Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA). FOTO: Ruht Semiono/Suara Pembaruan.

PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA). FOTO: Ruht Semiono/Suara Pembaruan.

Tahap Pertama, Garuda Terbitkan OWK Rp 1 Triliun

Senin, 28 Desember 2020 | 22:54 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) menetapkan pencairan dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) melalui penerbitan obligasi wajib konversi (OWK) tahap pertama sebesar Rp 1 triliun dari total yang disetujui Rp 8,5 triliun.

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengatakan, OWK tahap pertama memiliki tenor tiga tahun. Aksi ini sudah disepakati melalui penandatanganan perjanjian dengan PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) yang bertindak sebagai pelaksana investasi Kementerian Keuangan.

“Total OWK senilai Rp 8,5 triliun memiliki availability period hingga 2027. Kami lakukan penarikan tahap pertama dan penarikan selanjutnya akan mengikuti prinsip kehati-hatian,” kata dia dalam konferensi pers virtual, Senin (28/12).

Menurut Irfan, penerbitan OWK secara bertahap akan sangat dipengaruhi oleh kinerja perseroan dan janji manajemen. Pihaknya menilai, industri penerbangan akan tetap menantang pada 2021, namun jumlah penumpang pesawat diprediksi akan meningkat dibanding tahun ini. Perseroan juga tetap fokus pada dua bisnis lain, yakni penerbangan charter dan kargo.

“Janji kami pada 2021 adalah pendapatan sebesar 50% dari kondisi 2019. Memang akan menantang mengenai pendapatan dari haji dan umroh. Tapi kami akan cari cara supaya pendapatan sesuai janji,” jelas dia.

Sebagai informasi, Garuda Indonesia membukukan total pendapatan US$ 4,57 miliar pada 2019. Pencapaian tersebut dipastikan akan turun signifikan pada akhir 2020. Pasalnya, hingga kuartal III-2020, Garuda hanya membukukan pendapatan US$ 1,14 miliar, turun 67,79% dari periode sama tahun lalu US$ 3,54 miliar.

Kendati demikian, saat ini kondisi jumlah penumpang Garuda telah lebih baik dibandingkan pada awal pandemi Covid-19. Menurut Irfan, hingga kuartal III-2020, perseroan mencatatkan pertumbuhan jumlah penumpang yang konsisten. Pada Oktober lalu, jumlah penumpang Garuda merupakan yang tertinggi selama pandemi yakni sebesar 739 ribu penumpang. Jumlah tersebut meningkat signifikan dibandingkan periode awal pandemi, ketika perseroan hanya mengangkut sekitar 30 ribuan penumpang per bulan.

Perseroan, lanjut Irfan, juga mempertahankan konsistensi kinerja bisnis kargo maupun charter yang menunjukan potensi yang semakin menjanjikan. Perseroan terus menjalankan strategi efisiensi biaya produksi yang telah dijalankan melalui renegosiasi biaya sewa pesawat hingga biaya operasional penunjang lain. Strategi ini membuahkan hasil positif, yakni penghematan hingga mencapai US$ 15 juta per bulan.

“Dengan mempertimbangkan kinerja yang menunjukkan pertumbuhan positif di tengah pandemi ini, kami optimistis penerbitan OWK akan dapat menunjang akselerasi kinerja perseroan secara konsisten,” tutur Irfan.

Tahun depan, Garuda Indonesia menargetkan penghematan besar-besaran pada biaya sewa pesawat hingga sebesar US$ 143,7 juta, meningkat 300% dari penghematan tahun ini yang senilai US$ 35,9 juta.

Selain renegosiasi biaya sewa, perseroan turut negosiasi perpanjangan masa sewa pesawat dengan tetap menjaga faktor keselamatan dan utilisasi pesawat. Perseroan juga melakukan penghematan pada sumber daya manusia (SDM) dan penghematan lainnya dalam memastikan operasional tetap berlangsung.

Efisiensi ini tercermin dari beban usaha Garuda Indonesia yang turun setiap kuartal. Pada kuartal III-2020, beban usaha perseroan tercatat US$ 601,7 juta, terpangkas 13,73% dari kuartal II-2020 yang sebesar US$ 697,5 juta. Salah satu pemicu, yaitu beban gaji, tunjangan, dan imbalan kerja lainnya turun 11,21% menjadi US$ 106,1 juta dari kuartal sebelumnya US$ 119,5 juta.

Sementara itu, negosiasi ulang masih berlangsung antara Garuda dengan Boeing atas pemesanan 49 armada pesawat 737 Max 8. Negosiasi pertama yang diupayakan adalah penundaan rencana pengiriman pesawat. Namun, pihaknya tidak menampik ada juga negosiasi pembatalan pesanan pesawat.

Seperti diketahui, Federal Aviation Administration (FAA) di Amerika Serikat telah mencabut larangan terbang pesawat Boeing 737 Max 8 pada November lalu, setelah sebelumnya tipe pesawat tersebut dilarang terbang lantaran kecelakaan fatal di Indonesia dan Ethiopia.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN