Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Perkembangan Kasus Covid-19 Tekan Harga SUN

Senin, 24 Mei 2021 | 06:20 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Harga surat utang negara (SUN) diperkirakan turun pada pekan ini yang ditandai meningkatnya tingkat imbal hasil (yield). Perkembangan kasus Covid-19 menjadi penyebab pelemahan tersebut.

Associate Director of Fixed Income PT Anugerah Sekuritas Indonesia Ramdhan Ario Maruto menjelaskan, sebelum libur Lebaran, yield SUN untuk tenor 10 tahun masih bergerak di level 6,3-6,4%. Namun, untuk pekan ini, yield SUN diperkirakan meningkat ke level 6,4-6,55%.

Menurut Ramdhan, perkembangan Covid-19 di India menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya lockdown di beberapa kota besar. Terlebih lagi di Indonesia, imbauan pemerintah agar masyarakat tidak mudik saat libur Lebaran ternyata masih dilanggar. Mobilisasi masyarakat juga cukup meningkat, ditambah tempat wisata yang kedatangan banyak pengunjung saat libur Lebaran. "Ini menyebabkan kekhawatiran akan meningkatnya kasus harian Covid-19 di dalam negeri," jelas dia kepada Investor Daily, Minggu (23/5).

Dari sisi eksternal, Ramdhan melihat peningkatan kasus Covid-19 di India menyebabkan investor asing sedikit tertahan masuk ke Indonesia dan negara berkembang. Tingkat imbal hasil US Treasury juga mulai bergerak meningkat sehingga menyebabkan investor asing semakin menahan dananya.

Kendati demikian, sentimen ini hanya akan berlaku untuk jangka pendek. Secara jangka panjang, Ramdhan melihat yield SUN untuk tenor 10 tahun bisa bergerak menurun ke level 6%. "Kalau pandemi Covid-19 bisa dikendalikan, yield SUN bisa bergerak ke level 6%," jelas dia.

Peningkatan kepemilikan asing di SUN, menurut Ramdhan, menjadi faktor penting untuk menurunnya yield SUN. Dia menjelaskan, kepemilikan asing di SUN saat ini baru mencapai Rp 970 triliun. Padahal kepemilikan asing di SUN sebelumnya bisa mencapai Rp 1.030-1.040 triliun.

Dengan melihat kondisi ini, Ramdhan menyarankan investor untuk menahan diri berinvestasi di SUN. Kendati tetap ingin berinvestasi, usahakan untuk masuk secara bertahap ke seri benchmark.

Secara terpisah, Head of Fixed Income Research PT Mandiri Sekuritas Handy Yunianto mengatakan, tahun ini, yield SUN untuk tenor 10 tahun bisa bergerak di level 5,75-6%. Senada dengan Ramdhan, penguatan yield ini bisa tercapai jika pemerintah bisa mengendalikan pandemi Covid-19. "Di samping itu juga defisit transaksi berjalan yang diharapkan bisa kembali ke level 3% dari GDP pada 2023," terang dia.

Lebih lanjut, faktor penyebab pergerakan SUN tahun ini juga disebabkan oleh rendahnya tingkat suku bunga acuan atau BI 7 days reverse repo rate (BI 7DRRR). Negara lain juga menerapkan suku bunga rendah ini kecuali Turki dan beberapa negara lain.

Likuiditas dari dalam negeri juga mendukung penguatan yield tahun ini. Handy mengungkapkan, pemerintah sampai saat ini berhasil menerbitkan surat berharga negara sebesar Rp 492 triliun atau meningkat 25,2% dari periode yang sama tahun sebelumnya. Pemerintah juga masih memiliki kelebihan pembiayaan sebesar Rp 100 triliun dari penerbitan SUN tahun lalu yang bisa menambah asupan likuiditas di SUN tahun ini.

Pasar SUN Indonesia, menurut Handy, lebih juga kuat menahan sentimen asing pada tahun ini. Hal ini terlihat dari menurunnya ketergantungan terhadap investor asing dengan mulai terdiversifikasinya kepemilikan di pasar SUN.

Dari sisi real yield, SUN masih tercatat lebih tinggi dibandingkan real yield rata-rata dalam 10 tahun terakhir. Real yield SUN ini termasuk real yield tertinggi di negara emerging markets lainnya, yakni di level 5%.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN