Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi perusahaan. Foto: Pixabay.

Ilustrasi perusahaan. Foto: Pixabay.

Perbankan Mengerem Penerbitan Surat Utang

Rabu, 21 Juli 2021 | 05:50 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menilai, perbankan tidak akan terlalu agresif melakukan penerbitan surat utang. Likuiditas yang melimpah dan tertahannya penyaluran kredit di tengah pandemi menjadi faktor yang mempengaruhi ekspansi.

Kepala Divisi Pemeringkatan Jasa Keuangan Pefindo Danan Dito menjelaskan, penerbitan surat utang perbankan memang tidak terlalu tinggi. "Likuiditas perbankan masih sangat baik, sehingga penerbitan surat utangnya tidak terlalu tinggi," jelas Danan dalam acara Media Conference secara virtual, Senin (19/7).

Terlebih lagi, pada Juli ini terjadi kenaikan kasus Covid-19 akibat varian delta. Hal ini semakin menahan laju pertumbuhan kredit yang sebelumnya sudah menurun. Akibatnya, perbankan pun tetap akan menyimpan likuiditasnya. "Kalau proyeksi pertumbuhan kredit meningkat ini bisa mendorong penerbitan surat utang di industri perbankan," kata dia.

Adapun per 16 Juli 2021, Pefindo baru menerima tiga mandat penerbitan surat utang perbankan dengan nilai Rp 3,2 triliun. Mandat ini lebih rendah dibandingkan mandat penerbitan surat utang di industri keuangan lain.

Danan menjelaskan, penerbitan surat multifinance cenderung lebih tinggi. Hingga 16 Juli 2021, Pefindo menerima mandat penerbitan surat utang dari empat multifinance dengan nilai Rp 4,2 triliun. Selektifnya perbankan dalam menyalurkan kredit ditambah meningkatnya kekhawatiran terhadap pertumbuhan ekonomi membatasi multifinance mendapatkan pendanaan di luar surat utang.

Secara keseluruhan, Pefindo menerima mandat penerbitan surat utang dari 40 perusahaan dengan nilai Rp 59,1 triliun. Mandat itu paling banyak berasal dari perusahaan induk sebesar Rp 13 triliun yang akan digunakan untuk membantu restrukturisasi utang anak usahanya.

Kepala Divisi Pemeringkatan Korporasi Pefindo Niken Indriarsih menjelaskan, sektor konstruksi juga cukup banyak menerbitkan surat utang, yakni dengan mandat sebanyak empat perusahaan dengan nilai Rp 6,67 triliun. "Kebutuhan modal kerja perusahaan konstruksi meningkat seiring dengan meningkatnya anggaran infrastruktur pemerintah," jelas dia.

Tahun ini, Pefindo memperkirakan nilai penerbitan surat utang bisa mencapai Rp 122-159 triliun. Niken menyadari ada kebijakan Perlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang bisa mempengaruhi penerbitan surat utang tahun ini. Namun demikian, Niken melihat adanya relaksasi penerbitan surat utang hingga kuartal III-2021 yang bisa meningkatkan antusiasme penerbitan surat utang tahun ini.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN