Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Anggota Dewan Komisioner dan Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen (dua dari kiri) bersama Direktur Utama BEI Inarno Djajadi, Direktur Utama KPEI Sunandar (kiri) dan Direktur Utama KSEI Urip Budhi Prasetyo (kanan) di sela acara Media Gathering Pasar Modal 2019 di Lombok, NTB, Jumat (25/10/2019). Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR.

Anggota Dewan Komisioner dan Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen (dua dari kiri) bersama Direktur Utama BEI Inarno Djajadi, Direktur Utama KPEI Sunandar (kiri) dan Direktur Utama KSEI Urip Budhi Prasetyo (kanan) di sela acara Media Gathering Pasar Modal 2019 di Lombok, NTB, Jumat (25/10/2019). Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR.

Tahun Ini, Penggalangan Dana di Pasar Modal Bisa Capai Rp 180 Triliun

Farid Firdaus, Sabtu, 26 Oktober 2019 | 16:51 WIB

NTB, investor.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) optimistis penggalangan dana emiten di pasar modal bisa mencapai Rp 180 triliun tahun ini. Per 14 Oktober, penghimpunan dana melalui penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham, rights issue, dan penerbitan obligasi mencapai Rp 131,43 triliun.

Anggota Dewan Komisioner dan Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen mengatakan, pihaknya bersama self regulatory organization (SRO) berupaya menarik minat emiten untuk melakukan fund raising, meskipun pengujung tahun kian terasa dekat.

“Kami masih best effort. Kenginan memang besar. Dari IPO saja sudah ada 42 emiten baru, masih ada 34 perusahaan di pipeline BEI,” kata Hoesen di sela Media Gathering di Lombok, NTB.

Dia menegaskan, seiring dengan penambahan produk investasi di pasar modal, literasi ataupun pendalaman pasar dari sisi investor juga penting diperhatikan. Fakta di lapangan menunjukkan investor cenderung memiliki inklusi yang lebih tinggi dibandingkan level literasinya.

OJK dan SRO, lanjut dia, akan melakukan survei guna mengetahui keseimbangan tingkat literasi dan inklusi di sejumlah daerah. Pihaknya memandang, minimnya literasi lebih bahaya lantaran mencerminkan investor yang tidak terlalu mengerti dalam menempatkan dana investasi mereka.

“Di beberapa daerah, kami temukan banyak pemodal yang berinvestasi saham, tapi tidak mengerti sistem pasar modal. Kita akan lihat lebih detail dengan survei hingga ke tingkat kabupaten,” jelas dia.

Berdasarkan data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) hingga 23 Oktober 2019, total investor di pasar modal mencapai 2,28 juta single investor identification (SID). Jumlah itu mencerminkan kenaikan sebesar 41,15% dibandingkan akhir 2018 yang sebanyak 1,61 juta SID.

Jika dirinci, jumlah investor C-Best atau pasar saham mencapai 1,05 juta SID per 23 Oktober 2019 atau meningkat 23,89% dibandingkan 2018 yang sebanyak 852.240 SID.

Sementara itu, jumlah investor reksa dana dan surat berharga negara (SBN) masing-maisng mencapai 1,59 juta SID dan 302.321 SID per 23 Oktober 2019. Posisi tersebut naik signifikan dibandingkan akhir tahun lalu, yang masing-masing mencapai 995.510 SID dan 195.277 SID.

Direktur Utama KSEI Urip Budi menjelaskan, secara wilayah, sebaran investor paling banyak berada di Jawa dengan porsi 72,2% yang memiliki total aset Rp 2.385,07 triliun. Kemudian, Sumatera yang mengambil porsi 15,01% dengan total aset Rp 32,89 triliun, Kalimantan berkontribusi 4,9% dengan aset Rp 67,79 triliun, dan Sulawesi memiliki porsi 3,53% dengan total aset Rp 4,79 triliun.

Adapun Bali, NTT, dan NTB berkontribusi 3,14% dengan aset Rp 4,08 triliun, serta Maluku dan Papua menyumbang 1,22% dengan aset Rp 1,4 triliun.

Tantangan

Pada kesempatan sama, Direktur Utama BEI Inarno Djajadi mengatakan, BEI cenderung mematok target konservatif terhadap pertumbuhan kinerja pasar modal tahun depan. Pihaknya memprediksi, volatilitas di pasar masih berpeluang terjadi. “Tapi kami tidak mau menjadi pesimistis,” ujar dia.

Upaya BEI menjaring minat emiten baru untuk masuk ke bursa pun dinilai membuahkan hasil. Riset EY Global menunjukkan, Indonesia kian unggul dalam aksi IPO terbanyak sepanjang tahun berjalan ini. Posisi BEI diikuti oleh bursa Malaysia, Thailand, dan Singapura. BEI berusaha mempertahankan posisinya dengan mengincar 76 pencatatan efek baru selama tahun depan.

BEI mengasumsikan rata-rata nilai transaksi harian saham pada Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan (RKAT) 2020 sebesar Rp 9,5 triliun, naik tipis dibanding RKAT 2019-Revisi yang sebesar Rp 9,25 triliun.

Direktur Utama PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) Sunandar menambahkan, guna mendukung pertumbuhan pasar modal, KPEI turut melakukan sejumlah inisiatif baru pada tahun ini dan tahun depan. Semisal, penyediaan sistem pihak ketiga dalam transaksi repurchase agreement (repo) atau dikenal sebagai triparty repo.

“KPEI melakukan penyempuraan sistem atas fitur pengelolaan securities margin dan fitur integrasi pelaporan sistem triparty repo dengan pelaporan repo surat utang di penerima laporan transaksi efek dan pelaporan repo saham di KSEI,” ujar dia.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA