Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi pasar surat utang. (Foto:  Pixabay)

Ilustrasi pasar surat utang. (Foto: Pixabay)

Investor Berhati-hati, Harga SUN Berfluktuasi

Senin, 15 Februari 2021 | 05:48 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Harga surat utang negara (SUN) diperkirakan akan bergerak fluktuatif pada pekan ini, seiring dengan kehati-hatian investor akan meningkatnya kasus Covid-19 di dalam negeri dan global.

Associate Director of Fixed Income PT Anugerah Sekuritas Indonesia Ramdhan Ario Maruto mengatakan, pekan ini, pasar SUN akan bergerak terbatas. Imbal hasil (yield) SUN tenor 10 tahun akan bergerak di level 6,1-6,2%. "Bergeraknya akan dinamis, naik dan turut sempit," jelas dia kepada Investor Daily, Minggu (14/2).

Hal yang mempengaruhi pergerakan SUN ini, menurut Ramdhan, adalah penambahan kasus positif Covid-19 secara harian. Hal ini meningkatkan kehati-hatian investor untuk berinvestasi. Selain itu, vaksinasi Covid-19 juga sedang digalakkan secara global dan domestik. Efektivitas dari vaksin ini yang saat ini sedang ditunggu oleh pasar.

Meski demikian, minat investor untuk masuk ke pasar SUN Indonesia masih cukup tinggi. Apalagi investor domestik yang likuiditasnya cukup tinggi untuk masuk ke pasar SUN. Arus modal asing juga diharapkan meningkat pada akhir tahun ini. 

Dengan didukung oleh kedua investor itu, Ramdhan optimistis pasar SUN akan menguat tahun ini. Dia pun memproyeksi yield SUN pada akhir 2021 bisa berada di bawah 6%.

Di lain pihak, Associate Director of Research Investment PT Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan, investor asing sebenarnya masih ragu untuk masuk ke pasar obligasi. Pasalnya, investor asing cenderung memilih saham sebagai instrumen investasi, seiring pemulihan kondisi ekonomi. "Saham akan selalu menjadi pilihan, meskipun pasar obligasi akan selalu memiliki tempat dalam portfolio," kata dia.

Saat ini, lanjut Nico, pelaku pasar dan investor asing masih melihat momen yang tepat untuk masuk ke pasar obligasi. Pelaku pasar, menurut dia masih menanti sejauh mana pemulihan bisa terjadi dan seberapa cepat kondisi ini akan berakhir. "Pelan tapi pasti, dana asing berpotensi untuk kembali masuk ke dalam pasar obligasi. Sejauh ini, investor tersebut mencoba masuk ke pasar obligasi melalui lelang," terang dia.

Dengan melihat hal tersebut, investor disarankan untuk memilih obligasi berdurasi jangka pendek, yakni di bawah 10 tahun. Nico juga menyarankan investor untuk masuk ke dalam obligasi sukuk pemerintah yang memberikan tingkat volatilitas rendah.

Ke depan, dia melihat volatilitas masih sangat tinggi, karena ketidakpastian akan pemulihan masih akan sangat tidak pasti. "Oleh sebab itu obligasi berdurasi jangka pendek sangat cocok untuk meredam tingginya tingkat volatilitas tersebut," ujar dia.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN