Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi foto pasar surat utang. (sumber: Antara)

Ilustrasi foto pasar surat utang. (sumber: Antara)

Pasar Surat Utang Terkerek Sinyal 'Dovish' The Fed

Farid Firdaus, Senin, 28 Oktober 2019 | 09:00 WIB

JAKARTA, investor.id – Harga surat utang negara (SUN) diproyeksikan menguat sepanjang pekan ini yang diiringi penurunan imbal hasil (yield). Optimisme investor masih melanda pasar obligasi menjelang pertemuan Bank Sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve, pada 29-30 Oktober.

Associate Director Fixed Income PT Anugerah Sekuritas Indonesia Ramdhan Ario Maruto mengatakan, sinyal penurunan suku bunga The Fed cukup kuat, sehingga berpeluang membuat aliran dana asing (capital inflow) terus mengalir ke pasar obligasi pemerintah pekan ini.

“Pekan lalu, Bank Indonesia sudah menurunkan suku bunganya, lalu ada euforia Kabinet Indonesia Maju yang menggairahkan pasar. Sementara, pekan ini lebih kepada faktor eksternal,” kata Ramdhan kepada Investor Daily di Jakarta, Minggu (27/10).

Pada 29 Oktober, pemerintah akan melangsungkan lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) pada lima seri. Kali ini, pemerintah menetapkan target indikatif  sebesar Rp 7 triliun. Menurut Ramdhan, penawaran yang masuk dari investor terhadap seri tersebut diperkirakan cukup tinggi dengan potensi sekitar Rp 20 triliun.

Secara terpisah, Associate Director Head of Research and Investment PT Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus memprediksi, yield obligasi memiliki kecenderungan besar mengalami penurunan selama pekan ini. Yield seri bertenor 5 tahun bakal bergerak pada kisaran 6,45%-6,55% dan yield seri 10 tahun cenderung melaju pada rentang 7,05%-7,10%. Sementara itu, yield seri 15 tahun ditargetkan berkisar 7,45%-7,55%, sedangkan yield seri 20 tahun berpotensi pada kisaran 7,70%-7,77%.

Sejumlah sentimen global mendominasi sentimen pasar selama pekan ini. Semisal, kata Nico, para pejabat The Fed melihat ada potensi pemangkasan tingkat suku bunga yang semakin terbuka lebar pada pertemuan The Fed pada pekan ini.

“Tentu hal ini akan menambah gelombang optimisme di pasar, karena bakal menjadi booster bagi indeks global untuk turut menghijau. Meskipun kami melihat bahwa pemangkasan ini, mungkin akan menjadi yang terakhir tahun ini,” jelas dia.

Selanjutnya, sentimen dari pemerintah AS dan Tiongkok yang mengatakan bahwa surat kesepakatan antara keduanya pada dasarnya sudah selesai. Kini, kedua negara digdaya ini tinggal menyelesaikan beberapa detail yang terkait dengan kesepakatan menjelang KTT Ekonomi Asia Pasifik yang akan dihelat pada tanggal 16-17 November.

“Mungkin pada KTT tersebut akan menjadi momen bersejarah, karena apabila kesepakatan tersebut ditanda tangani akan membuat optimisme hubungan Tiongkok dan AS mesra kembali. Kemudian, tidak menutup kemungkinan akan ada fase kedua dari kesepakatan tersebut,” kata Nico.

Sementara itu, hubungan AS dan Thailand tengah memanas yang dipicu oleh penangguhan beberapa preferensi perdagangan oleh AS terhadap Thailand. Menurut Nico, hal ini akan menekan ekonomi dari Thailand karena penangguhan perdagangan tersebut bernilai US$ 4,4 miliar.

Penangguhan ini, lanjut dia, akan dilakukan oleh dilakukan oleh pemerintah AS dalam kurun waktu enam bulan. Pihaknya menilai, sejauh ini perang dagang terus melebar ke berbagai negara, karena perang dagang yang dilakukan oleh AS mampu memicu perang dagang bersama dengan negara lain selain Tiongkok. Bagi Thailand, pasar AS sangatlah penting lantaran AS merupakan negara tujuan nomor dua untuk ekspor dari Thailand yang bernilai US$ 31,9 miliar per tahun lalu.

Nico menilai, capital inflow akan masuk ke pasar obligasi Tanah Air secara pelan tapi pasti. Selain faktor The Fed, pemangkasan tingkat suku bunga BI juga merupakan salah satu kunci bagi pasar obligasi untuk terus mengalami kenaikan harga.

Dari dalam negeri, Nico mencermati data ekonomi yang akan dirilis dan menjadi pertimbangan investor adalahg data inflasi yang menurut konsensus masih berpotensi mengalami deflasi. Pihaknya sejauh ini melihat inflasi mampu dijaga dengan baik oleh pemerintah. Hal inilah yang menjadi salah satu alasan bagi Bank Indonesia untuk menurunkan tingkat suku bunganya pekan lalu.

Pihaknya merekomendasikan investor untuk lebih agresif di pasar obligasi dengan tenor jangka panjang. Perbandingannya adalah 55% obligasi jangka pendek dan 45% obligasi jangka panjang.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA