Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi perdagangan efek. Foto: Lorenzo Cafaro (Pixabay)

Ilustrasi perdagangan efek. Foto: Lorenzo Cafaro (Pixabay)

OJK: Pasar SBN Tunjukkan Perkembangan Positif

Thereis Love Kalla, Senin, 28 Oktober 2019 | 08:40 WIB

JAKARTA, investor.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan bahwa sepanjang tahun ini hingga pertengahan Oktober, pasar surat berharga negara (SBN) mencatatkan perkembangan yang positif.

“Sampai dengan 18 Oktober 2019, pasar SBN mencatat penurunan yield sebesar 83,0 bps dengan net buy investor non-residen sebesar Rp 145,4 triliun,” ungkap Deputi Komisioner Hubungan Masyarakat dan Manajemen Strategis OJK Anto Prabowo dalam keterangan resmi.

Adapun perkembangan terakhir dari perang dagang dan Brexit yang cukup positif telah mendorong aliran dana investor global masuk ke pasar keuangan emerging markets, termasuk Indonesia.

“Rapat Dewan Komisioner (RDK) OJK menilai, stabilitas sektor jasa keuangan hingga pekan keempat Oktober dalam kondisi terjaga di tengah perlambatan pertumbuhan perekonomian global. Intermediasi sektor jasa keuangan tercatat membukukan perkembangan yang stabil dengan profil risiko yang terkendali,” jelas Anto Prabowo.

Sementara itu, Kepala Makroekonomi dan Direktur Strategi Investasi PT Bahana TCW Investment Management (BTIM), Budi Hikmat menilai, proyeksi pasar finansial Indonesia hingga akhir tahun masih dibayangi dengan kondisi global. Dirinya mengaku optimistis terhadap prospek pasar modal tahun 2019 dan 2020 seiring dengan momentum situasi pasar global yang berdampak positif terhadap negara berkembang.

“The Fed dan European Central Bank (ECB) nampaknya mengikuti strategi Bank of Japan (BoJ) yang menggelontori likuiditas untuk mempermudah masyarakatnya yang menua dalam proses penurunan utang (de-leveraging). Saat ini, BoJ menguasai sekitar 45% SBN, jauh melebih ECB (22,4%) dan the Fed (12,9%),” ujar Budi Hikmat.

Lebih lanjut dia menuturkan, pelonggaran kebijakan moneter yang dilakukan bank sentral atau quantitave easing akal menjaga suku bunga global rendah lebih lama yang cenderung tidak memicu inflasi. “Kondisi seperti ini lebih menguntungkan investasi dalam surat berharga negara,” kata dia.

Adapun faktor likuiditas yang membuat investor asing lebih memilih aset SBN yang jelas kurang berisiko dengan imbal hasil yang lebih tinggi dibanding negara berkembang lainnya. Budi menilai peluang investasi dalam aset saham baru akan lebih jelas setelah yield SBN bertenor 10 tahun turun di bawah 7% dan ada indikasi penguatan daya beli.

Budi memproyeksikan, hingga akhir tahun, yield SBN 10 tahun berpeluang berada dalam rentang 6,8%-7% yang dipicu oleh arus masuk modal asing yang juga berpotensi memperkuat rupiah menguat di bawah Rp 14.000-an.

Generasi Milenial

Sementara itu, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) melakukan penjualan Surat Berharga Negara melalui Obligasi Negara Ritel (ORI)  dengan seri ORI016 yang diterbitkan secara online. Dengan kemudahan akses melalui online, diharapkan dapat lebih menarik generasi milenial untuk berinvestasi.

“Dengan tingkat bunga tetap sebesar 6,8% per tahun sampai dengan jatuh tempo pada 15 Oktober 2022, ORI016 dinilai sangat menguntungkan karena dapat diperdagangkan di pasar sekunder dan berpotensi memperoleh capital gain dengan pemesanan minimal Rp 1 juta,” ungkap Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Luky Alfirman.

Luky menambahkan, melalui ORI016 pemerintah mengincar dana sebesar Rp 9 triliun yang rencananya akan dialokasikan untuk Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

“Penerbitan SBN kita itu utamanya untuk bujet financing, artinya untuk APBN kita. APBN kita saat ini didominasi untuk peningkatan sumber daya manusia (SDM), jadi utamanya pembiayaan ini akan digunakan untuk pengembangan SDM Indonesia, sesuai dengan visi presiden yang tahun ini maupun lima tahun ke depan,” ujar Luky.

Menurut Luky, sifat ORI016 ini berbeda dari penerbitan Savings Bond Ritel (SBR) 008 pada September 2019. "Bulan lalu kita menerbitkan SBR 008, sifatnya tidak bisa diperdagangkan semua, ada batasannya dan tenornya selama dua tahun. Sementara, ORI bisa diperdagangkan dan lebih likuid," tandasnya.

Adapun Luky menuturkan, hasil dari penerbitan SBR secara online selama ini sangat menggembirakan. Dari segi jumlah investor, sekitar 52% dari pembeli SBR ritel merupakan generasi millenial.

“Kami sangat berharap tren ini akan berlanjut terus, milenial sadar berinvestasi, dari segi income juga mereka punya income yang lebih baik. Jadi, instrumen ini bisa jadi sarana investasi buat mereka,” ujar Luky.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA