Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi Investasi. Foto: Goumbik (Pixabay)

Ilustrasi Investasi. Foto: Goumbik (Pixabay)

Sentimen Positif Topang Pasar Surat Utang

Nabil Al Faruq, (jauhari_id)  Senin, 29 Juni 2020 | 08:24 WIB

JAKARTA, investor.id - Harga surat utang negara (SUN) pekan ini diperkirakan naik disertai dengan kecenderungan penurunan imbal hasil (yield) sepanjang pekan ini. Beberapa sentimen positif juga diproyeksikan menopang pergerakan SUN.

Head of Economy Research Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Fikri C Permana mengatakan, pergerakan harga SUN pekan ini akan dipengaruhi beberapa sentimen, yakni nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS), lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN), dan rilis data inflasi bulan Juni.

Sedangkan beberapa sentimen yang menjadi perhatian dari pasar global, yakni terkait yield US treasury, USD Index, harga minyak dunia, perkembangan isu perdangangan antara AS dengan Tiongkok, dan situasi geopolitik Asia yang terjadi antara Hongkong dan India-Tiongkok.

“Pergerakan harga SUN untuk pekan ini berpotensi mengalami peningkatan, dengan yield untuk 10 tahun akan ditutup antara 7,0%-7,1% di akhir pekan ini,” ujar Fikri kepada Investor Daily di Jakarta, Minggu (28/6).

Sementara itu, pekan ini akan diadakan lelang Surat Utang Negara (SUN) pada 30 Juni 2020 dengan target indikatif sejumlah Rp 20 triliun. Dia menilai bahwa pelelangan SUN yang akan terjadi di pekan ini berpotensi masih rama, sama seperti lelang SBSN yang sebelumnya telah dilakukan.

Menurut Fikri, faktor yang mendorong ramainya lelang SUN pekan ini adalah kemungikinan yield masa depan cenderung turun, sehingga terdapat kemungkinan bahwa investor domestik akan cukup antusias dalam pelelangan yang akan terjadi di hari Selasa.

Meskipun berpotensi ramai, dia juga melihat ada beberapa faktor penghambat, yakni adanya resiko gelombang kedua pademi Covid-19 dan data ekonomi AS yang memiliki kinerja baik di minggu lalu, sehingga mendorong USD Index meningkat, dan dikhawatirkan menjadikan asing masih menahan diri masuk ke pasar SUN dalam negeri.

Berdasarkan data Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan mengumumkan, lelang SUN pekan ini memiliki target indikatif sebesar Rp 20 triliun. Terdapat seri new issuance SPN03201001 dan SPN12210701, serta seri reopening yakni FR0081, FR0082, FR0080, FR0083, dan FR0076.

Secara rinci, untuk seri new issuance memiliki jatuh tempo 1 Oktober 2020 dan 1 Juli 2021, sedangkan lima seri lainnya merupakan reopening, memiliki jatuh tempo 15 Juni 2025, 15 September 2030, 15 Juni 2035, 15 April 2040, dan 15 Mei 2048.

Fikri menyebutkan bahwa untuk seri SPN dalam pelelangan tersebut masih akan menjadi pilihan bagi para investor, pasalnya tenor yang dimiliki berjangka pendek dan harga yang reltif terjaga. Sedangkan untuk seri reopening juga masih menjadi pilihan, sebab merupak seri benchmark dengan likuiditas relatif lebih baik.

Sejalan dengan Fikri, Associate Director of Research and Investment PT Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan, imbal hasil obligsai untuk pekan ini akan mengalami penurunan, dengan rentang untuk 5 tahun berada di 6,50%-6,75%, 10 tahun 7,10%-7,25%, 15 tahun 7,40%-7,65%, dan 20 tahun di 7,60%-7,80%.

Menurut Nico, terdapat beberapa faktor dalam negeri maupun luar negeri yang akan memepengaruhi pergerakan SUN untuk pekan ini. Dari dalam negeri, para pelaku pasar akan mencermati adanya data Indonesia PMI Manufacturing dan Inflasi secara Yoy yang diperkirakan akan turun. Sedangkan dari Amerika, akan ada data initial jobless claims yang berpotensi menurun dan data factory orders yang diperkirakan naik.

Lebih lanjut, terdapat data durable goods orders yang diperkirakan naik, data ISM manufacturing yang diproyeksikan meningkat, dan data change in nonfarm payrolls yang berpotensi terangkat, serta para pelaku pasar akan memperhatikan FOMC meeting minutes pekan ini.

Kemudian, untuk lelang SUN pekan ini yang akan diadakan pada hari Selasa akan menjadi banyak perhatian bagi para pelaku pasar. Menurut Nico, lelang SUN ini akan menjadi tolok ukur bagi para investor dan pelaku pasar, apakah mereka akan terpengaruhi oleh ramalan IMF atau tidak.

“Apabila mereka terpengaruh oleh ramalan IMF, maka imbal hasil yang diminta akan menjadi lebih tinggi, dan investor akan cenderung memilih obligasi jangka pendek sebagai jangkar untuk mengurangi volatilitas,” ujar dia.

Meskipun demikian, Nico menambahkan apabila para pelaku pasar memiliki keyakinak prospek ekonomi Indonesia yang akan menjadi lebih baik, makan pekan ini akan kembali banjir penawaran yang berpotensi kembali di atas Rp 80 triliun. Kemudian, dalam pelelangan pekan ini untuk obligasi seri FR0081 dan FR0082 akan banyak diminati oleh pelaku pasar, namun tidak menutup kemungkinan mereka juga akan berinvestasi di obligasi jangka panjang sebagai penyeimbang portofolio.

“Ditengah situasi dan kondisi yang penuh dengan ketidakpastian terkait dengan perekonomian kedepannya, kami melihat investor akan meminta imbal hasil yang lebih tinggi, khususnya karena kekhawatiran akan peningkatan korban virus corona di masa yang akan datang,” ujar Nico.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN