Menu
Sign in
@ Contact
Search
Ekonomi Sirkular (Facebook Bappenas)

Ekonomi Sirkular (Facebook Bappenas)

Indonesia Butuh Peta Jalan Ekonomi Sirkular

Rabu, 29 September 2021 | 07:21 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Indonesia membutuhkan peta jalan ekonomi sirkular untuk mempercepat transisi menuju ekonomi sirkular dan mempertegas arah kebijakan ekonomi di Indonesia ke depan. Saat ini Indonesia baru memasuki fase kedua pengembangan ekonomi sirkular yaitu pengembangan Rencana Aksi Nasional Ekonomi Sirkular.

“Ini sebagai tindak lanjut dari hasil studi potensi ekonomi sirkular pada fase pertama yang telah kita laksanakan tahun lalu (2020),” ujar Deputi Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Alam Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Arifin Rudiyanto dalam seminar daring, Selasa (28/9).

Dengan adanya rencana aksi yang solid ekonomi sirkular diharapkan dapat terus dikembangkan dan diintegrasikan, sebagai salah satu agenda prioritas nasional dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029.

“Kami harapkan juga menjadi salah satu kerangka pembangunan dalam rencana pembangunan jangka panjang 25 tahun ke depan dari 2025 sampai 2045,” ucap dia.

Dengan pentingnya penerapan ekonomi sirkular pemerintah Indonesia telah memperkuat komitmennya dengan memasukkan ekonomi sirkular sebagai bagian dari agenda prioritas nasional.

Ekonomi sirkular menjadi bagian dari pembangunan rendah karbon yang merupakan salah satu program prioritas dari prioritas nasional ke enam, yaitu membangun lingkungan hidup, meningkatkan ketahanan bencana dan perubahan iklim yang sudah tertuang dalam RPJMN 2020-2024.

“Pembangunan rendah karbon memiliki lima arah kebijakan, dimana tiga diantaranya terkait erat dengan prinsip ekonomi sirkular yaitu pengelolaan limbah, pengembangan energi berkelanjutan, dan pengembangan industri hijau,” ucap Rudi.

Pemerintah saat ini sedang berupaya untuk menegakkan kebijakan pendukung ekonomi sirkular dan mengaktifkan kemitraan lintas sektoral. Dalam hal ini pemerintah akan lebih banyak sebagai enabling, sebagai regulator, fasilitator, inovator, implementor juga nanti melakukan monitoring dan evaluasi.

Pelaku bisnis berperan sangat penting sebagai implementor yang dapat meningkatkan kepatuhan terhadap ketentuan pengelolaan lingkungan yang berlaku serta meningkatkan inisiatif dalam menerapkan prinsip-prinsip yang ramah lingkungan.

“Akademisi dan praktisi juga dapat berkontribusi untuk mendorong teknologi dan inovasi yang ramah lingkungan. Masyarakat dapat melakukan perubahan perilaku sehari-hari menjadi perilaku yang mendukung keberlanjutan dan mendukung berbagai perkembangan,” ucap Rudi. (ark)

Editor : Nasori (nasori@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com