Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Tower Bersama. Foto ilustrasi: dok. Investor Daily

Tower Bersama. Foto ilustrasi: dok. Investor Daily

Tower Bersama Jajaki 'Global Bond' US$ 700 Juta

Rabu, 7 Oktober 2020 | 10:49 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) berencana menerbitkan surat utang global (global bond) hingga US$ 700 juta atau setara Rp 10,4 triliun. Perseroan akan menggunakan dana hasil emisi untuk pelunasan utang jatuh tempo, percepatan pembayaran utang, dan membiayai ekspansi usaha.

Global bond tersebut akan diterbitkan tanpa jaminan. Tingkat bunga dan jatuh tempo, beserta pembeli awal global bond akan diumumkan kemudian. Namun, perseroan memperkirakan jatuh tempo pembayaran utang pokok paling lama 10 tahun sejak diterbitkan dan bunga maksimal 6% per tahun.

“Karena rencana nilai transaksi ini melebihi 50% dari nilai ekuitas perseroan, maka transaksi ini termasuk material dan perlu mendapat persetujuan pemegang saham,” jelas manajemen Tower Bersama dalam keterangan resmi.

Sesuai rencana, perseroan menjadwalkan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 12 November 2020. Surat utang nantinya akan dicatatkan di Bursa Efek Singapura (SGX). Aksi ini akan menjadi global bond keempat Tower Bersama yang dicatatkan di SGX.

Sebelumnya, perseroan memiliki senior notes US$ 300 juta yang telah dilunasi pada Mei 2017, kemudian senior notes US$ 350 juta yang jatuh tempo 10 Februari 2022 dengan tingkat bunga 5,25%, dan senior notes US$ 350 juta yang jatuh tempo 21 Januari 2025 dengan tingkat bunga 4,625%

“Pencatatan notes di SGX akan memberikan kepercayaan pasar terkait dengan persyaratan pencatatan di SGX,” terang manajemen.

Sementara itu, analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta mengatakan, sektor menara telekomunikasi merupakan salah satu sektor yang diminati investor asing. Penerbitan global bond Tower Bersama bakal berjalan mulus, apalagi perseroan punya rekam jejak yang baik pada penerbitan sebelumnya.

“Kami melihat strategi global bond untuk dana pelunasan utang dan ekspansi. Perseroan terus berkomitmen membangun banyak menara tahun depan. Hal ini akan direspons baik oleh investor,” kata dia.

Nafan merekomendasi hold saham TBIG dengan target harga jangka pendek Rp 1.485. Saat ini, price to earning ratio (PER) TBIG sebesar 29,27 kali atau di atas PER industri menara telekomunikasi yang sebesar 14,54 kali.

Ekspansi

Tower Bersama membidik tambahan 3.000 penyewa (tenant) baru secara organik pada 2021. Di samping itu, perseroan tetap membuka peluang akuisisi menara milik operator ataupun membeli saham perusahaan menara telekomunikasi.

Sebelumnya, Chief Financial Officer (CFO) Tower Bersama Infrastructure Helmy Yusman Santoso mengatakan, target penambahan tenant baru perseroan pada 2021 sama dengan 2020, yakni 3.000 tenant. Perseroan mempertimbangkan akuisisi, jika ada perusahan atau aset menara telekomunikasi yang prospektif, baik secara lokasi maupun valuasi aset.

“Ke depan, kesempatan akuisisi menara baru selalu ada, hanya kita selalu menilai apakah menara tersebut menarik dari segi lokasi. Total menara perusahaan sudah 15.893 site per Juni 2020 yang menyebar di berbagai lokasi,” jelas dia, belum lama ini.

Menurut Helmy, jika ada peluang akuisisi namun secara valuasi dan lokasi belum cocok dengan portofolio menara perseroan, maka pihaknya tidak akan memaksa strategi anorganik. Selama ini, strategi perseroan adalah agresif membangun menara sesuai pesanan operator.

Adapun strategi yang ekspansi tercermin dari realisasi penambahan tenant sebanyak 2.517, yang terdiri dari 370 site telekomunikasi dan 2.147 kolokasi selama semester I-2020. Dengan total penyewaan menara telekomunikasi sebanyak 30.918, maka rasio kolokasi Tower Bersama menjadi 1,96 per Juni 2020.

Helmy optimistis, industri menara telekomunikasi terus tumbuh positif. Perseroan pun memiliki kontrak jangka panjang dari operator telekomunikasi. Hal tersebut membuat industri ini tergolong defensif. Tower Bersama membukukan rata-rata pertumbuhan tahunan (compound annual growth rate/CAGR) penyewaan 21,9% dari 2010 hingga kuartal II-2020. Sedangkan CAGR EBITDA pada periode yang sama 25,9%.

Sementara itu, perseroan berupaya menjaga tetap sehat rasio-rasio keuangan. Semisal, perseroan melakukan refinancing obligasi lama dengan yang baru sehingga mendapatkan tingkat bunga lebih rendah.

Baru-baru ini, perseroan menerbitkan obligasi berkelanjutan IV tahap I senilai Rp 700 miliar yang terdiri dari dua seri, yakni Rp 231 miliar pada tingkat bunga tetap 6,3% bertenor 370 hari dan Rp 469 miliar pada tingkat  bunga  tetap  8,0%  bertenor  3 tahun. Bunga untuk obligasi ini akan dibayarkan setiap kuartal

Perusahaan menggunakan dana hasil emisi untuk pembayaran   sebagian   Obligasi II   tahap III tahun 2017 dengan tingkat bunga tetap sebesar 8,4% yang jatuh tempo pada 19 September 2020.

Fitch Indonesia memberikan peringkat AA- untuk obligasi anyar ini. Adapun, program obligasi berkelanjutan IV Tower Bersama memiliki total target dana hingga Rp 7 triliun yang berlaku selama dua tahun.

“Penerbitan obligasi masih menjanjikan ke depan, karena likuiditas di pasar cukup baik. Jadi obligasi tetap menjadi pilihan perusahaan dalam diversifikasi sumber pembiayaan,” kata Helmy.

Perseroan tercatat mempertahankan leverage di posisi 4,8 kali per Juni 2020. Posisi tersebut jauh di bawah covenant obligasi perseroan, yakni tidak lebih dari 6,25 kali untuk total pinjaman terhadap EBITDA kuartal terakhir yang disetahunkan.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN