Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Surat utang. Foto ilustrasi: DAVID

Surat utang. Foto ilustrasi: DAVID

Pasar Surat Utang Dibayangi Sentimen UU Cipta Kerja, Begini Prediksinya

Senin, 12 Oktober 2020 | 07:32 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id — Harga surat utang negara (SUN) sepanjang pekan ini diproyeksi bergerak bervariasi dengan kecenderungan menguat. Sementara, lelang surat berharga syariah negara (SBSN) dengan target indikatif Rp 10 triliun diprediksi tercapai. 

Head of Economy Research Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Fikri C Permana mengatakan, pergerakan harga SUN pekan ini dipengaruhi oleh sentimen Omnibus Law UU Cipta Kerja yang masih berlanjut. “Harga SUN akan lebih baik dan yield lebih rendah, tapi tergantung domestik juga, karena Omnibus Law ini belum terlihat seperti apa,” ujar dia kepada Investor Daily di Jakarta, akhir pekan lalu.

Sementara sentimen dari global, pergerakan harga SUN akan dipengaruhi oleh stimulus Amerika Serikat (AS) yang diproyeksikan menurunkan harga yield secara global. Sebab, hal ini mendorong jumlah money supply dari dolar AS yang akan lebih banyak dan juga akan mendorong yield US treasury ke arah lebih rendah. 

Pada Selasa (13/10), pemerintah melalui Direktorat Jendral Pengelolaan Pembiayaan Resiko (DJPPR) Kementrian Keuangan akan melelang 5 seri Surat Berharga Syariah Negara. Masing-masing jatuh tempo pada 14 April 2021, 15 Mei 2023, 15 Oktober 2024, 15 Mei 2033, 15 Oktober 2046. Pemerintah memasang target indikatif sejumlah Rp 10 triliun. 

Fikri menjelaskan bahwa target indikatif Rp 10 triliun akan tercapai, sebab profil investor saat ini mayoritas dari domestik, seperti perbankan, taspen dan asuransi likuiditasnya masih ada. 

Namun demikian, Fikri menyampaikan bahwa pihaknya belum melihat dampak positif dari omnibus law ataupun program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) terhadap SBSN. “Kalau melihat bargain sharing, sejauh ini kami melihat agak khawatir karena disaat yang sama jumlah cadangan devisa menurun,” ujar dia. 

Fikri menambahkan bahwa kekuatan Bank Indonesia (BI) untuk menyerap SBSN akan terbatas, sebab selama ini BI lebih banyak menjadi investor yang seharusnya menjadi standby buyer atau pembeli terakhir.

Associate Director of  Research and Investment PT Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan, lelang pekan ini berpotensi untuk mendatangkan total penawaran dengan rentang Rp 35-50 triliun. Secara garis besar, pergerakan pasar obligasi masih akan flat pekan ini.

Lelang pasar obligasi masih akan didominasi oleh surat utang jangka pendek. Namun, obigasi jangka menengah juga akan mencuri perhatian dengan tingkat kupon yang tinggi, sehingga menarik investor obligasi yang menyukai aksi buy and hold

Nico menambahkan, pertemuan Bank Indonesia yang diadakan pada Senin akan memberikan beragam sifat untuk pelaku pasar dan investor. Pihaknya melihat tidak adan penurunan tingkat suku bunga, naum kebijakan-kebijakan yang mendukung pemulihan lebih lanjut akan sangat dinantikan. “Sebab itu, bagus atau tidaknya lelang pekan ini tergantung dari keputusan Bank Indonesia atas apa yang akan mereka lakukan ke depannya,” ujar dia.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN