Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Utama Pefindo, Salyadi Saputra. Foto: Majalah Investor /UTHA A RACHIM

Direktur Utama Pefindo, Salyadi Saputra. Foto: Majalah Investor /UTHA A RACHIM

Pefindo

Obligasi Korporasi Tenor Pendek Masih Mendominasi

Parina Theodora, Jumat, 25 Oktober 2019 | 19:47 WIB

Jakarta - PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mencatat obligasi korporasi jangka pendek-menengah masih mendominasi tenor obligasi korporasi. Data Pefindo per September 2019 mencatat sebesar lebih dari 70% dari total nilai penerbitan baru surat utang korporasi berjangka waktu menengah-pendek. Obligasi tenor tiga tahun mengambil porsi lebih dai 40%, sedangkan tenor lima tahun mencapai 26%.

Sementara obligasi berjangka waktu tujuh tahun atau lebih hanya mengambil porsi kurang dari 11%. Disampaikan Direktur Utama Pefindo Salyadi Saputra, banyak perusahaan-perusahaan di Indonesia lebih memilih menerbitkan surat utang jangka waktu pendek. Hal ini menurutnya, disebabkan oleh tingginya risiko obligasi tenor panjang.

“Semakin panjang tenor suatu surat utang, otomatis risiko semakin besar. Jika investor disuruh memilih tenor satu atau dua tahun, pasti memilih satu tahun karena mereka takut. Karena risiko lebih besar maka investor ini menuntut return yang lebih besar juga,” jelas Salyadi.

Menurutnya, dengan tenor sedang saja, investor sudah meminta kupon yang tinggi. Sehingga, jika tenor surat utang semakin panjang maka akan memberatkan penerbit obligasi. Karena biaya akan menjadi tinggi dan kewajiban menjadi lebih panjang. Oleh karena itu, ia menambahkan, emiten obligasi lebih memilih tenor lima tahun untuk kemudian refinancing. Ia melihat inilah tantangan di pasar obligasi Indonesia.

“Dari segi tenor, rasanya agak sulit untuk berharap banyak bahwa akan tenor lebih panjang lagi. Kalau dari penerbit kalau minat investor banyak ke tenor panjang maka akan banyak emiten tertarik menerbitkan obligasi. Dengan catatan, bunganya jangan terlalu tinggi,” imbuhnya.

 

Sumber : Majalah Investor

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA