Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Salah satu proyek Waskita Karya. Foto: B1photo-Danung

Salah satu proyek Waskita Karya. Foto: B1photo-Danung

Waskita Karya Tawarkan Obligasi Rp 3,5 Triliun

Gita Rossiana, Minggu, 8 September 2019 | 12:32 WIB

JAKARTA, investor.id – PT Waskita Karya Tbk (WSKT) menawarkan obligasi senilai Rp 3,5 triliun. Obligasi tersebut merupakan bagian dari Obligasi Berkelanjutan IV tahun 2019 senilai total Rp 4,95 triliun.

Obligasi ini ditawarkan dalam dua seri. Seri A memiliki tenor tiga tahun dan seri B dengan tenor 5 tahun. PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) telah menyematkan rating A-.

Waskita menunjuk PT Bahana Sekuritas, PT BNI Sekuritas, PT Danareksa Sekuritas, PT DBS Vickers Sekuritas Indonesia, PT Indo Premier Sekuritas dan PT Mandiri Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi efek. Sedangkan PT Bank Mega Tbk (MEGA) menjadi wali amanat.

“Perseroan melangsungkan penawaran awal pada 6-16 September 2019. Sedangkan masa penawaran umum pada 25 September 2019. Kemudian, pada 30 September 2019, perseroan akan melakukan pencatatan di Bursa Efek Indonesia (BEI),” jelas manajemen Waskita Karya dalam keterangan resmi.

Adapun dana dari hasil penerbitan obligasi akan digunakan untuk modal kerja konstruksi bangunan sipil, keperluan pembangunan transmisi 500 KV Sumatera, serta untuk biaya pembelian lahan konstruksi, biaya sewa peralatan, biaya subkontraktor dan upah tenaga kerja.

Sementara tahun ini, selain menggalang dana dari penerbitan obligasi rupiah, perseroan juga berencana menerbitkan global bond sebesar US$ 245 juta. Direktur Keuangan Waskita Karya Haris Gunawan mengatakan, perseroan akan melihat kondisi pasar sebelum menerbitkan global bond.

Pihaknya masih dalam tahap diskusi dengan sejumlah potensial arranger, sehingga belum dapat menyebut secara rinci mengenai global bond. Perseroan akan memilih arranger yang mampu melakukan penerbitan obligasi dengan risiko paling rendah.

Dia menambahkan, surat utang global berpotensi menjadi pilihan sumber dana investasi perseroan lantaran memiliki tenor yang panjang, yakni bisa mencapai 10 tahun. Hal ini sesuai dengan investasi perseroan di jalan tol yang memiliki rentang periode tujuh hingga 10 tahun.

Lebih lanjut, perseroan berupaya memperkuat penerimaan arus kas pada semester II-2019. Sepanjang tahun ini, perseroan menargetkan arus kas yang masuk mencapai Rp 40 triliun. Arus kas tersebut akan dikontribusi dari penerimaan proyek turnkey sebesar Rp 26,85 triliun dan sisanya sebanyak Rp 14 triliun dari proyek regular.  

Hingga semester I-2019, realisasi penerimaan arus kas perseroan mencapai Rp 7,49 triliun. Perolehan ini diperoleh dari tol Cisumdawu, Pematang-Batang Paket 4, dan Bakauheni-Terbanggi Besar.

Perseroan menargetkan beberapa proyek turnkey selesai tahun ini, antara lain jalan tol Pematang Panggang-Kayu Agung, Kayu Agung-Palembang-Betung, Japek II Elevated, dan Kunciran-Parigi. Belum lama ini, perseroan juga menerima pembayaran Rp 259 miliar dari proyek light rail transit (LRT) dan Rp 873 miliar dari proyek tol Salatiga Kertasura.

“Waktu pembayaraan untuk tiap-tiap proyek berbeda. Untuk tol Pematang Panggang-Kayu Agung sekitar Rp 13 triliun, sedangkan Cikampek II Elevated Rp 4,5 triliun,” kata Haris.

Selain melanjutkan ekspansi, perseroan pun berencana melakukan divestasi lima ruas tol pada semester II ini. Menurut Haris, perseroan tengah berbicara dengan dua investor strategis yang berminat mengambil saham milik anak usaha perseroan, yakni PT Waskita Toll Road (WTR). “Ada dua investor, Kami menargetkan bisa sepakat pada bulan September,” ujar dia.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA