dikelola oleh pengurus yang independen dan diawasi oleh pengadilan,” jelas Suharsanto.

Sementara itu, menurut Kiswoyo Adi Joe, head of investment PT Reswara Gian Investa, manajemen yang baik adalah manajemen yang sudah bisa mengantisipasi kewajibannya jauh hari, sebelum surat utang tersebut jatuh tempo.

“Kalaupun bisnis Tridomain tertekan imbas Covid-19, manajemen sudah bisa mengantisipasi sejak tahun lalu, bukan mendekati jatuh tempo baru melakukan roll over, dan akhirnya malah gagal bayar,” ujarnya.

Dia menambahkan, kondisi gagal bayar surat utang sangat berdampak serius terhadap reputasi dan kepercayaan publik terhadap manajemen maupun perusahaan. Terlebih, jika ternyata bisnis dan fundamental perusahaan masih baik dan berjalan normal.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN