Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP). Foto ilustrasi: SP/IST

Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP). Foto ilustrasi: SP/IST

Pemerintah Tambah Pasokan Listrik EBT 21 Ribu MW hingga 2030

Senin, 27 September 2021 | 10:31 WIB
Euis Rita Hartati (erita_h@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Pemerintah berencana menambah kapasitas pembangkit listrik sekitar 40 ribu megawatt (MW) dalam 10 tahun ke depan. Dari jumlah tersebut, sebanyak 52% kapasitas pembangkit listrik atau sekitar 21 ribu MW bakal berbasis energi baru dan terbarukan (EBT) berbagai jenis. Langkah ini guna mengantisipasi meningkatnya proyeksi permintaan setrum.

“Kami pastikan dari tambahan 40 ribu MW selama 10 tahun ke depan, hampir 52% berbasis energi terbarukan berbagai jenis,” kata Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Rida Mulyana dalam keterangan pers, akhir pekan lalu.

Tercatat, kapasitas pembangkit listrik hingga Juni 2021 sebesar 73.341 MW di mana pembangkit berbasis fosil masih berperan penting sebagai penopang produksi listrik. Rinciannya, pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbasis batu bara mendominisasi dengan kapasitas mencapai 34.856 MW atau 47% dari total kapasitas, disusul pembangkit listrik berbasis gas 20.938 MW atau 28%, air 6.255 MW atau 9%, solar 4.932 MW atau 7%, panas bumi 2.174 MW atau 3%, PLTU berbasis minyak/gas 2.060 MW atau 3%, dan energi terbarukan lainnya 2.215 MW atau 3%.

“Secara generation cost, PLTU memang masih murah. Jadi biar tarif listriknya tidak mahal ke rakyat sehingga meningkatkan daya beli masyarakat dan membuat industri makin kompetitif. [Komposisi] ini tidak bisa dipertahankan terus-menerus. Meskipun kita punya banyak batu bara, lambat laun akan habis,” kata Rida.

Sementara dari sisi produksi listrik, hingga periode yang sama, realisasi volume PLTU jauh lebih besar, yaitu mencapai 65,30% atau membutuhkan batu bara sebesar 32,76 juta ton. Sisanya dipasok dari gas 17%, air 7,05%, panas bumi 5,61%, bahan bakar minyak (BBM) 3,04%, bahan bakar nabati (BBN) 0,31%, biomassa 0,18%, surya 0,04%, dan energi terbarukan lainnya 0,14%.

“Kita harus keluar dari sini untuk menghasilkan yang lebih hijau, bersih, berkelanjutan, dan ini jadi tanggung jawab bersama,” tutur Rida.

Dari segi infrastruktur pendukung penyaluran listrik lainnya, hingga Juni, pembangunan transmisi telah terealisasi sepanjang 62.440 kilometer sirkuit (kms), gardu induk 151.698 Mega Volt Ampere (MVA), jaringan distribusi 1.013.217 kms, dan gardu distribusi 62.345.606 MVA

Sebelumnya, Direktur Pembinaan Program Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Jisman P Hutajulu mengatakan bahwa Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif telah menandatangani Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2021-2030. Sesuai janji, RUPTL ini merupakan RUPTL hijau dengan porsi tambahan pembangkit listrik energi terbarukan lebih besar dari energi fosil, yakni mencapai 51,6%.

Salah satu fokus RUPTL baru ini, tambah Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Dadan Kusdiana, yakni memastikan target bauran energi terbarukan sebesar 23% pada 2025 dapat tercapai. Pemerintah fokus mendorong pengembangan pembangkit listrik berbasis energi surya untuk mencapai target tersebut.

Pasok Energi Hijau

Sementara itu, PT PLN (Persero) menyatakan, meningkatnya kesadaran pelaku usaha untuk menyesuaikan diri dengan tren global dalam penggunaan energi hijau, telah mendorong pertumbuhan minat terhadap sertifikasi energi terbarukan (renewable energy certificate/REC). Sertifikasi ini merupakan layanan PLN berupa pengakuan penggunaan energi baru terbarukan (EBT). REC menjadi bukti kepemilikan sertifikat standar internasional atas produksi tenaga listrik yang dihasilkan dari pembangkit energi terbarukan.

PLN telah menandatangani Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (PJBTL) dan Perjanjian Jual Beli REC dengan PT Anugrah Tambang Smelter (ATS) untuk daya 170 MVA. Dengan ini, PT ATS resmi beralih menggunakan energi hijau.

Direktur Bisnis Regional Sulawesi, Maluku, Papua, dan Nusa Tenggara PLN Syamsul Huda menyebutkan, daya sebesar 170 MVA ini adalah angka yang besar di Palu. Saat ini, subsistem Palu memiliki beban puncak sebesar 150 MW. Dengan masuknya 146 MW untuk PT ATS, maka beban puncak kelistrikan di Palu naik dua kali lipat.

“Kami apresiasi karena ATS sepenuhnya menggunakan REC. Kehadiran PT ATS di Kawasan Ekonomi Khusus Palu ini akan berdampak luar biasa terhadap perekonomian Palu dan sekitarnya,” ujarnya.

Huda menyebutkan, dukungan PLN dengan daya 170 MVA ini akan menarik 1.500 tenaga kerja yang bekerja di perusahaan smelter Nickel Pig Iron (NPI) tersebut. Kebutuhan daya ini juga dinilai akan meningkat seiring dengan rencana ATS yang menggandakan produksinya pada 2023 nanti

PLN pun berkomitmen untuk dapat memasok listrik tepat waktu sesuai jadwal yang disepakati pada 2023. “Proses pekerjaan konstruksi dalam rangka pemenuhan penyaluran listrik ke ATS akan berlangsung lebih kurang 20 bulan sejak penandatanganan PJBTL dan PJBREC ini,” kata Huda.

Dukungan PLN pada kebutuhan daya smelter di Indonesia, tak lepas dari komitmen untuk terus mendukung pengembangan industri baterai kendaraan listrik di tanah air dari hulu ke hilir. Sejauh ini, puluhan smelter yang bermitra dengan PLN diperkirakan akan membutuhkan daya sebesar 6.761 MVA. Di hilir, PLN juga turut mendukung kebutuhan suplai listrik pabrik baterai mobil listrik. Selain itu, PLN juga telah menyiapkan stasiun isi daya oleh mobil listrik di seluruh Indonesia.

Direktur Utama PT ATS Edy Santy menyatakan dukungannya terhadap visi Indonesia menjadi negara produsen baterai yang berkiblat pada energi ramah lingkungan. Pabrik dengan investasi US$ 600 juta ini rencananya dibangun dalam dua tahap. “Pabrik kami yang pertama 4x36 MW, dan tahap kedua dengan penambahan yang sama. Seluruhnya menggunakan energi terbarukan melalui produk yang menjadi unggulan PLN saat ini, yaitu REC,” imbuhnya.

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN