Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi investasi.

Ilustrasi investasi.

Mirae: Emisi Obligasi Bisa Tembus Rp 100 Triliun

Jumat, 7 Mei 2021 | 06:07 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia memproyeksikan total emisi obligasi korporasi bisa mencapai Rp 102 triliun tahun ini. Target tersebut meningkat 17% dari pencapaian tahun 2020 yang sebanyak Rp 87 triliun.

Fixed Income Research Mirae Asset Sekuritas Dhian Karyantono mengatakan, peningkatan penerbitan surat utang tersebut didorong kenaikan kebutuhan dana untuk refinancing oleh sejumlah korporasi, dibandingkan tahun sebelumnya.

"Kami memperkirakan ada penerbitan obligasi korporasi sekitar Rp 20 triliun per kuartalnya, sehingga totalnya bisa mencapai Rp 102 triliun hingga akhir tahun," jelas dia dalam acara Mirae Asset Day secara virtual, Kamis (6/5).

Peningkatan emisi surat utang korporasi, terang dia, juga didorong tren bunga rendah yang mendorong korporasi untuk menerbitkan obligasi sebagai sumber pendanaan, dibandingkan pembiayaan dari bank. Emiten sektor keuangan, multifinance dan perbankan, akan mendominasi nilai penerbitan obligasi tahun ini.

Sementara itu, sampai April 2021, Mirae Asset Sekuritas mencatat penerbitan obligasi korporasi meningkat 53,76%, dibandingkan akhir 2020 menjadi Rp 23,84 triliun. Penerbitan obligasi ini, ungkap Dhian cenderung didominasi oleh obligasi bertenor pendek dengan rating di atas A.

Institusi keuangan masih mendominasi penerbitan obligasi hingga April 2021, yakni sebesar 28%. Kemudian diikuti oleh sektor infrastruktur serta pulp and paper sebanyak 16 dan 14%. Selain itu, sektor lainnya yang mendominasi adalah sektor chemical, konstruksi bangunan, perkebunan dan lainnya.

Dari segi imbal hasil (return), obligasi korporasi mencatatkan return 2,76% pada April 2021. Return ini lebih tinggi daripada return obligasi pemerintah yang sempat mengalami return negatif pada 2021.

"Hal ini disebabkan oleh karakteristik dari obligasi korporasi yang jauh lebih likuid, kepemilikan investor asing yang lebih rendah dan kupon yang lebih tinggi," ujar dia.

Dibandingkan dengan aset kelas yang lain, return obligasi korporasi ini juga tercatat paling tinggi pada 2021. Aset kelas yang lain seperti deposito bank hanya mencatatkan return sekitar 0,5%, saham sekitar 2%, dan emas sekitar 0,5%. Sedangkan obligasi pemerintah masih mencatatkan return negatif.

Sebelumnya, PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memperkirakan penerbitan obligasi perbankan akan marak tahun ini. Hal ini seiring dengan mulai pulihnya penyaluran kredit perbankan.

Analis Divisi Pemeringkatan Jasa Keuangan PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Danan Dito menjelaskan, adanya pandemi Covid-19 membuat perbankan sedikit menahan penyaluran kredit. Namun saat ini bank mulai menunjukkan tanda-tanda ingin meningkatkan penyaluran kredit.

Danan mengungkapkan, untuk mendukung penyaluran kredit itu, perbankan tentunya membutuhkan pendanaan. Penerbitan obligasi, menurut Danan menjadi salah satu pilihan. Pasalnya, meski bank memiliki likuiditas yang melimpah, namun dana yang dimiliki perbankan merupakan tenor pendek sehingga akan terjadi mismatch dengan penyaluran kredit.

"Karena itu dibutuhkan penerbitan obligasi sebab selain bisa berfungsi untuk ekspansi, tetapi juga bisa untuk reprofiling mismatch kredit dan pendanaan," kata dia.

Adapun berdasarkan mandat yang diterima Pefindo pada 15 April 2021 terdapat 3 bank yang akan menerbitkan surat utang dengan nilai Rp 2,4 triliun. Selain perbankan, ada beberapa sektor lain yang akan menerbitkan surat utang tahun ini seperti industri pembiayaan sebanyak 3 perusahaan dengan nilai Rp 6,3 triliun.

Selain industri pembiayaan, multifinance yang bergerak dalam pembiayaan konsumer juga tercatat akan banyak menerbitkan surat utang, yakni sebanyak 4 perusahaan dengan nilai Rp 5,8 triliun. Selanjutnya adalah perusahaan konstruksi sebanyak 3 perusahaan dengan nilai Rp 5,5 triliun. Sementara sisanya berasal dari berbagai sektor. Sementara secara total, sampai 15 April 2021, Pefindo telah menerima mandat surat utang sebesar Rp 45,27 triliun.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN