Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi rapat. Foto: rawpixel (Pixabay)

Ilustrasi rapat. Foto: rawpixel (Pixabay)

Medco akan Rilis Obligasi Global US$ 800 Juta, ABM Investama US$ 200 Juta

Kamis, 22 Juli 2021 | 06:15 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) berencana menerbitkan obligasi global (global bond) senilai US$ 800 juta pada tahun ini. Sementara itu, emiten lainnya, PT ABM Investama Tbk (ABMM) juga akan merilis global bond minimal sebesar US$ 200 juta.

Rencana obligasi global ABM Investama terungkap dalam laporan Fitch Ratings. ABM yang merupakan perusahaan energi terintegrasi akan menerbitkan obligasi global minimal US$ 200 juta untuk membayar (refinancing) obligasi global yang akan jatuh tempo senilai US$ 350 juta.

Fitch Ratings memberikan peringkat B+ dengan adanya pengajuan surat utang tersebut. “Pengajuan penerbitan global bond ini akan menjadi jalan satu-satunya dalam mengatasi kewajiban utang jatuh tempo ABM sebesar US$ 350 juta pada 2022, karena kami meyakini perusahaan tidak memiliki arus kas yang memadai untuk melakukan pembayaran tersebut," tulis Fitch, Rabu (21/7).

Hingga Maret 2021, ABM memiliki kas dan setara kas sebesar US$ 117 juta dengan utang bertenor pendek sebesar US$ 40 juta. Likuiditas jangka pendek perseroan terdiri atas pinjaman yang belum ditarik sebesar US$ 95 juta dan pinjaman modal kerja yang diperoleh pada semester I-2021 dengan jatuh tempo 12 bulan.

Menurut Fitch, tekanan untuk melakukan refinancing utang sedikit menurun setelah ABM mendapatkan perpanjangan pinjaman jangka panjang dari dua bank sebesar US$ 200 juta, yang bisa digunakan untuk refinancing obligasi global saat ini. Meski demikian, keputusan perpanjangan ini sangat bergantung pada beberapa kondisi, salah satunya nilai penerbitan global bond baru harus mencapai minimal US$ 200 juta.

Sebelumnya, rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) menyetujui rencana ABM untuk menerbitkan global bond dengan nilai maksimal US$ 400 juta. Direktur ABM Investama Adrian Erlangga mengungkapkan, dana dari hasil emisi global bond akan digunakan untuk membayar global bond senilai US$ 350 juta yang akan jatuh tempo pada Agustus 2022. “Jadi, kami masih punya cukup waktu untuk mengeluarkan global bond ini pada momentum yang pas," kata dia.

Surat utang tersebut menawarkan bunga 9,5% dan jatuh tempo pada 2026. Surat utang akan dijamin tanpa syarat dan tanpa dapat ditarik kembali dengan jaminan perusahaan. Surat utang juga dijamin penuh oleh jaminan perusahaan (corporate guarantee) oleh perusahaan terkendali.

Sementara itu, Medco Energi yang juga merupakan perusahaan energi terintegrasi akan menggunakan dana hasil emisi obligasi global US$ 800 juta untuk mendanai modal kerja, termasuk akuisisi perusahaan lain. Dana tersebut juga akan dipakai untuk membayar kewajiban jatuh tempo.

Perseroan belum menentukan tingkat kupon yang akan diberikan kepada investor dan sedang mendiskusikan dengan pihak terkait. Sementara, untuk jatuh tempo adalah tujuh tahun. Perseroan akan melaksanakan RUPS pada 26 Agustus 2021 untuk meminta persetujuan emisi obligasi global.

Selain persetujuan penerbitan obligasi, perseroan juga meminta persetujuan atas rencana penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue. Medco berencana menerbitkan sebanyak 12,5 miliar saham atau sekitar 33,2% dari modal disetor setelah aksi korporasi tersebut.

Jangka waktu antara tanggal persetujuan RUPS sehubungan dengan PUT IV tersebut sampai dengan efektifnya pernyataan pendaftaran tidak lebih dari 12 bulan. Perseroan berencana untuk melaksanakan penambahan modal dalam periode 12 bulan tersebut. Adapun pemegang saham yang tidak melaksanakan haknya akan terdilusi maksimum sebesar 33%.

Sesuai rencana, perseroan akan menggunakan dana hasil rights issue untuk belanja modal perseroan dan anak usaha, termasuk untuk akuisisi perusahaan lain, serta pelunasan utang perseroan.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN