Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Surat utang. Foto ilustrasi: DAVID.

Surat utang. Foto ilustrasi: DAVID.

HARGA SUN DIPREDIKSI MENGUAT TERBATAS

Lelang Sukuk Negara bakal Kebanjiran Penawaran

Farid Firdaus, Senin, 10 Februari 2020 | 17:05 WIB

JAKARTA, investor.id – Harga surat utang negara (SUN) diprediksi menguat terbatas selama pekan ini di tengah perhatian pelaku pasar terhadap perkembangan Virus Korona. Sementara itu, lelang surat berharga syariah negara (SBSN) atau sukuk negara yang dijadwalkan pada Selasa (11/2) diperkirakan bakal kembali kebanjiran penawaran.

Associate Director Fixed Income PT Anugerah Sekuritas Ramdhan Ario Maruto mengatakan, penguatan SUN selama Februari ini masih terbuka lebar, yang sebelumnya tercermin pada reli penuh sepanjang pekan lalu. Imbal hasil (yield) tenor 10 tahun pun terlihat melanjutkan tren penurunan seiring meredanya tekanan eksternal.

“Kami memperkirakan yield SUN 10 tahun akan bergerak dalam rentang yang sempit pekan ini, yaitu 6,5-6,6%. Investor asing kemungkinan akan terus masuk ke pasar obligasi sebelum Maret nanti ada potensi mereka profit taking,” jelas dia kepada Investor Daily di Jakarta.

Ramdhan menambahkan, lelang SBSN pekan ini berpeluang meraih penawaran yang tinggi dari para investor dengan potensi di atas Rp 50 triliun. Prediksi ini berkaca pada lelang perdana SBSN pada 14 Januari lalu yang penawarannya menembus Rp 59,14 triliun.

Sesuai rencana, pemerintah melalui Direktorat Jendral Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) akan melelang empat seri SBSN yang masing-masing jatuh tempo 12 Agustus 2020, 15 Januari 2022, 15 Oktober 2024, dan 15 April 2043. Pemerintah mematok target indikatif lelang sebesar Rp 7 triliun.

Secara terpisah, Associate Director Head of Research and Investment PT Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus memprediksi, yield SUN akan bergerak bervariatif selama pekan ini, yakni tenor 5 tahun dengan rentang 5,9-6,05%, tenor 10 tahun berkisar 6,05-6,6%, tenor 15 tahun pada rentang 7,05-7,15%, dan tenor 20 tahun berpotensi pada kisaran 7,28-7,4%.

Menurut dia, meskipun animo lelang masih tinggi, investor asing mulai sedikit berhati hati untuk masuk kembali ke pasar obligasi dalam negeri. Hal ini lantaran semakin meningkatnya ketidakpastian mengenai virus korona yang masih belum ada penangkalnya.

Di sisi lain, kesepakatan dagang Amerika Serikat dan Tiongkok sebenarnya siap untuk dijalankan. Namun, kata Nico, pihaknya melihat masih merupakan sesuatu hal yang mustahil apabila Tiongkok memaksakan kehendaknya untuk tetap menjalankan kesepakatan saat kondisi saat ini.

“Memang benar komitmen sangat penting, namun melihat situasi dan kondisi saat ini ada baiknya Tiongkok dapat menahan diri karena kalau tidak, hal tersebut sama saja menyakiti perekonomian mereka ke depannya,” jelas dia.

Sementara itu, inflasi AS akan menjadi perhatian utama pelaku pasar pekan ini. setelah sebelumnya pelan tapi pasti, inflasi AS mengalami kenaikkan. Hal ini merupakan sesuatu hal yang positif, karena inflasi tersebut sesuai dengan proyeksi dari Bank Sentral The Fed. Selain itu, AS juga akan merilis data penjualan ritel, dan produksi indutri yang turut menjadi perhatian utama para pelaku pasar.

Nico menambahkan, data Produk Domesti Bruto (PDB) Eropa juga akan muncul pekan ini. Pihaknya menilai, di antara stimulus yang dilakukan oleh Bank Sentral Eropa untuk mendorong inflasi dan pertumbuhan ekonomi, data PDB menjadi penantian untuk mengetahui sejauh mana efek kebijakan moneter tersebut.  

Lebih lanjut, Tiongkok yang memilih untuk menunda data ekonomi berpotensi memberikan sentimen negatf terhadap pasar. “Ini menjadi salah satu perhatian kita, namun alasannya dapat kita pahami agar pasar Tiongkok dapat lebih terjaga stabilitasnya untuk saat ini,” jelas Nico.

Untuk sentimen dalam negeri, data defisit transaksi berjalan Indonesia akan menjadi perhatian utama, apalagi kali ini diperkirakan data tersebut akan mengalami penurunan kembali dibanding bulan sebelumnya.

Nico menyarankan kepada investor SUN untuk mengubah portfolio obligasi dengan memperbanyak obligasi berjatuh tempo pendek untuk mengurangi tingkat volatilitas yang terjadi. Perbandingannya 70% obligasi jangka pendek, dan 30% obligasi jangka panjang. Selain itu, memilih obligasi dengan kupon besar juga disaranan menjadi salah satu strategi saat ini.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA