Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pekan Diplomasi Iklim yang digagas Uni Eropa menggelar diskusi bertajuk From Black to Green Energy Transition in Indonesia and EU. Hadir sebagai narasumber adalah Duta Besar Denmark untuk Indonesia, Malaysia, Timor Leste, Papua Nugini dan Asean, Lars Bo Larsen; Anggota Komisi VII DPR RI, Dyah Roro Esti Widya Putri; Analis Keuangan Energi dari Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA), Elrika Hamdi; Koordinator Transisi dari KSBSI Labor Union, Maria Emeninta; Mitra Infrastruktur Kopenhagen, Niels Holst; dan Duta Besar Republik Federal Jerman yang ditunjuk untuk Indonesia, Timor Leste, dan Asean, Ina Lepel. ( Foto: Istimewa )

Pekan Diplomasi Iklim yang digagas Uni Eropa menggelar diskusi bertajuk From Black to Green Energy Transition in Indonesia and EU. Hadir sebagai narasumber adalah Duta Besar Denmark untuk Indonesia, Malaysia, Timor Leste, Papua Nugini dan Asean, Lars Bo Larsen; Anggota Komisi VII DPR RI, Dyah Roro Esti Widya Putri; Analis Keuangan Energi dari Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA), Elrika Hamdi; Koordinator Transisi dari KSBSI Labor Union, Maria Emeninta; Mitra Infrastruktur Kopenhagen, Niels Holst; dan Duta Besar Republik Federal Jerman yang ditunjuk untuk Indonesia, Timor Leste, dan Asean, Ina Lepel. ( Foto: Istimewa )

UE Dorong Transformasi Energi Fosil ke Energi Hijau

Rabu, 13 Oktober 2021 | 23:31 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Tranformasi energi fosil ke energi hijau sudah harus mulai dilakukan. Menurut Duta Besar Denmark untuk Indonesia, Malaysia, Timor Leste, Papua Nugini, dan Asean, Lars Bo Larsen bahwa sekitar 15 tahun lalu, batu bara bukan hanya menjadi tulang punggung energi Denmark, tetapi juga menjadi lima sumber energi yang dominan di Denmark.

“Jika dahulu penggunaan energi fosil mencapai 99%, kini telah jauh berkurang menjadi 9%,” ujarnya dalam diskusi Pekan Diplomasi Iklim 2021 Uni Eropa (UE) dengan tema “From Black to Green Energy Transition in Indonesia and EU,” yang disampaikan lewat siaran pers, Selasa (12/10).

Larsen berpendapat, penggunaan energi hijau juga akan memberikan banyak keuntungan untuk masyarakat Indonesia, seperti dalam hal efisiensi harga, serta mengurangi emisi. “Meski begitu dibutuhkan strategi dalam mendisain transisi energi sehingga memberikan keuntungan bagi semua orang,” tambahnya.

Hal itu diamini Anggota Komisi VII DPR RI, Dyah Roro Esti dengan mengungkap bahwa Indonesia sejak lama didominasi bahan bakar fosil karena beberapa alasan, akibatnya hingga kini kontribusi energi fosil cukup besar buat PDB Indonesia yaitu 8,4%. Selain itu energi fosil dianggap lebih murah dan lebih kompetitif (oleh pengusaha) dalam menjalankan bisnisnya.

“Komisi VII DPR dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyepakati untuk emisi gas Indonesia mencapai 26 persen yaitu dengan penggunaan transisi energi,” kata Dyah.

Sayangnya, lanjut Ahmad Hanafi dari Indonesia Parliamentary Center (IPC), pembahasan transisi energi masih sangat sedikit disebut sehingga ini menjadi kendala tersendiri buat mempercepat pengesahan RUU EBT (Rancangan Undang-undang Energi Baru Terbarukan).

“Hingga saat ini masih sedikit pembahasan menyebut soal transisi energi di DPR, padahal bahasan itu penting karena butuh waktu, paradigma dan lain sebagaianya,” tuturnya.

Oleh karena itu ia pesimistis jika RUU EBT dapat disahkan DPR tahun ini, seperti yang direncanakan dan kemungkinan besar pengesahannya baru dapat dilaksanakan pada 2022 mendatang. “Namun kami mengapresiasi DPR dengan menghadirkan 27 pihak terkait sehingga dapat langsung mengoneksikan pendapatnya dengan DPR,” kata Ahmad.

Pada kesempatan yang sama, Danish Energi Agency Advisor, Alex Newcombe membagikan pengalaman Denmark dalam menurunkan emisi. Ia sepakat dengan Duta Besar Larsen yang menyatakan negaranya butuh waktu 15 tahun untuk mengurangi emisi. “Emisi di Denmark menurun secara signifikan sejak 1999 hingga sekarang, dan penggunaan batu bara dan minyak bumi kini mendekati target yakni 77%,” urainya.

Menurut Alex untuk negara Indonesia seharusnya tidak membutuhkan waktu selama itu lantaran sudah banyak sumber yang bisa dipelajari sekarang ini, baik dari pengalaman negara Denmark maupun negara lainnya. “Aspek kebijakan menjadi kunci untuk membantu mengurangi risiko dalam mengakselerasi transisi energi,” tambahnya.

Sementara itu, Dr Felix Matthest dari Research Coordinator Energy & Climate Policy di Oko Institute, juga mantan anggota Komisi Batu Bara Jeran menyatakan, yang menjadikan transisi energi kompleks adalah masalah buruh.

“Di Jerman ada 26.500 pekerja tambang dan pembangkit listrik tenaga batu bara, namun mereka terkonsentrasi di beberapa wilayah (wilayah miskin). Untuk mengatasinya Jerman menciptakan kerangka kompensasi kehilangan pekerjaan untuk mereka. Adalah tugas utama untuk membangun kemakmuran daerah dengan menciptakan kondisi yang menarik bagi lapangan kerja baru dan bagi yang lebih muda,” ujarnya.

Sebagai informasi, Pekan Diplomasi Iklim 2021 yang digagas Uni Eropa, mengangkat lima bidang tematik yaitu  Meningkatkan Ambisi Iklim, Transformasi Ekonomi, Pelestarian Ekosistem, Mengajak Keterlibatan Semua Pihak, Sarana untuk Mencapai Ambisi. Ajang yang berlangsung hingga 16 Oktober ini menghadirkan 40 pembicara dalam 15 sesi seperti webinar, sesi bincang, dialog; dan sejumlah kegiatan lainnya termasuk aksi tanam pohon bakau di pantai Jakarta.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN