Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Perdagangan obligasi di bursa.

Perdagangan obligasi di bursa.

Harga Surat Utang 'Undervalued', Investor Institusi Diminta Masuk Pasar

Farid Firdaus, Senin, 23 Maret 2020 | 21:50 WIB

JAKARTA, investor.id – Harga surat utang negara (SUN) diprediksi masih mengalami tekanan pekan ini, seiring dengan imbal hasil (yield) seri 10 tahun yang bergerak ke kisaran 8%. Kendati sudah terbilang menarik, ketidakpastian ekonomi global membuat arus modal yang mengalir ke negara berkembang cenderung tertahan.

Associate Director Fixed Income PT Anugerah Sekuritas Ramdhan Ario Maruto mengatakan, stimulus dan relaksasi ekonomi yang dilakukan pemerintah diharapkan mulai diapresiasi pelaku pasar, termasuk investor obligasi. Namun, konsentrasi publik saat ini selalu kepada cara pemerintah menangani pandemi Virus Korona (Covid-19).

“Dalam kondisi normal, posisi yield obligasi kita sebenarnya sudah sangat menarik. Tapi ternyata investor asing terus keluar. Saat ini, harapannya adalah investor institusi domestik, seperti lembaga-lembaga dana pensiun untuk lebih aktif di pasar,” jelas dia kepada Investor Daily.

Data Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan menunjukkan, total porsi kepemilikan asing dalam surat berharga negara (SBN) yang dapat diperdagangkan mencapai Rp 975,37 triliun per 18 Maret 2020. Jumlah tersebut berkurang Rp 86,49 triliun dan mencetak net sell dibandingkan dengan posisi 31 Desember 2019.

Sementara itu, pemerintah akan melangsungkan lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) pada Selasa 24 Maret 2020 dengan target indikatif Rp 7 triliun. SBSN yang dilelang sebanyak lima seri dengan jatuh tempo pada 11 September 2020, 15 Januari 2022, 15 Oktober 2024, 15 Februari 2037, dan 15 April 2043.

Menurut Ramdhan, penawaran yang masuk pada lelang kali ini bisa mencapai Rp 30 triliun. Dalam beberapa pekan terakhir, pihaknya mengakui terjadi penurunan permintaan, meskipun tetap kelebihan penawaran atau oversubscribed.

Data DJPPR menunjukkan, penawaran lelang SUN yang masuk sempat menembus Rp 127,19 triliun pada 18 Februari, dan Rp 60,54 triliun untuk SBSN pada 25 Februari. Kemudian, Rp 78,41 triliun untuk SUN pada 3 Maret dan Rp 36,73 triliun untuk SBSN pada 10 Maret. Terakhir, lelang SUN pada 17 Maret meraih penawaran Rp 51,3 triliun.

Secara terpisah, Associate Director Head of Research and Investment PT Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus memprediksi, pekan ini, yield tenor 5 tahun berpotensi bergerak 7,05%-7,35%, dan yield tenor 10 tahun pada kisaran 8%-8,28%. Sementara itu, yield tenor 15 tahun melaju dalam rentang 8,33%-8,55%, dan yield tenor 20 tahun pada kisaran 8,40%-8,55%.

Selain dari Covid-19, data-data ekonomi global akan menjadi pertimbangan investor obligasi pekan ini. Semisal, Pemerintah Amerika Serikat (AS) yang akan merilis data indeks manajer pembelian (PMI) manufaktur.

Menurut Nico, data ini menjadi penting karena publik dapat melihat dampak yang ditimbulkan oleh wabah Covid-19 terhadap ekonomi AS. Selain itu, menyusul data gross domestic product (GDP) annualized AS, tingkat konsumsi pribadi, dan tingkat pengangguran AS. “Kami melihat hal ini menjadi sesuatu yang sangat penting karena hal ini memberikan indikator seberapa sehat perekonomian AS di tengah gejolak pandemi Virus Korona tersebut,” jelas dia.

Adapun data PMI Manufaktur juga akan dirilis oleh Jepang dan Eropa. Sama halnya dengan AS, data ini juga bisa mencerminkan seberapa besar dampak Covid-19 terhadap perekonomian Eropa dan Jepang.

Menurut Nico, pasar global masih mencemaskan efek dan akibat yang ditimbulkan oleh Virus Korona tersebut, dan mencermati strategi apa yang akan dilakukan oleh pemerintah-pemerintah setiap negara pada situasi dan kondisi yang terjadi saat ini.

Di tengah pelemahan harga obligasi, lanjut dia, bisa dikatakan harga obligasi saat ini sudah mulai undervalued. Apalagi yield obligasi terus mengalami kenaikkan. Pihaknya melihat potensi yield tenor 10 tahun cukup tinggi untuk menyentuh 8,40%. Sudah saatnya para pelaku pasar dan investor mulai masuk secara berkala.

“Tetap fokus kepada seri seri jangka pendek dengan porsi 70% dan 30% obligasi jangka panjang. Jangan lupa, untuk menjaga likuiditas jangka pendek sehingga tidak mempengaruhi portofolio obligasi,” ujar dia.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN