Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pegawai memantau pergerakan surat utang negara (SUN) di Treasury Room OCBC NISP, Jakarta.  Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Pegawai memantau pergerakan surat utang negara (SUN) di Treasury Room OCBC NISP, Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Lelang SUN Bisa Tarik Penawaran Hingga Rp 40 Triliun

Senin, 22 Februari 2021 | 04:28 WIB
Ghafur Fadillah

JAKARTA, investor.id  - Harga Surat Utang Negara (SUN) pada pekan ini diperkirakan bergerak menguat seiring dengan tingginya tingkat ketidakpastian dari pasar akibat pandemi dan US Treasury. Adapun imbal hasil pada tenor 10 tahun diproyeksikan pada rentang 6,2% sampai 6,25%.

Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia Ramdhan Ario Maruto menjelaskan, efek vaksinasi saat ini masih belum sesuai dengan ekspektasi pasar. Kondisi ini meningkatkan ketidakpastian.

“Meski demikian, lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) yang akan digelar dalam waktu dekat masih menjadi instrumen investasi yang menarik bagi pasar, lantaran suku bunga acuan yang rendah dan juga likuiditas perbankan yang masih tinggi,” jelasnya kepada Investor Daily, akhir pekan lalu.

Untuk diketahui pada tanggal 23 Februari mendatang pemerintah Indonesia berencana menggalang dana untuk pemenuhan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) melalui SBSN. Adapun target indikatif yang diincar sebesar RP 12 triliun yang dibagi dalam 6 seri yakni SPN-S bertenor 10 Agustus 2021, PBS027 15 Mei 2023, PBS017 15 oktober 2025, PBS029 15 Maret 2034, PBS004 15 februari 2037 dan PBS028 dengan jatuh tempo 15 Oktober 2046.

“Dalam lelang kali ini pemerintah dana yang masuk berpotensi mencapai Rp 20 triliun, dengan seri pendek yang akan didominasi oleh perbankan dan seri panjang oleh dana pensiun dan asuransi,” ujarnya.

Pefindo. Foto: Majalah Investor/UTHAN A RACHIM
Pefindo. Foto: Majalah Investor/UTHAN A RACHIM

Secara terpisah Head of Economics Research Pefindo Fikri C Permana mengatakan, Secara fundamental imbal hasil SUN saat ini masih memberikan prospektif yang cerah bagi investor dengan rentang di antara 6,5% hingga 6,7%. Menurutnya penguatan mata uang rupiah dapat menjadi harapan utama yang dapat meningkatkan harga surat utang dan menurunkan yield, di samping suku bunga yang sedang rendah.

Sedangkan sentimen global yang pengaruhi pergerakan harga surat utang yakni kemampuan daya bayar pada utang terhadap negara-negara yang mengalami perlambatan pemulihan ekonomi akibat peningkatan jumlah kasus terpapar covid-19 yang memicu pemberlakukan lockdown. Hal tersebut mempengaruhi pertimbangan investor.

“Dana yang masuk bisa mencapai Rp 20 sampai Rp 25 triliun, mengingat lelang SBSN para investor konvensional juga dapat memiliki instrumen ini berkat underlying yang lebih pasti sehingga meminimalkan risiko,” kata dia.

Menurut dia, seri di bawah 5 tahun akan menjadi pilihan dari para investor perbankan untuk menghindari mismatch cash flow instrument seri panjang, selain itu perbankan memiliki struktur pembiayaan yang sama seperti pada produk deposito dan lainya. Sedangkan dana pensiun dan asuransi akan jadi pilihan dana pensiun.

“Menariknya, Bank Indonesia (BI) juga berpotensi masuk pada SBSN sebagai upaya burden sharing pada seri jangka panjang. Hal ini juga menjadi kepentingan dari BI untuk menurunkan imbal hasil pada semua tenor,” paparnya.

Maximilianus Nico Demus. Foto: IST
Maximilianus Nico Demus. Foto: IST

Sementara itu, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan,  imbal hasil  untuk rentang 5 tahun bergerak direntang 5.05% – 5.15% dengan potensi menurun. Kemudian 10 tahun pada rentang 6.60% hingga 6.70 %, 15 tahun pada 6.20% – 6.35% dan 20 tahun berkisar  6.70% sampai 6.85%.

Total penawaran yang masuk diperkirakan berkisar Rp 25 triliun sampai Rp 40 triliun, seri obligasi jangka pendek akan lebih digemari untuk meredam volatilitas pasar. Namun, tidak menutup kemungkinan obligasi jangka panjang juga akan dipilih untuk memaksimalkan keuntungan.

“Tetap berhati-hati dan lakukan strategi yang tepat di tengah volatilitas yang kian meninggi. Buy and hold merupakan sebuah pilihan,” pungkasnya.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN