Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi Investasi. Foto: Goumbik (Pixabay)

Ilustrasi Investasi. Foto: Goumbik (Pixabay)

Penguatan Harga SUN Diprediksi Berlanjut

Farid Firdaus, Selasa, 26 Mei 2020 | 08:31 WIB

JAKARTA, investor.id – Harga surat utang negara (SUN) diprediksi menguat sepanjang pekan ini yang dipicu penurunan imbal hasil (yield). Seri-seri obligasi jangka pendek layak untuk diperhatikan, seiring dengan peningkatan ketidakpastian akibat sejumlah ketegangan global.

Associate Director Fixed Income PT Anugerah Sekuritas Ramdhan Ario Maruto mengatakan, pasar obligasi negara selama tiga hari sebelum libur Lebaran telah menunjukkan tren penguatan. Pola tersebut diproyeksikan berlanjut pekan ini dengan ekspektasi yield SUN seri 10 tahun bisa menyentuh level 7,5%.

“Biasanya kalau sudah ada tanda-tanda seperti sekarang ini. Investor asing akan masuk ke pasar obligasi Indonesia. Meskipun belum ada sentimen data ekonomi terbaru, investor akan cenderung mencermati perkembangan penanganan pandemi,” jelas dia kepada Investor Daily, Senin (25/5).

Data kasus baru Covid-19, kata Ramdhan, akan dinanti pasar mengingat selama libur Idul Fitri sejumlah kota-kota besar di Indonesia melonggarkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Di luar itu, berita luar negeri menjadi perhatian, seiring dengan munculnya sejumlah konflik dan negosiasi dari beberapa negara.

Secara terpisah, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan, pergerakan harga obligasi dipengaruhi atas munculnya kembali ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok sejak pekan lalu. Belum lagi, berita perseteruan Tiongkok dan Hong Kong yang kembali memicu aksi demonstrasi sejak 24 April 2020.

Hubungan Tiongkok dengan Hong Kong menjadi perhatian dunia setelah Tiongkok menerbitkan Rancangan Undang Undang terkait keamanan. Gelombang demonstran di Hong Kong diprediksi terus berlanjut dan bisa membuat situasi dan kondisi kian sulit, apalagi saat pandemi Covid-19 masih berlangsung.

Menurut Nico, pasar obligasi dalam negeri sejauh ini masih memberikan trend penurunan yield. Hal tersebut merupakan sesuatu yang baik. Apalagi di tengah situasi dan kondisi yang kian tidak pasti yang membuat investor akan cenderung memilih obligasi ketimbang saham. Kondisi tersebut akan berdampak kepada penurunan yield selama ditopang oleh volume transaksi.

“Obligasi jangka pendek masih menjadi pilihan, oleh sebab itu fokus utama adalah tetap memegang obligasi jangka pendek berdurasi 1-10 tahun, tapi juga jangan lupakan obligasi jangka panjang dengan durasi 20-30 tahun dengan perbandingkan 80%-20%,” jelas dia.

Sepekan ini, Nico memprediksi, yield SUN bertenor lima tahun akan bergerak pada kisaran 6,80%-7,05%, dan seri bertenor 10 tahun berpotensi pada rentang 7,35%-7,50%. Sementara itu, yield SUN bertenor 15 tahun diperkirakan sekitar 7,80%-7,95%, dan seri bertenor 20 tahun akan bergerak pada kisaran 7,70%-7,95%.

Dari luar negeri, kata dia, data ekonomi (produk domestik bruto/PDB) AS kuartalan yang diikuti dengan indeks harga PDB bakal mencuri perhatin investor. Pasalnya, situasi dan kondisi saat ini membuat tingkat pertumbuhan ekonomi suatu negara menjadi sesuatu yang sangat penting.

Sementara itu, tingkat kepercayaan pasar mengenai ekonomi dan industri serta jasa yang berada di Eropa turut menjadi pertimbangan investor. Pekan ini, yang akan menjadi perhatian adalah data mengenai inflasi Eropa yang diproyeksikan kembali mengalami penurunan.

Tak ketinggalan, Jepang bersiap merilis sejumlah data penting seperti indeks aktivitas seluruh industri, penjualan ritel, tingkat pengangguran, serta inflasi pada pekan ini. Data produksi industri juga akan menjadi salah satu perhatian utama ke depan, karena pandemi mempengaruhi kapasitas produksi.

Adapun Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan tidak berencana menggelar lelang SUN selama pekan ini. Setelah libur Idul Fitri, pemerintah baru siap menggelar lelang pada 2 Juni 2020. Target indikatif lelang SUN tersebut sebesar Rp 20 triliun dan target maksimal hingga Rp 40 triliun.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN