Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
PLTS Atap

PLTS Atap

Penggunaan EBT Dorong Penurunan Emisi GRK

Selasa, 28 September 2021 | 10:12 WIB
Ridho Syukra (ridho.syukra@beritasatumedia.com )

JAKARTA, investor.id -- Associate Director Climate Policy Initiative Indonesia, Tiza Mafira mengatakan pemerintah harus terus mendorong penggunaan energi baru terbarukan (EBT) untuk menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK).

“Komitmen Jepang, Korea, dan Tiongkok yang tidak lagi mendanai batu bara harus menjadi contoh bagi Indonesia. Indonesia masih berupaya untuk mempertahankan industri batu bara, buktinya pemerintah memberikan subsidi listrik yang berbasis batu bara,” ujar Tiza Mafira.

Insentif untuk batu bara di paket Pemulihan Ekonomi Nasional seperti hilirisasi batu bara dan upaya mendorong clean coal technology, semua pengeluaran anggaran negara tersebut akan sia-sia apabila tidak ada lagi yang mau berinvestasi di industri tersebut. Sektor kehutanan paling siap untuk menurunkan emisi, sementara sektor energi tantangan terberat.

Indonesia Team Leader 350.0rg, Sisilia Nurmala Dewi mengatakan, komitmen Presiden Xi Jinping terkait iklim baru adalah langkah besar perubahan kebijakan Tiongkok yang merupakan negara penghasil emisi gas rumah kaca terbesar di dunia.

“Investasi Tiongkok di Indonesia dalam industri batu bara telah berkontribusi signifikan terhadap emisi gas rumah kaca, polusi udara dan dampak negatif terhadap kesehatan masyarakat,” ujar dia dalam siaran persnya yang diterima Investor Daily, di Jakarta, Selasa (28/9).

Tiongkok banyak terlibat dalam proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga uap di Indonesia, sekitar 71% dari daftar pembangkit listrik energi kotor didukung oleh Tiongkok.

Peneliti Trend Asia, Andri Prasetiyo berpendapat komitmen iklim terbaru dari Tiongkok adalah lonceng kematian bagi industri energi kotor batu bara.

Editor : Nurjoni (nurjoni@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN