Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Star Energy Geothermal Salak Ltd. Foto: Perseroan.

Star Energy Geothermal Salak Ltd. Foto: Perseroan.

'Green Bond' Star Energy US$ 1,1 Miliar Kebanjiran Pesanan

Kamis, 8 Oktober 2020 | 23:03 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Star Energy Geothermal (Salak-Darajat) BV, anak usaha PT Barito Pacific Tbk (BRPT), menerbitkan surat utang berwawasan lingkungan (green bond) senilai US$ 1,11 miliar. Penawaran green bond ini mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed) yang tinggi dengan pesanan yang masuk mencapai US$ 2,8 miliar dari 106 akun.

Para joint global coordinators dan joint bookrunners yang menangani penerbitan green bond Star Energy antara lain Credit Suisse, DBS Bank Ltd, Deutsche Bank, dan Barclays. Sementara, BPI Capital bertindak sebagai co-manager.

Berdasarkan informasi yang diperoleh Investor Daily, Kamis (8/10), sebanyak 42% investor yang memesan green bond berasal dari Amerika Serikat, 39% dari Asia, serta 19% dari Eropa, Timur Tengah, dan Afrika. Sedangkan berdasarkan tipe investor, sebanyak 82% merupakan asset management, 8% dari kelompok asuransi dan dana penisun, 8% hedge fund, serta 2% private bank.

Green bond Star Energy Geothermal terbagi dalam dua seri. Tranche A sebesar US$ 320 juta dengan tenor 8,5 tahun dan berkupon 3,25%. Sedangkan tranche B senilai US$ 790 juta dengan tenor 18 tahun dan berkupon 4,85%.

Star Energy sebelumnya melakukan virtual roadshow selama 30 September-5 Oktober. Semula, pada 6 Oktober, pedoman kupon awal seri 18 tahun ditetapkan sekitar 5,125% dan pesanan yang masuk langsung mencapai target US$ 790 juta hanya dalam waktu dua jam. Kemudian, kupon tranche B diperketat lagi menjadi 4,85% seiring dengan peningkatan order book.

Sebelumnya, Presiden Direktur Barito Pacific Agus Salim Pangestu mengatakan, surat utang terbaru dari Star Energy ini merupakan green bond investment grade pertama dari sektor swasta di Indonesia. “Ini juga sekaligus menjadi green bond ketiga dari Barito Group,” kata dia.

Moody’s Investor Service menyematkan peringkat investment grade yakni Baa3 untuk senior secured bond yang diterbitkan Star Energy Geothermal Darajat II Ltd dan Star Energy Geothermal Salak Ltd. Dua perusahaan ini merupakan anak usaha Star Energy Geothermal BV. Sementara, outlook yang diberikan adalah stabil.

Peringkat investment grade ini menggambarkan kualitas dari surat utang yang dianggap baik dan minim risiko, yang dikeluarkan oleh perusahaan reliable. Berdasarkan penilaian Moody’s, peringkat yang diberikan menggabungkan profil pendapatan Star Energy yang dapat diprediksi. Lalu, perusahaan juga didukung oleh pendapatan berdasarkan ketersediaan kontrak penjualan energi jangka panjang kepada PT Perusahaan Listrik Negara (PLN). Selain itu, Star Energy dinilai memiliki profil keuangan yang moderat.

Sebagai informasi, Star Energy memiliki hak eksklusif untuk mengekplorasi, mengembangkan dan memanfaatkan energi panas bumi di Darajat dan Salak, Jawa Barat. Pengembangan ini dilakukan di bawah kontrak operasi bersama dengan PT Pertamina Geothermal Energy.

Proyek di Salak dan Darajat tercatat memiliki kapasitas pembangkit gabungan sebesar 647,8 megawatt (MW). Dari jumlah itu, sebanyak 412,8 MW dioperasikan oleh Star Energy, dan sisanya dioperasikan PLN.

Sementara itu, Fitch Ratings turut menyematkan peringkat BBB- untuk global bond yang akan diterbitkan Star Energy dengan outlook stabil. Rencananya, Star Energy akan menggunakan dana obligasi global untuk melunasi sejumlah utang. Sebagian dana juga akan dialokasikan untuk belanja modal, modal kerja, dan kebutuhan lain yang terkait dengan operasional geotermal.

Penerbitan obligasi bernilai jumbo Star Energy ini praktis membuat Indonesia menggeser posisi Singapura sebagai negara dengan total penerbitan green bond terbesar di Asia Tenggara sepanjang tahun ini. Pada Juni lalu, pemerintah Indonesia berhasil merilis green sukuk global hingga US$ 2,5 miliar.

Chandra Asri

Grup Barito tercatat konsisten menggalang dana melalui pasar obligasi sepanjang tahun ini. Agustus lalu, anak usaha perseroan, yakni PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) meraih dana Rp 1 triliun dari penerbitan obligasi berkelanjutan III tahap I.

Penerbitan obligasi ini mendapat peringkat AA- dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo). Pefindo menilai kapasitas Chandra Asri untuk memenuhi komitmen keuangan jangka panjang atas efek utang tersebut sangat kuat, dibandingkan penerbit obligasi lainnya di Indonesia.

Dari sisi ekspansi, Chandra Asri dan Royal Vopak telah menandatangani Letter of Intent (LoI) untuk mendirikan perusahan patungan  yang berfokus pada infrastruktur di industri petrokimia.

Presiden Direktur Chandra Asri Petrochemical Erwin Ciputra mengatakan, pendirian perusahaan patungan tersebut untuk membantu mengembangkan rantai nilai petrokimia yang ada dan membangun fondasi untuk perluasan klaster industri di Cilegon. “Perseroan dan Vopak menjajaki peluang penyimpanan di jaringan pasokan,” ujar dia.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN