Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Garuda Indonesia.

Garuda Indonesia.

Garuda Siapkan Obligasi Wajib Konversi Tahap II Rp 1,5 Triliun

Senin, 5 April 2021 | 06:55 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) tengah merancang penerbitan obligasi wajib konversi (OWK) tahap II sebesar Rp 1,5 triliun yang merupakan bagian dari dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Dana tersebut berpotensi membantu likuiditas perseroan di tengah pandemi.

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengatakan, perseroan belum dapat menyebut detail jadwal penerbitan OWK lantaran masih dalam proses. “Tentu kita berharap semua yang direncanakan tidak ada kendala,” jelas dia kepada Investor Daily, Minggu (4/4).

Pencairan dana PEN telah memperhitungkan kebutuhan modal kerja Garuda Indonesia dalam jangka pendek dan menengah. Februari lalu, perseroan tercatat menyelesaikan pencairan dana hasil penerbitan OWK tahap I senilai Rp 1 triliun. Seperti diketahui, perseroan mengantongi persetujuan untuk menerbitkan OWK dengan plafon maksimal Rp 8,5 triliun.

Penerbitan OWK dilakukan dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian, serta aspek compliance terhadap ketentuan good corporate governance (GCG). Hal ini dilakukan supaya penggunaan dana hasil OWK berjalan tepat guna sesuai kebutuhan perusahaan.

Sebagaimana telah disepakati bersama stakeholder, termasuk Kementerian BUMN dan Kementerian Keuangan melalui PT SMI selaku pelaksana investasi, dana yang diperoleh dari penerbitan OWK ini akan dipergunakan untuk mendukung likuiditas, solvabilitas, serta pembiayaan operasional perusahaan.

Sementara itu, Garuda menandatangani addendum perjanjian pemberian pinjaman dan addendum perjanjian treasury line dengan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) pada 30 Maret. Berdasarkan perjanjian tersebut, para pihak sepakat melakukan perpanjangan kembali jangka waktu dari yang semula 16 Desember 2020-31 Maret 2021, menjadi 30 Maret 2021-31 Desember 2021 atas fasilitas non cash loan-customized IGF dan fasilitas treasury line, yang telah dilaksanakan bertahap sejak 2016.

Selain perubahan jangka waktu, terdapat pula perubahan fasilitas treasury line dari sebelumnya US$ 300 juta menjadi US$ 150 juta. Selain itu, tidak terdapat perubahan atas ketentuan persyaratan lainnya, termasuk mengenai bunga jaminan.

Adapun untuk non cash loan-customized IGF jumlahnya tetap sama Rp 2,4 triliun. Transaksi ini dimaksudkan untuk mendukung kebutuhan modal kerja Garuda sebelumnya, termasuk pembelian bahan bakar.

Tahun ini, Garuda pun terus melanjutkan efisiensi. Perseroan telah mengusulkan penghentian kontrak sewa 12 pesawat Bombardier CRJ 1000 yang seharusnya berakhir pada 2027. Perseroan menilai keputusan ini mampu menghindari perseroan dari kerugian sekitar US$ 220 juta. Aksi memutus sepihak kontrak sewa kepada penyedia sewa Nordic Aviation Capital (NAC) ini dilakukan per 1 Februari 2021.

Sebelumnya Irfan mengatakan, perseroan melakukan tawaran early termination atau penghentian dini kontrak, setelah berulang kali negosiasi namun Garuda memperoleh feedback atau tawaran kembali yang tidak positif.

Dia menambahkan, Garuda selama delapan tahun mengoperasikan penggunaan pesawat ini, sekalipun utilisasi sudah di atas penggunaan industri.  Namun, pengoperasian pesawat ini dinilai tidak menghasilkan keuntungan malah menciptakan rugi yang cukup besar bagi perseroan.

Ke depan, pihaknya memproyeksikan kerugian lebih besar akan muncul dengan menggunakan pesawat CRJ1000. “Oleh sebab itu, penghentian ini bagian dari upaya kami kurangi kerugian di masa mendatang,” kata Irfan.

Dari sisi jumlah penumpang, Garuda Indonesia berangsur-angsur mengalami pemulihan. Hingga awal kuartal IV-2020, perseroan mencatatkan jumlah penumpang tertinggi selama pandemi, di mana pada November 2020 lalu, Garuda Indonesia berhasil membukukan jumlah angkutan penumpang lebih dari 1,04 juta penumpang.

Posisi ini meningkat cukup signifikan dibanding masa awal pandemi, saat perusahaan hanya dapat mengangkut 30 ribuan penumpang. Sementara untuk bisnis angkutan kargo, pada November 2020 Garuda Indonesia juga berhasil mencatatkan pertumbuhan kargo sebesar 12,2% dari awal kuartal IV-2020 menjadi 24,6 ribu ton angkutan kargo.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN