Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi perdagangan efek. Foto: Lorenzo Cafaro (Pixabay)

Ilustrasi perdagangan efek. Foto: Lorenzo Cafaro (Pixabay)

Pasar Surat Utang Dikepung Sentimen Negatif, Ini Saran untuk Pemodal

Gita Rossiana, Senin, 2 Desember 2019 | 08:17 WIB

JAKARTA, investor.id – Harga surat utang negara (SUN) berpotensi melemah pada perdagangan pekan ini karena banyaknya sentimen negatif dari eksternal. Investor disarankan untuk tetap memegang surat utang bertenor pendek di tengah kondisi tersebut.

Associate Director Fixed Income PT Anugerah Sekuritas Indonesia Ramdhan Ario Maruto menjelaskan, sentimen eksternal yang mempengaruhi pasar surat utang domestik masih berasal dari perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok. “Imbal hasil (yield) SUN kemungkinan bergerak pada rentang 7,05-7,2% selama pekan ini,” kata dia kepada Investor Daily di Jakarta.

Ramdhan menegaskan, di tengah kondisi ini, investor punya kesempatan untuk profit taking. Namun, ada sebagian besar investor yang wait and see, sehingga kondisi likuiditas di pasar terpengaruh dan bisa melemah.

Kendati banyak dipengaruhi oleh kondisi eksternal, namun sentimen domestik ada juga yang mempengaruhi. Ramdhan menyebutkan, aksi penutupan reksa dana (redemption) beberapa waktu terakhir banyak mempengaruhi kepercayaan investor ke pasar obligasi. "Pemodal disarankan masuk ke obligasi jangka pendek dan menengah," terang dia.

Sementara itu, Associate Director, Head of Research and Investment PT Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico juga melihat pengaruh eksternal banyak mempengaruhi pergerakan SUN pekan ini. Pertemuan antara Tiongkok dan AS, menurut dia, terus terkendala dan kemungkinan kecil untuk menemui kesepakatan.

Selain itu, Tiongkok dan Eropa akan merilis data-data perekonomian. Data yang akan dirilis adalah indeks PMI Manufaktur (Manufacturing PMI) dan PMI sektor Jasa (services PMI). Menurut dia, data perekonomian Tiongkok menjadi penting untuk menjadi tolok ukur Tiongkok dalam menghadapi tekanan dari AS. "Sedangkan data Eropa untuk melihat langkah Lagarde dalam menciptakan solusi untuk mengatasi perekonomian Eropa yang terus melambat," jelas dia.

Sentimen eksternal yang bakal paling dinanti adalah pertemuan The Fed. Investor, menurut Nico, ingin melihat kebijakan The Fed apakah berhenti menurunkan suku bunga atau berlanjut, serta pandangan mereka terhadap perekonomian tahun depan.

Di dalam negeri, hal yang akan mempengaruhi investor adalah data inflasi yang diprediksi kembali menurun. Selain itu, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) juga menjadi sorotan investor untuk melihat kebijakan lanjutannya setelah penurunan suku bunga acuan dan pelonggaran kebijakan makro prudensial.

Di tengah sentimen tersebut, Nico memperkirakan yield SUN akan bergerak naik pada level 6,5-6,55% untuk tenor lima tahun dan 7,1-7,15% untuk tenor 10 tahun. Investor juga disarankan untuk tetap menggenggam obligasi jangka pendek dengan persentase 70% dan sisanya obligasi jangka panjang.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA