Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal

Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal

Penghimpunan Dana di Pasar Modal Hampir Rp 50 Triliun

Selasa, 1 Juni 2021 | 22:49 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat penghimpunan dana di pasar modal telah mencapai Rp 49,67 triliun hingga 24 Mei 2021 dibandingkan akhir April 2021 yang sebanyak Rp 47,06 triliun.

Berdasarkan keterangan resmi OJK, peningkatan penghimpunan dana oleh sejumlah korporasi ini seiring dengan bertambahnya emiten baru di Bursa Efek Indonesia (BEI). Hingga 24 Mei 2021, sudah ada 15 emiten baru yang mencatatkan sahamnya di BEI. Jumlah ini meningkat dari April 2021 yang baru sebanyak 13 emiten baru.

Tahun ini, OJK menargetkan penghimpunan dana di pasar modal bisa mencapai Rp 150-180 triliun. Hal ini bisa tercapai dengan berbagai inovasi yang akan dikeluarkan OJK.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan, tahun ini, OJK akan mengeluarkan sejumlah inisiatif untuk memperkuat pasar modal. Pertama, OJK akan memperdalam pasar keuangan untuk mendukung pembiayaan pembangunan. "Kami akan mendorong pengembangan basis investor ritel dan domestik dengan memfasilitasi penerbitan berbagai efek dan pengembangan instrumen derivatif," jelas dia.

Kemudian, OJK akan meningkatkan market integrity sebagai upaya untuk meningkatkan kepercayaan investor. Pasalnya, pengembangan investor ritel tentunya memerlukan dukungan dari berbagai pihak dan diharapkan tidak terdapat distorsi dalam prosesnya.

Selanjutnya, OJK akan mengakselerasi pengembangan infrastruktur pasar modal berbasis digital seperti efisiensi pasar primer melalui e-IPO dan e-voting.

"OJK juga akan mengeluarkan market maker pada secondary market serta pengembangan Infrastruktur Central Counterparty Clearing Over the Counter (CCP OTC) derivatif," papar dia.

Di bidang perlindungan konsumen, OJK akan mengimplementasikan prinsip disgorgement dan disgorgement fund. Ini merupakan mekanisme remedial action yang diharapkan juga dapat meningkatkan perlindungan bagi investor di pasar modal. Peraturan ini berlaku enam bulan sejak diundangkan atau pada Juli 2021.

Dari sisi emiten baru, Bursa Efek Indonesia (BEI) merevisi target penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham tahun ini dari jumlah awal 30 menjadi 54 perusahaan. Revisi target ini seiring dengan optimisme akan membaiknya pasar modal tahun ini.

Direktur Pengembangan BEI Hasan Fawzi menjelaskan, target yang ditetapkan sebelumnya cukup moderat apabila melihat perkembangan sejauh ini. Adapun sejauh ini, sudah ada 12 perusahaan yang melakukan IPO dan 20 perusahaan yang berada dalam pipeline BEI.

"Dampak pandemi Covid-19 yang sebelumnya diasumsikan bisa mengurangi minat IPO saham, namun setelah melihat realisasi satu kuartal ini, kami menjadi optimistis tidak perlu terlalu khawatir," ujar dia.

Hasan menjelaskan, revisi target ini sejalan dengan komunikasi yang dilakukan dengan berbagai pihak, seperti anggota bursa yang menjadi calon underwriter dari perusahaan yang akan melakukan IPO. Dari diskusi dan masukan yang disampaikan, manajemen berkeyakinan kuat untuk merevisi target IPO tahun ini.

"Kondisi kondusif yang terjadi pada kuartal I-2021 kami harapkan juga tetap berlangsung, dan minat IPO akan terus tinggi sampai akhir tahun ini," ujar dia.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN