Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Perdagangan obligasi di bursa

Perdagangan obligasi di bursa

Peningkatan Tensi Perang Dagang Tekan Harga SUN

Farid Firdaus, Senin, 5 Agustus 2019 | 09:00 WIB

JAKARTA, Investo.id -  Harga surat utang negara (SUN) berpeluang lanjutkan penurunan sepanjang pekan ini dipicu peningkatan ketegangan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok. Pelemahan ini bakal ditandai dengan penguatan imbal hasil (yield) obligasi seri benchmark bertenor 10 tahun ke posisi 7,5-7,6%.

Associate Director Fixed IncomePT Anugerah Sekuritas Indonesia Ramdhan Ario Maruto mengatakan, ketidakpastian global bakal kembali membayangi pasar SUN pekan ini. Hal tersebut berkaca dari aksi investor asing yang menarik dananya dari pasar surat utang sepanjang pekan lalu.

“Karena banyak investor asing ke luar, volume transaksi obligasi di secondary market turun dan yield naik lagi. Pasar pun menunggu data ekonomi dan berharap ada sentimen positif dari dalam negeri,” jelas dia kepada Investor Daily, Minggu (4/8).

Ramdhan menjelaskan, investor domestik sebenarnya tidak perlu risau akan pelemahan ini. Pasalnya, return yang diberikan pasar surat utang dalam negeri masih menarik atau dapat bersaing dengan negara-negara di Asia Tenggara.

Adapun, pemerintah pekan ini akan menggelar lelang surat berharga syariah negara pada Selasa (6/8) yang menawarkan enam seri dengan target indikatif Rp 8 triliun. Dari situ, ada satu seri baru, yakni SPN-S yang jatuh tempo pada 7 Februari 2020. Ramdhan memperkirakan penawaran yang masuk dalam lelang kali ini berada pada kisaran Rp 15-Rp 20 triliun.

Secara terpisah, Associate Director Head of Research and Investment PT Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan, rencana pengenaan sanksi pemerintah AS kepada pemerintah Tiongkok terkait impor barang dari negeri Tirai Bambu itu memang cenderung menekan pasar global.

Selama pekan ini, yield SUN seri lima tahun diproyeksikan bergerak pada kisaran 6,98- 7,11%, dan yield SUN bertenor 10 tahun akan berada pada rentang 7,54- 7,67%. Sementara itu, yield SUN seri 15 tahun akan melaju pada kisaran 7,77 - 7,90%, dan yield berjangka waktu 20 tahun berpotensi bergerak dalam rentang 7,97- 8,05%

“Sentimen dalam negeri masih akan didominasi oleh laporan GDP year on year yang akan keluar pada hari Senin. Selain itu ada juga data consumer confidence. Tidak hanya GDP, tapi cadangan devisa Indonesia juga akan dinanti pelaku pasar,” jelas dia

Dari global, kata Nico, ada sentimen dari sinyal The Fed yang tidak agresif dalam menurunkan suku bunga ke depan. Apabila dicermati saat pengumuman penurunan tingkat suku bunga belum lama ini, Gubernur The Fed mengatakan bahwa hal ini tidak akan terjadi hanya satu kali. Itu artinya, masih ada ruang pemangkasan tingkat suku bunga The Fed lanjutan di antara September atau Desember.

“Tentu kedua hal ini akan menjadi tolok ukur bagi para pelaku pasar dunia, karena akan mempengaruhi keputusan tingkat suku bunga bank Sentral di setiap Negara, tak terkecuali Indonesia. Pekan lalu, Bank Indoensia juga menyampaikan bahwa mereka masih memiliki ruang untuk melakukan pemangkasan tingkat suku bunga,” ujar Nico.

Namun, kata Nico, lagi-lagi pasar merasa khawatir atas langkah AS. Pekan lalu, Presiden AS Donald Trump menyatakan akan menaikkan tarif impor kembali sebesar 10% terhadap US$ 300 miliar barang- barang Tiongkok. Ini membuat pasar cenderung pesimis dengan berpandangan, jika memang ada sentimen positif dari global, kemungkinan sentimen tersebut tidak sepenuhnya positif.

Pekan ini, Eropa bakal merilis data PMI Services dan Composite. Di antara pelemahan ekonomi Eropa, data ini akan menjadi salah satu data yang dinanti ditengah-tengah potensi pelonggaran tingkat suku bunga Bank Sentral Eropa. Tak ketinggalan, Tiongkok juga bakal merilis data PMI composite and service, cadangn devisa, neraca perdagangan, serta tingkat ekspor impor.

Data tersebut akan menjadi acuan tersendiri bagi para pelaku pasar untuk melihat apakah kondisi ekonomi akan memberikan tekanan kembali terhadap perekonomian Tiongkok, atau Tiongkok sudah menyiapkan strategi untuk menahan tekanan tersebut.

Pekan ini, lanjut Nico, minat investor akan kembali hadir pada saat lelang SUN. Apalagi, secara jangka pendek imbal hasil akan tinggi, namun secara jangka menengah hingga panjang, imbal hasil obligasi masih mengalami potensi turun kembali.

“Oleh sebab itu, hal ini akan menjadi sebuah kesempatan bagi investor untuk mendapatkan obligasi dengan imbal hasil yang menarik. Sehingga tentu saja total penawaran yang masuk akan tetap tinggi,” jelas dia

Pihaknya merekomendasikan obligasi jangka pendek menjadi pilihan untuk mengurangi tingkat volatilitas. Namun lantaran adanya pelemahan imbal hasil obligasi, investor disarankan untuk membeli obligasi jangka menengah hingga panjang, untuk mendapatkan obligasi di harga murah. Langkah ini dianjurkan karena ada potensi pemangkasan tingkat suku bunga The Fed lanjutan dan penurunan BI Rate lanjutan yang akan menjadi katalis positif bagi pasar obligasi.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA