Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan RI Luky  Alfirman saat webinar Bumee Summit 2021 yang diadakan BeritaSatu, Rabu (27/10/2021). Sesi kedua diskusi panel ini bertema Menjaring Potensi Pembiayaan Green Economy with Bank BRI. Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan RI Luky Alfirman saat webinar Bumee Summit 2021 yang diadakan BeritaSatu, Rabu (27/10/2021). Sesi kedua diskusi panel ini bertema Menjaring Potensi Pembiayaan Green Economy with Bank BRI. Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

2018-2021, Pemerintah Telah Terbitkan Sovereign Green Sukuk US$ 3,5 Miliar

Rabu, 27 Oktober 2021 | 18:55 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Pemerintah telah menerbitkan sovereign green  sukuk senilai US$ 3,5 miliar selama tahun 2018 sampai 2021. Langkah ini dilakukan sebagai salah satu upaya untuk membiayai penanganan perubahan iklim. Dalam Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia berkomitmen untuk menurunkan emisi gas rumah kaca pada tahun 2030 sebesar 29% melalui upaya nasional dan 41% dengan dukungan internasional.

“Kementerian Keuangan mencoba mencari pembiayaan untuk mendukung pembiayaan yang sifatnya hijau. Salah satunya melalui penerbitan instrumen yang bersifat hijau. Kami sudah menerbitkan green sukuk dan juga SDG Bonds kaitannya bagaimana mengeksplorasi potensi pembiayaan mendukung ekonomi hijau,” ucap Dirjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Luky Alfirman  dalam acara Bumee Summit 2021 bertema Menjaring Potensi Pembiayaan Green Economy with Bank BRI yang digelar BeritaSatu Media Holdings secara daring, Rabu (27/10/2021).

Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan RI Luky  Alfirman (kanan bawah), Direktur Utama Bank BRI Sunarso (kiri bawah), Senior VP Treasury Group PT Bank Mandiri Tbk Ari Rizaldi (kiri atas), Direktur Utama PT Bukit Asam Tbk Suryo Eko Hadianto (kanan atas), dan Founder BGK Foundation Deni Daruri (tengah atas), serta Pemimpin Redaksi beritasatu.com Aditya Laksmana Yudha saat webinar Bumee Summit 2021 yang diadakan BeritaSatu, Rabu (27/10/2021). Sesi kedua diskusi panel ini bertema Menjaring Potensi Pembiayaan Green Economy with Bank BRI. Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal
Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan RI Luky Alfirman (kanan bawah), Direktur Utama Bank BRI Sunarso (kiri bawah), Senior VP Treasury Group PT Bank Mandiri Tbk Ari Rizaldi (kiri atas), Direktur Utama PT Bukit Asam Tbk Suryo Eko Hadianto (kanan atas), dan Founder BGK Foundation Deni Daruri (tengah atas), serta Pemimpin Redaksi beritasatu.com Aditya Laksmana Yudha saat webinar Bumee Summit 2021 yang diadakan BeritaSatu, Rabu (27/10/2021). Sesi kedua diskusi panel ini bertema Menjaring Potensi Pembiayaan Green Economy with Bank BRI. Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Bila dirinci angka US$ 3,5 miliar ini terbagi dalam empat tahun, pada 2018 pemerintah melakukan penerbitan green sukuk dengan nilai US$ 1,25 miliar. Imbal hasil (yield) dari sukuk tersebut adalah 3,75% dengan tenor 5 tahun.

“Untuk global green sukuk  sovereign kita adalah penerbit pertama di dunia,” imbuh Luky.

Tahun 2019 pemerintah menerbitkan green sukuk senilai US$ 750 juta. Sukuk tersebut memiliki yield yang tertinggi selama 2018 sampai 2021 yaitu 3,9% dengan tenor 5,5 tahun. Pada tahun 2020  pemerintah menerbitkan green sukuk senilai US$ 750 juta. Yield dari sukuk ini sebesar 2,3% dan tenor 5 tahun.

“Ketika tenor jangka pendek 5 tahun itu pembelinya atau yang kami sebut green investor ada di kisaran 29% (2018 dan 2019) sampai 34%( 2020),” ucap Luky.

Pada Juni 2021 ini pemerintah kembali menerbitkan green sukuk dengan nilai US$ 750 juta. Yield-nya dari sukuk tersebut sebesar 3,55% dengan tenor 30 tahun. Penerbitan green sukuk dengan tenor 30 tahun merupakan yang terpanjang di dunia.

“Juni 2021 kami perpanjang tenornya dari 5 tahun jadi 30 tahun.  Ini juga  bentuk kepercayaan, alhamdulillah  respon dari market sangat bagus. (Sukuk) kami selalu over subscribed,” kata Luky.

Luky mengatakan setiap menerbitkan green sukuk maka pemerintah juga harus membuat laporan pertanggungjawaban tentang dampak penerbitan sukuk ini (impact report green sukuk).  Impact green sukuk tahun 2018 telah memperoleh assurance dari auditor dari independen KPMG. Dalam impact report green sukuk 2018 disebutkan ada 23 proyek hijau APBN, 727 pembangunan double track lintas utara, 121 unit pembangunan pembangkit listrik tenaga surya, mini-hydro, dan micro-hydro. Selain itu 3,4 juta keluarga memperoleh manfaat dari sistem pengolahan limbah.

“Kita bisa turunkan 5,7 miliar ton karbon dioksida ekuivalen (CO2e). Berasal dari mana saja? Dari proyek yang telah kami bangun ini. Itu yang di-support dari  penerbitan green sukuk ini,” kata Luky.

Dia juga mengatakan tentang tantangan dalam menerbitkan green sukuk tersebut yaitu untuk menerbitkan thematic bond/sukuk memerlukan extra effort seperti penyiapan framework, permintaan review atas framework dari Second Party Opinion, budget tagging, dan penyiapan annual report atau impact report. Untuk menerbitkan green sukuk membutuhkan koordinasi dari pihak terkait yaitu Kementerian/Lembaga (K/L) dan pemerintah daerah.

“Kita butuh  komitmen dan  koordinasi yang kuat dari pihak-pihak terkait . Karena proyek-proyek itu ada di K/L tersebut. Bagaimana mereka (K/L) bisa menjalankan proyeknya  sesuai janji kita,” tandas Luky.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN