Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Konselor Kerjasama untuk Kedutaan Besar Prancis, Stephane Dovert dalam webinar bertema The Future of Forest: A Discourse on The Circular Economy, sebagai bagian dari Pekan Diplomasi Iklim Uni Eropa. ( Foto: Istimewa )

Konselor Kerjasama untuk Kedutaan Besar Prancis, Stephane Dovert dalam webinar bertema The Future of Forest: A Discourse on The Circular Economy, sebagai bagian dari Pekan Diplomasi Iklim Uni Eropa. ( Foto: Istimewa )

Pentingnya Peran Hutan dalam Ekonomi Sirkular

Rabu, 13 Oktober 2021 | 22:14 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Hutan memiliki peran sangat penting bagi kehidupan dan perkembangan ekonomi selama ratusan tahun dengan kapasitas biologisnya sebagai sumber energi terbarukan. Pelestarian hutan juga berkaitan dengan kegiatan ekonomi sirkular yang sudah banyak diterapkan, untuk menjaga lingkungan yang lebih baik.

Demikian yang terungkap dalam webinar “The Future of Forest: A Discourse on The Circular Economy” sebagai bagian dari Pekan Diplomasi Iklim Uni Eropa (UE).

Konselor Kerjasama untuk Kedutaan Besar Prancis, Stéphane Dovert mengingatkan bahwa dampak yang dirasakan manusia telah menyebabkan hilangnya sekitar 40% hutan dunia. “Kita kehilangan hutan dengan laju 10 juta hektar per tahun. Jadi kita perlu khawatir dan perlu melindungi hutan alam. Manusia diberi kecerdasan untuk melindungi. Hutan ini benar-benar terdiri dari banyak pohon dan mendukung sejuta kehidupan. Pepohonan menciptakan lingkungan khusus yang mempengaruhi jenis-jenis hewan dan tumbuhan yang dapat hidup di hutan,” ungkapnya dalam siaran pers, Selasa (12/10).

Sementara itu, Konselor Pertama bidang Lingkungan, Aksi Iklim, Digital dari Delegasi UE untuk Indonesia dan Brunei Darussalam, Henriette Faergemann menyampaikan bahwa pesan utama dari Pekan Diplomasi Iklim 2021 adalah we care, we can, and we do. Uni Eropa pun berharap semua pihak bertindak secara kolektif dan melangkah untuk aksi iklim.

“Ekonomi sirkular sangat penting dalam untuk mengatasi perubahan iklim, karena rendahnya keanekaragaman hayati, limbah, dan polusi. Tujuannya untuk mengurangi limbah dan pada saat yang sama menciptakan pertumbuhan dan lapangan kerja yang berkelanjutan,” kata dia.

Narasumber lainnya dari Environmental Bamboo Foundation, Monica Tanuhandaru menambahkan bahwa bambu memiliki manfaat ekonomi dan budaya lingkungan. Dengan mengganti bahan bangunan yang tidak dapat diperbarui seperti kayu keras, plastik, dan logam, bambu membantu menghindari emisi CO2.

Menurut Tanuhandaru, satu meter kubik produk bambu rekayasa menyimpan 1,6 ton CO2. Karbon hanya disimpan dalam suatu produk sementara, karenanya bambu yang dipanen harus dibuat menjadi produk yang lebih tahan lama. Bambu menghasilkan lebih banyak produk dibandingkan kayu, terutama melalui praktik pengelolaan berkelanjutan untuk meningkatkan hasil tahunannya. Bambu yang tahan lama dan produk yang direkayasa menyimpan lebih banyak karbon.

“Limbah yang dihasilkan oleh manufaktur atau produk bambu yang tidak terpakai dapat didaur ulang menjadi partikel papan (atau produk yang kurang tahan lama) dan akhirnya sebagai pengganti energi terbarukan dan lebih berkelanjutan,” tuturnya.

Terkait dengan jasa ekosistem, Ilmuwan di Ekologi Ekonomi, CIRAD, Dr. Colas Chervier menyampaikan pandangannya bahwa para aktor kebijakan publik juga memengaruhi desain dan hasil dari pembayaran jasa ekosistem, bahkan dalam konteks pemerintahan yang dianggap lemah.

“Kita juga harus mempertimbangkan aktor publik yang tidak transformasional atau bahkan berkontribusi untuk mempertahankan status quo. Strategi pelengkap yang menurut saya perlu atau akan mengubah cara aktor kebijakan publik dalam membuat keputusan, yaitu mengubah nilai, yaitu kriteria otoritas untuk membuat keputusan diantara beberapa alternatif politik dan mengubah hubungan kekuasaan atau kelompok berpengaruh yang sebenarnya memengaruhi keputusan politik yang akan kita tuju,” katanya.

Sedangkan narasumber Perwakilan Negara Planète Urgence yaitu Reonaldus mengatakan, Indonesia memiliki sekitar 3,1 sampai 3,4 juta hektar mangrove (bakau) atau sekitar 20% dari luas mangrove di dunia.

Dari jumlah tersebut, tercatat sekitar 600.000 hektar hutan mangrove telah rusak. Padahal hutan mangrove dikonversikan ke kolam budidaya, penebangan, minyak tumpahan, dan lainnya. Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk merehabilitasi 600.000 ha hingga 2024 khususnya di 9 provinsi.

Menurut Reonaldus, ekonomi sirkular penting untuk rehabilitasi hutan mangrove dan hutan secara umum. Ia menekankan bahwa salah satu musuh hutan mangrove adalah sampah plastik, karena menyulitkan pertumbuhan mangrove secara natural.

“Jika kita dapat membangun ekonomi sirkular yang efektif dan efisien, seperti reduce, reuse, dan recycle mungkin tidak akan mengancam lagi kelestarian hutan mangrove di masa depan,” tambahnya.

Kaum muda dari Greeneration Foundation, yaitu Kepala Program Glaniz Izza pun turut bersuara. Menurutnya pada awal polusi industri, perusahaan menggunakan model ekonomi linier yaitu siklus hidup produk dibayar, dirawat, dan dibuang – namun menghasilkan miliaran ton sampah setiap tahun.

“Dengan menerapkan prinsip ekonomi sirkular berarti kita lebih bertanggung jawab dan memperhatikan bumi kita dan orang-orang sekitar. Ekonomi sirkular adalah sistem industri yang restoratif atau regeneratif dengan niat dan desain membantu pelestarian hutan. Untuk mencapai keseluruhan sirkularitas, setiap pemangku kepentingan perlu berkolaborasi menerapkan prinsip-prinsip ekonomi sirkular secara holistic,” tutupnya.

Sebagai informasi, Pekan Diplomasi Iklim 2021 yang digagas Uni Eropa akan berlangsung hingga 16 Oktober dan menghadirkan 40 pembicara dalam 15 sesi seperti webinar, sesi bincang, dialog; dan sejumlah kegiatan lainnya termasuk aksi tanam pohon bakau di pantai Jakarta.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN