Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menara Telekomunikasi. Foto ilustrasi: Investor Daily/ANTARA

Menara Telekomunikasi. Foto ilustrasi: Investor Daily/ANTARA

SEGERA STOCK SPLIT 1:5

Obligasi Global Tower Bersama Meluncur Semester I-2020

Farid Firdaus, Rabu, 30 Oktober 2019 | 18:55 WIB

JAKARTA, investor.id – PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) berencana menerbitkan obligasi global (notes) senilai US$ 650 juta pada semester I-2020. Perseroan akan menggunakan dana hasil emisi surat utang itu untuk pelunasan kembali (refinancing) pinjaman revolving.

Direktur Keuangan Tower Bersama Infrastructure Helmy Yusman Santoso mengatakan, setelah mendapat restu pemegang saham untuk aksi penerbitan notes, pihaknya akan melihat kondisi pasar terlebih dahulu. Namun, aksi korporasi ini dipastikan tidak dilakukan menjelang akhir 2019.

“Kami kemungkinan akan menunjuk bankers untuk penerbitan ini pada semester I tahun depan. Dan, kami melakukan penerbitan secara langsung atau bukan lewat anak usaha supaya biayanya lebih efisien,” jelas Helmy, usai rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) di Jakarta, Rabu (30/10).

Menurut Helmy, pihaknya belum menentukan berapa besar pinjaman yang akan dilunasi kembali atau dipercepat pembayarannya. Perseroan bakal bernegosiasi terlebih dahulu dengan para kreditur. “Target penerbitan global bond itu maksimalnya US$ 650 juta dengan tenor paling lama 10 tahun dan bunga maksimal 6%. Ada kemungkinan nilainya lebih rendah dan tenornya lebih pendek,” jelas dia.

Selain obligasi global, lanjut dia, perseroan juga memiliki sumber lain untuk refinancing, yakni obligasi rupiah dalam program penawaran umum berkelanjutan (PUB) yang masih memiliki sisa plafon sekitar Rp 3 triliun.

Per 30 Juni 2019, Tower Bersama berserta anak usaha memiliki saldo surat utang sebelum dikurangi biaya pinjaman yang belum diamortisasi senilai Rp 8,56 triliun. Nilai itu terdiri atas surat utang berdenominasi dolar serta rangkaian penawaran obligasi berkelanjutan.

Sementara itu, pada utang sindikasi, perseroan juga tercatat memiliki pinjaman hingga Rp 22,81 triliun hingga semester I-2019. Total sindikasi tersebut berasal dari perjanjian kredit yang ditandatangani November 2014 senilai US$ 1 miliar, serta pinjaman revolving sebesar US$ 200 juta yang diraih Maret 2017. Selanjutnya, pada Juni 2019, Tower Bersama pun mengantongi pinjaman  revolving senilai US$ 375 juta.

Stock Split

RUPSLB Tower Bersama juga menyetujui rencana pemecahan nilai nominal saham (stock split) dengan rasio 1:5, yang akan mengubah nilai nominal saham perseroan dari Rp 100 per saham menjadi Rp 20 per saham.

Menurut Helmy, nantinya jumlah saham beredar perseroan akan berubah dari 4,53 miliar saham menjadi 22,65 miliar saham. Perseroan menargetkan stock split bisa dilaksanakan pada November 2019. “Kami berharap likuiditas perdagangan saham di bursa akan meningkat dengan stock split ini,” ujar dia.

Sementara itu, porsi publik yang memiliki saham Tower Bersama dipastikan bertambah setelah pemegang saham utama perseroan, yakni PT Wahana Anugerah Sejahtera, melakukan aksi penjualan saham senilai Rp 1,37 triliun pada 2 Oktober 2019.

Ketika itu, Wahana Anugerah melepas sebanyak 212,15 juta saham pada harga Rp 6.477 per saham. Jumlah saham yang dilepas tersebut setara 4,68% saham. Alhasil, kepemilikan Wahana Anugerah menyusut dari 1,53 miliar atau 33,84% menjadi 1,32 miliar saham atau 29,15%. “Kalau dari kami melihat aksi pemagang saham tersebut lebih kepada adanya investor baru yang dari pemegang publik,” kata Helmy.

Dari sisi ekspansi, lanjut Helmy, pihaknya memprioritaskan untuk tumbuh secara organik. Namun, perseroan juga tidak menutup kemungkinan untuk mengakuisisi menara telekomunikasi, apabila ada pihak yang menawarkan dengan harga menarik.

Tahun ini, perseroan menargetkan mampu memiliki tambahan 1.000 menara baru dengan 3.000 tenants. Perseroan tercatat memiliki 26.713 penyewaan dan 15.344 site telekomunikasi hingga Juni 2019.

Site telekomunikasi milik perseroan terdiri atas 15.272 menara telekomunikasi dan 72 jaringan DAS. Dengan angka total penyewaan pada menara telekomunikasi sebanyak 26.641, maka rasio kolokasi (tenancy ratio) perseroan menjadi 1,74 atau naik dibandingkan kuartal I-2019 yang sebesar 1,71.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA