Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pupuk Indonesia. Foto: IST

Pupuk Indonesia. Foto: IST

Obligasi Pupuk Indonesia bakal Laris Diborong Investor

Minggu, 21 Februari 2021 | 23:39 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – PT Pupuk Indonesia (Persero) menargetkan penawaran umum berkelanjutan (PUB) II tahap II senilai Rp 2,5 triliun rampung pada Maret 2021. Penawaran awal (bookbuilding) obligasi tersebut mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed) hingga lebih dari Rp 6 triliun.

Direktur Keuangan dan Investasi Pupuk Indonesia Eko Taufik Wibowo mengatakan, respons positif investor sudah terlihat selama masa penawaran awal yang telah dilakukan perseroan. Nantinya, obligasi teranyar itu siap dirilis dalam tiga seri, yakni tenor 3 tahun, 5 tahun dan 7 tahun. “Final tingkat kupon belum kami umumkan, karena masih menunggu persetujuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK),” kata dia kepada Investor Daily, Minggu (21/2).

Sesuai rencana, hasil emisi obligasi akan diserap untuk pembiayaan kembali (refinancing) pinjaman perbankan. Sebelumnya, Fitch Ratings telah menyematkan peringkat AAA untuk penerbitan obligasi Pupuk Indonesia. Obligasi ini bagian dari obligasi berkelanjutan II yang memiliki total plafon hingga Rp 8 triliun. Tahun lalu, Pupuk Indonesia menerbitkan tahap I dengan nilai emisi obligasi Rp 2,43 triliun. 

Peringkat nasional AAA menunjukkan peringkat tertinggi yang diberikan Fitch pada skala nasional untuk Indonesia. Peringkat ini diberikan kepada emiten atau surat utang dengan ekspektasi resiko gagal bayar yang relatif rendah. 

Fitch menilai, dukungan pemerintah Indonesia terhadap Pupuk Indonesia sangat kuat. Perseroan secara rutin menerima subsidi untuk produksi dan distribusi pupuk bersubsidi. Alokasi subsidi pupuk di APBN 2021 mencapai Rp 25,3 triliun untuk produksi 8,2 juta ton atau sekitar 14,4% dari total anggaran subsidi 2021 Indonesia. 

“Selain itu, ketahanan pangan juga merupakan salah satu prioritas pemerintah pada 2021, dengan alokasi anggaran mencapai Rp 99 triliun, naik lebih dari 20% dari 2020. Penjualan pupuk bersubsidi, termasuk pendapatan subsidi, berkontribusi lebih dari setengah total pendapatan Pupuk Indonesia,” tulis Fitch dalam keterangan tertulis, baru-baru ini.

Fitch tidak mengharapkan ada perubahan dalam skema subsidi Pupuk Indonesia. Perseroan sebelumnya telah merilis kebijakan ‘Kartu Tani’, yang akan menyederhanakan proses verifikasi, sebagai pelengkap dan bukan pengganti skema subsidi public service obligation (PSO). Pupuk Indonesia dinilai terus menerima subsidi langsung dari pemerintah untuk mengkompensasi perbedaan biaya ditambah dengan marjin yang telah ditentukan sebelumnya untuk penjualan pupuk bersubsidi. 

Secara nasional, tingkat penggunaan Kartu Tani hanya sekitar 9% pada akhir 2020, meskipun telah sebanyak 47% didistribusikan karena tantangan di lapangan masih ada. Fitch memprediksi free cash flow Pupuk Indonesia berpotensi tertekan seiring belanja modal (capital expenditure/capex) yang dapat mencapai titik tertinggi pada 2022 dan 2023 sekitar Rp 10 triliun.

Capex akan digunakan untuk membiayai proyek-proyek skala besar di beberapa anak perusahaan. Capex yang didanai pinjaman ini diperkirakan akan membuat net debt to EBITDA naik menjadi lebih dari 3,5 kali pada tahun-tahun tersebut. 

Pupuk Indonesia diperkirakan memiliki free cash flow yang membaik menjadi Rp 7 triliun pada 2020 dari Rp 3 triliun pada 2019. Hal ini lantaran belanja modal yang turun dan arus kas masuk dari modal kerja. “Perusahaan mengurangi belanja modal ketika pandemi Covid-19, dan hanya menghabiskan sekitar Rp 1,8 triliun hingga kuartal III-2020 dibandingkan periode sama tahun 2019 sebesar Rp 3,2 triliun,” tulis Fitch.

Fitch mengestimasi pertumbuhan pendapatan Pupuk Indonesia bisa membaik ke 2-3% secara jangka menengah. Kinerja perseroan akan didukung pertumbuhan volume pupuk non-subsidi, yang sebelumnya cukup stagnan pada 2020 karena pandemi. Alokasi subsidi 2021 yang baru-baru ini diumumkan akan meningkatkan volume penjualan pupuk bersubsidi Pupuk Indonesia. Namun, Fitch tidak mengekspektasikan pertumbuhan yang signifikan pada tahun-tahun berikutnya.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN