Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Dealer memantau pergerakan SUN di global market bank OCBC NISP, Jakarta, belum lama ini.   Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Dealer memantau pergerakan SUN di global market bank OCBC NISP, Jakarta, belum lama ini. Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Imbal Hasil SUN Diprediksi Alami Penurunan

Senin, 29 Maret 2021 | 08:47 WIB
Lona Olavia

JAKARTA, investor.id – Kepala Riset Praus Capital Alfred Nainggolan memproyeksi, pergerakan imbal hasil (yield) surat utang negara (SUN) di pekan ini cenderung akan konsolidasi dalam jangka pendek dengan rentang yield 6,6%-6,8% dengan kecenderungan mengalami penurunan.

"Faktor pergerakan yield global (US) masih akan men-drive pergerakan yield SUN. Sementara untuk pergerakan yield US di pekan depan akan bergerak dalam rentang 1,6%-1,7% dan cenderung berpotensi menurun, strategi pemerintah US untuk menaikan pajak sebagai sumber pendanaan memberikan tekanan terhadap kenaikan Yield US," katanya kepada Investor Daily, Minggu (28/3).

Sementara ekspektasi faktor kenaikan suku bunga yang memicu trend kenaikan yield US mulai mereda. Pada 30 Maret ini, pemerintah akan kembali menggelar lelang SUN dengan target sama dengan lelang sebelumnya Rp 30-45 triliun untuk lelang tersebut Alfred memperkirakan juga masih akan minim penawaran yang masuk dan tenor-tenor pendek masih menjadi SUN yang diminati.

"Tingginya volatilitas yield membuat pasar lebih memilih untuk lebih pasif terhadap pasar surat utang," imbuhnya.

Head of Research PT Henan Putihrai Sekuritas Robertus Hardy menyebutkan, yield SUN tenor 10 tahun turun ke level 6,75% sepanjang pekan lalu, dari 6,82% pada pekan sebelumnya. Pergerakan masih cenderung sideways di kisaran 6,71%-6,81%, karena masih belum adanya sentimen yang dapat signifikan menggerakkan pasar obligasi domestik.

“Pekan ini, yield SUN tenor 10 tahun diperkirakan masih akan bergerak mix cenderung turun untuk menguji level 6,67% kembali, karena investor sudah memfaktorkan proyeksi pertumbuhan PDB kuartal I-2020 yang masih negatif dan sudah mulai menatap proyeksi pertumbuhan ekonomi kuartal II-2020 yang lebih positif,” ujarnya.

Sementara itu, larangan mudik Lebaran dianggap justru dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Jabodetabek yang saat ini memiliki bobot lebih dari 20% terhadap PDB nasional. Dari pasar global, yield obligasi treasury AS tenor 10 tahun diperkirakan masih akan bergerak naik untuk menguji kisaran 1,7%–1,75% kembali.

“Meskipun pasar obligasi domestik tidak imun terhadap volatilitas pasar global, namun inflasi yang terkendali dan proyeksi pertumbuhan ekonomi yang lebih positif di kuartal II-2020 diperkirakan masih akan lebih mendominasi sentimen positif untuk mendorong yield SUN tenor 10 tahun untuk turun lebih lanjut,” kata Robertus.

Adapun, pemerintah akan kembali menggelar lelang Surat Utang Negara (SUN) pada Selasa (30/3) untuk memenuhi sebagian dari target pembiayaan dalam APBN 2021. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR Kementerian Keuangan, pemerintah akan menawarkan tujuh seri. Di mana, target indikatif dari lelang SUN 30 Maret 2021 ditetapkan senilai Rp 30 triliun dan target maksimal senilai Rp 45 triliun.

Tujuh tersebut yakni Surat Perbendaharaan Negara (SPN) seri 12210701 yang jatuh tempo pada 1 Juli 2021 dengan imbalan diskonto, SPN 12220301 yang jatuh tempo pada 31 Maret 2022 dengan imbalan diskonto, FR 0086 yang jatuh tempo pada 15 April 2026 dengan imbalan 5,5%, FR 0087 yang jatuh tempo pada 15 Februari 2031 dengan imbalan 6,5%, FR 0088 yang jatuh tempo pada 15 Juni 2036 dengan imbalan 6,25%, FR 0083 yang jatuh tempo pada 15 April 2040 dengan imbalan 7,5%, dan FR 0089 yang jatuh tempo pada 15 Agustus 2051 dengan imbalan 6,875%.

Lelang ini akan dibuka pada Selasa, 30 Maret 2021 pukul 09.00 WIB dan ditutup pukul 11.00 WIB. Sedangkan tanggal setelmen jatuh pada Kamis, 1 April 2021. Di mana, penjualan SUN tersebut akan dilaksanakan dengan menggunakan sistem pelelangan yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia. Lelang bersifat terbuka (open auction), menggunakan metode harga beragam (multiple price). SUN yang akan dilelang mempunyai nominal per unit sebesar Rp 1 juta.

Sepanjang tahun 2021, pemerintah telah melakukan enam kali lelang SUN. Lelang pada 16 Maret 2021 akan menjadi lelang edisi ketujuh pada tahun ini dan ketiga untuk bulan Maret. Hasil lelang SUN pada tahun ini menunjukkan tren penawaran yang menurun. Pada 2 Maret, misalnya tren negatif tersebut masih berlanjut dengan hasil penawaran Rp 49,73 triliun dan penyerapan Rp 17 triliun.

Selanjutnya, pada lelang 16 Maret, jumlah penawaran yang masuk mencatatkan rekor terendah sepanjang 2021 dengan hasil Rp 40,08 triliun. Dari hasil tersebut, pemerintah memenangkan sebanyak Rp 18,9 triliun.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN