Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi. Dealer memperhatikan pergerakan harga di Treasury Room Bank OCBC NISP, Jakarta.  Foto: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Ilustrasi. Dealer memperhatikan pergerakan harga di Treasury Room Bank OCBC NISP, Jakarta. Foto: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Sentimen Suku Bunga bakal Kerek Harga SUN

Nabil Al Faruq, Senin, 18 Mei 2020 | 08:33 WIB

JAKARTA, investor.id – Harga surat utang negara (SUN) sepanjang pekan ini diproyeksi naik, seiring dengan sentimen dalam negeri terkait rapat Bank Indonesia (BI) yang dikabarkan akan memotong suku bunga acuan.

Associate Director of Research and Investment PT Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan, pertemuan yang akan dilakukan oleh BI akan membawa angin segar untuk pergerakan harga SUN pekan ini, meskipun dengan tingkat suku bunga yang sekarang sudah lebih dari cukup. “Pemotongan dapat dilanjutkan apabila situasi dan kondisi sudah lebih stabil untuk mendorong perekonomian,” kata dia kepada Investor Daily, Minggu (17/5).

Kemudian, dari sisi global, beberapa data ekonomi Amerika semisal new home sales diperkirakan turun, diikuti dengan MBA mortgage application. Selain itu, terdapat data ekonomi yang dicermati oleh para pelaku pasar, yakni GDP annualized QoQ yang kemungkinan juga turun.

“Tidak berhenti sampai di situ, berikutnya data mengenai personal consumption, spending, dan income akan mengalami hal yang sama. Dengan demikian, dalam sepekan depan, sentimen ini akan menjadi perhatian utama pelaku pasar,” ujar dia.

Dari Eropa, akan muncul data mengenai inflasi dan consumer confidence. Sentimen ini akan menjadi perhatian utama di tengah situasi dan kondisi yang saat ini tengah menekan Eropa. Saat ini, Eropa tengah berusaha untuk menaikkan tingkat inflasi.

Sedangkan dari Tiongkok, bakal ada data mengenai industrial profit. Data ini akan menjadi perhatian utama, apakah perekonomian negara tersebut mulai pulih atau tidak. Sebab, sejauh ini perekonomian Tiongkok mulai kembali menggeliat.

Sementara itu, dari Jepang, pelaku pasar menanti data ekonomi terkait all industry activity index yang diproyeksikan turun. Kemudian, inflasi di negara tersebut dan tingkat pengangguran juga menjadi perhatian. “Namun, yang menentukan adalah retail sales yang berpotensi kembali turun. Buruknya data ekonomi Jepang mungkin akan memberikan tekanan terhadap pasar Asia,” jelas Nico.

Kemudian, pekan ini juga akan dilakukan lelang surat berharga syariah negara atau sukuk negara pada 18 Mei 2020. Nico menilai bahwa transaksi lelang pekan ini berpotensi mengalami peningkatan karena merupakan yang terakhir menjelang Lebaran. Lelang sukuk bisa menjadi pilihan bagi pelaku pasar yang ingin mendapatkan obligasi dengan tingkat volatilitas rendah.

“Kami tentu menantikan bahwa lelang ini akan menjadi lelang yang menyedot perhatian, apalagi ada pertemuan BI. Selain itu, apabila memang benar ada pemotongan tingkat suku bunga, tentu saja harga obligasi memiliki potensi untuk naik,” tutur dia.

Berdasarkan data Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, lelang SUN pekan ini memiliki target indikatif sebesar Rp 7 triliun. Terdapat seri new issuance SPN-S 19112020 serta seri reopening yakni PBS-002, PBS-026, PBS-023, PBS-004, dan PBS-005.

Secara rinci, untuk seri new issuance memiliki jatuh tempo 19 November 2020, sedangkan lima seri lainnya merupakan reopening memiliki jatuh tempo 15 Januari 2022, 15 Oktober 2024, 15 Mei 2030, 15 Februari 2037, dan 15 April 2043. Dari seri tersebut, Nico melihat bahwa seri PBS-023 akan menarik perhatian pelaku pasar karena tenornya pendek dan kupon tinggi.

Sementara itu, imbal hasil (yield) SUN diproyeksikan turun ke level 7,05-7,35% untuk tenor 5 tahun, 7,7-7,9% untuk tenor 10 tahun, 8,1-8,2% untuk tenor 15 tahun, dan 8-8,25% untuk tenor 20 tahun.

Pendapat berbeda disampaikan oleh ekonom PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Fikri C Permana. Menurut dia, harga SUN sepekan ini berpotensi bergerak stabil dengan kecenderungan sedikit menurun. Untuk yield SUN bertenor 5 tahun diperkirakan sebesar 7-7,35% dan tenor 10 tahun sebesar 7,65-7,9%.

Sementara itu, permintaan dalam lelang surat berharga syariah negara diperkirakan cukup stabil. Hal itu didorong oleh permintaan dari domestik yang diyakini semakin banyak, khususnya dari sektor perbankan dan BI.

“Faktor pendorong lainnya karena yield yang dirasa cukup kompetitif, dengan kemungkinan menurun dalam beberapa waktu mendatang. Untuk seri yang akan menjadi perhatian adalah SPN-S 19112020 dan PBS-023,” ujar Fikri.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN