Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
PT Krakatau Steel Tbk (KRAS). Foto: Perseroan.

PT Krakatau Steel Tbk (KRAS). Foto: Perseroan.

Krakatau Steel Rilis OWK Tahap Pertama Rp 2,2 Triliun

Senin, 28 Desember 2020 | 23:03 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) bakal menerbitkan obligasi wajib konversi (OWK) tahap pertama sebesar Rp 2,2 triliun dalam rangka pencairan dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Adapun plafon dana PEN untuk perseroan mencapai Rp 3 triliun.

Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim mengatakan, pihaknya berencana mencairkan dana PEN senilai Rp 2,2 triliun pada Desember 2020 dan Rp 800 miliar pada Desember 2021. “Semua diterbitkan dengan tenor tujuh tahun. Saya tegaskan pencairan dana ini dilakukan bertahap, namun penerbitan dilakukan sekaligus,” kata dia kepada Investor Daily, Senin (28/12).

Menurut dia, dengan adanya dukungan dana ini, pihaknya berharap operasional industri hilir dan industri pengguna baja dapat terpulihkan seperti sedia kala. Hal ini juga bertujuan untuk menjaga pasar baja dalam negeri. “Jika pasar yang sebelumnya dipenuhi oleh produk Krakatau Steel tidak dapat dipasok, maka akan berpeluang dimasuki oleh produk impor,” ungkap Silmy.

Krakatau Steel mengapresiasi berbagai langkah strategis yang telah diambil pemerintah agar terus menjaga perekonomian nasional. Pemerintah menjaga momentum pemulihan ekonomi dalam mendukung sistem mitigasi penyelamatan ekonomi akibat pandemi Covid-19.

Sejalan dengan itu, kata Silmy, Krakatau Steel terus berkomitmen untuk menerapkan prinsip-prinsip good corporate governance, dan mematuhi anggaran dasar serta peraturan perundang-undangan yang berlaku dalam penggunaan dana investasi pemerintah tersebut. Dengan demikian, stimulus investasi pemerintah yang diberikan kepada perseroan mampu memberikan dampak positif terhadap penguatan industri baja dari hulu hingga hilir.

Sebagai informasi, dampak pandemi Covid-19 telah membuat kegiatan operasional dan produksi industri baja hulu, industri baja hilir dan industri pengguna sempat mengalami penurunan sebesar 30-50% karena rendahnya permintaan serta kemampuan modal kerja yang terbatas. “Pada kuartal I-2020 permintaan terhadap berbagai macam produk baja seperti HRC, CRC, wire rod, baja lapis seng, dan baja lapis aluminium seng mengalami penurunan dengan kisaran sebesar 10-50%. Akibat penurunan permintaan ini banyak operasional industri baja terpukul dan kesulitan cashflow,” jelas Silmy.

Apabila kondisi ini berlangsung secara berkepanjangan, maka terdapat potensi produsen hilir dan produsen pengguna menutup lini produksinya karena rendahnya utilisasi produksi. Dampak lainnya adalah potensi pemutusan hubungan kerja (PHK) massal dan masuknya produk impor untuk menggantikan suplai baja domestik.

Berdasarkan analisis kondisi keuangan perseroan, jika perseroan merilis OWK Rp 3 triliun, maka penjualan perseroan berpotensi meningkat dari 115.000 ton per bulan menjadi 170.000 ton per bulan.

Peningkatan penjualan dikarenakan perseroan memberikan relaksasi pembayaran kepada konsumen dari tenor 90 hari menjadi maksimal 180 hari, sehingga konsumen mendapatkan fleksibilitas pada cashflow untuk menjalankan bisnis pasca pandemi Covid-19.

Peningkatan penjualan akan berpengaruh kepada kondisi keuangan perusahaan dari segi rasio EBITDA/interest (ICR) yang melebihi dari 1 kali. Hal ini berarti modal kerja perseroan tidak tergerus oleh beban bunga yang dibayarkan. Selain itu, perbaikan pada rasio total loan/equity (DER) dari 3,93 kali menjadi 2,48 kali berkat transaksi penerbitan OWK.

Sebelumnya, RUPSLB Krakatau Steel memutuskan perubahan nomenklatur jabatan dua direksi, yakni Purwono Widodo yang sebelumnya menjabat sebagai direktur komersial diubah menjadi direktur pengembangan usaha. Lalu, Melati Sarnita yang sebelumnya menjabat sebagai direktur pengembangan usaha menjadi direktur komersial.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN