Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
PT Krakatau Steel Tbk (KRAS). Foto: Perseroan.

PT Krakatau Steel Tbk (KRAS). Foto: Perseroan.

Krakatau Steel Segera Terbitkan Obligasi Wajib Konversi Rp 3 Triliun

Rabu, 25 November 2020 | 09:59 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) segera mengeksekusi pencairan dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dari pemerintah melalui penerbitan obligasi wajib konversi (OWK) senilai Rp 3 triliun. Aksi ini diharapkan dapat mempertahankan kinerja operasional perseroan serta membantu industri hilir dan pengguna baja nasional.

Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim mengatakan, pencairan dana PEN sebenarnya wewenang Kementerian Keuangan sesuai dengan amanat Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 118/PMK.06/2020 tentang Investasi Pemerintah Dalam Rangka Program (PEN). Pihaknya berharap OWK bisa diterbitkan sebelum 2020 berakhir.

“Kami menjalankan sesuai prosedur. Selanjutnya, manajemen fokus memperbaiki kinerja, termasuk melanjutkan restrukturisasi anak-anak usaha,” jelas dia kepada Investor Daily di Jakarta, Selasa (24/11).

Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Krakatau Steel memberikan persetujuan penerbitan OWK dengan nilai makimum Rp 3 triliun dan bertenor 7 tahun. Berdasarkan prospektus, Krakatau Steel wajib mengkonversi OWK menjadi saham baru pada saat jatuh tempo, melalui penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (non-HMETD).

Sesuai rencana, harga konversi mengacu pada 90% dari rata-rata harga penutupan saham KRAS selama kurun waktu 25 hari bursa berturut-turut di pasar reguler atau pada tanggal penutupan bursa satu hari sebelum tanggal konversi, mana yang lebih rendah. Nantinya, besaran efek dilusi yang akan dialami oleh pemegang saham publik sehubungan konversi OWK akan ditentukan lebih lanjut pada saat OWK dikonversi menjadi saham.

Berdasarkan analisa kondisi keuangan perseroan, jika perseroan diberikan merilis OWK Rp 3 triliun, maka penjualan perseroan berpotensi meningkat dari 115.000 ton per bulan menjadi 170.000 ton per bulan.

Peningkatan penjualan dikarenakan perseroan memberikan relaksasi pembayaran kepada konsumen dari tenor 90 hari menjadi maksimal 180 hari, sehingga konsumen mendapatkan fleksibilitas pada cash flow untuk menjalankan bisnis pasca pandemi Covid-19.

Peningkatan penjualan akan berpengaruh kepada kondisi keuangan perusahaan dari segi rasio EBITDA/interest (ICR) yang melebihi dari 1 kali. Hal ini berarti modal kerja perseroan tidak tergerus oleh beban bunga yang dibayarkan. Selain itu, perbaikan pada rasio total loan/equity (DER) dari 3,93 kali menjadi 2,48 kali berkat transaksi penerbitan OWK.

Silmy menjelaskan, investasi pemerintah dalam rangka PEN merupakan bentuk nyata dukungan pemerintah terhadap industri baja nasional, yang memiliki dampak multiplier efek cukup signifikan.

Seperti diketahui, pandemi Covid-19 sangat mempengaruhi kegiatan operasional dan produksi di industri baja hulu, baja hilir dan pengguna sehingga mengalami penurunan sebesar 30% sampai dengan 50% karena rendahnya permintaan dan kemampuan modal kerja yang terbatas.

“Dampak Pandemi Covid-19 juga dirasakan oleh industri baja nasional, dimana pada kuartal I-2020 permintaan terhadap produk hot rolled coil ataupun cold rolled coil mengalami penurunan sebesar 40-50% dengan utlisasi sebesar 15-35%,” jelas dia.

Sementara untuk produk wire rod, lanjut Silmy, utilisasinya hanya 20-25% sedangkan baja lapis seng utilisasinya sebesar 10-20%. Tak ketinggalan, produk baja lapis aluminium seng mengalami penurunan permintaan sebesar 20-30% dengan tingkat utilisasi di angka 20-40%. Akibat penurunan permintaan tersebut banyak operasional industri baja nasional terpukul dan mengalami kesulitan cashflow.

Silmy menambahkan, jika kondisi ini terus berlangsung secara berkepanjangan, maka terdapat risiko produsen baja hilir dan produsen pengguna menutup lini produksinya. Risiko ini dipicu rendahnya permintaan dan utilisasi produksi yang berpotensi menyebabkan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal dan masuknya produk baja impor untuk menggantikan suplai baja domestik.

Sebagai informasi, industri logam dasar juga merupakan rumah bagi para pekerja sekitar 827,5 ribu tenaga kerja di Indonesia, dan mengalami rata-rata peningkatan sekitar 3% setiap tahunnya.

Sementara itu, RUPSLB Krakatau Steel juga memutuskan perubahan nomenklatur jabatan dua direksi, yakni Purwono Widodo yang sebelumnya menjabat sebagai direktur komersial diubah menjadi direktur pengembangan usaha. Lalu, Melati Sarnita yang sebelumnya menjabat sebagai direktur pengembangan usaha menjadi direktur komersial.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN