Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Save the Planet

Save the Planet

BUMEE

Kesempatan Terakhir Melakukan Aksi Global Nyata

Kamis, 14 Oktober 2021 | 10:44 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

PANEL Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim atau Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) belum lama berselang menyampaikan laporan bahwa pemanasan global telah tiba. Dan akan menunjukkan bahwa rerata suhu bumi mencapai 1,5 derajat Celsius pada sekitar 2030 atau satu dekade lebih awal dari prediksi tiga tahun lalu.

Meski demikian, laporan IPCC masih menunjukkan adanya secercah harapan atau kesempatan terakhir untuk menjaga goal 1,5 derajat Celsius tetap berkobar. IPCC memproyeksikan peningkatan suhu permukaan global untuk lima skenario emisi, mulai dari yang sangat optimistis hingga benar-benar sembrono, dan mengidentifikasi perkiraan terbaik untuk periode 20 tahun dengan titik tengah pada 2030, 2050, dan 2090.

Menurut IPCC ambang batas 1,5 derajat Celcius bakal dilewati sekitar tahun 2050, terlepas seberapa agresifnya manusia mengurangi polusi karbon.

“Kita telah mengabaikan peringatan, dan sekarang sudah terlambat. Dunia harus bersiap menghadapi hal lebih buruk – berpotensi jauh lebih buruk – di masa akan datang. Bahkan jika target 1,5 derajat Celcius yang sekarang siap dilampaui secara ajaib tercapai, itu masih akan menghasilkan gelombang panas, curah hujan, kekeringan, dan cuaca ekstrem lain yang luar biasa dalam catatan pengamatan,” demikian kesimpulan laporan IPCC pada 9 Agustus 2021.

Sejauh ini, catatan IPCC menunjukkan suhu bumi tambah menghangat 1,1 derajat Celcius. Bencana mematikan terus-menerus yang disebabkan cuaca, dan belum pernah terjadi sebelumnya ini diperparah oleh perubahan iklim yang melanda dunia pada musim panas ini. Mulai dari dari gelombang panas yang melelehkan aspal di Kanada, badai hujan yang mengubah jalan-jalan kota di Tiongkok dan Jerman ibarat sungai, hingga kebakaran hutan di Yunani dan California, Amerika Serikat (AS) yang sulit dijinakkan.

Pada tingkat pemanasan global yang sedikit lebih tinggi, diprediksi terjadi banjir pesisir sekali dalam satu abad setiap tahunnya pada tahun 2100. Banjir ini dipicu oleh badai yang dipenuhi kelembapan ekstra dan naiknya permukaan air laut.

“Laporan itu seharusnya membuat semua orang yang membacanya merinding,” ujar Dave Reay, direktur Institut Perubahan Iklim Edinburgh di University of Edinburgh.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB Antonio Guterres mengungkapkan, lonceng tanda bahaya telah berdering memekakkan telinga, dan buktinya tak terbantahkan. “Emisi gas rumah kaca dari pembakaran bahan bakar fosil dan penggundulan hutan mencekik planet kita dan menempatkan miliaran orang dalam risiko langsung,” katanya.


Momentum Global
Di sisi lain, ada momentum global yang sedang dibangun di atas krisis iklim. Tetapi tindakan ini mustahil dilakukan apabila Tiongkok dan AS – yang sama-sama menyumbang lebih dari setengah emisi – serta pemerintahannya tidak sejalan.

Menjelang pertemuan puncak “26th UN Climate Change Conference of the Parties (COP26)” di Glasgow, Skotlandia para ahli percaya terobosan kerja sama AS-Tiongkok dapat menjadi katalis bagi kesepakatan bersejarah perubahan iklim.

Menurut laporan, kedua negara telah meningkatkan upaya-upaya guna mengekang emisi. Tapi para analis berpendapat, aksi-aksi tersebut terlalu sederhana untuk memenuhi tujuan PBB mempertahankan kenaikan suhu planet di kisaran 1,5 derajat Celcius dan menghindari efek terburuk dari perubahan iklim.

“Jika Pemerintah Tiongkok dan AS tidak dapat menyepakati sesuatu yang substansial, saya pikir perlu ada ruang untuk tindakan lebih serius, karena kedua negara mampu dan mau melakukan banyak hal sendiri. Tapi bukan berarti tidak relevan. Tanpa kesepakatan eksplisit, negara lain akan enggan bertindak,” tutur Mary Nichols, yang memimpin inisiatif iklim utama sebagai ketua Dewan Sumber Daya Udara California, yang dikutip AFP pada Senin (11/10).

Utusan Iklim AS, John Kerry dalam pidatonya baru-baru ini mengatakan, bukan misteri lagi bahwa Tiongkok dan AS memiliki banyak perbedaan. “Namun dalam iklim, kerja sama adalah satu-satunya cara untuk melepaskan diri dari pakta bunuh diri bersama di dunia saat ini,” katanya.

Kendati hubungan kedua negara masih dingin, Kerry telah dua kali melawat ke Tiongkok. Tetapi pada kunjungan terakhirnya, Menteri Luar Negeri (Menlu) Wang Yi mengeluarkan peringatan. “Tidak mungkin kerja sama iklim Tiongkok-AS dinaikkan di atas lingkungan keseluruhan hubungan Tiongkok-AS,” ujar Wang.

Menanggapi kondisi itu, Alex Wang, co-direktur fakultas Emmett Institute on Climate Change and the Environment di University of California, Los Angeles, berpendapat bahwa Tiongkok dan AS dapat terlibat dalam perlombaan menuju puncak tentang siapa yang berbuat lebih banyak.

“Hal itu dapat meningkatkan reputasi global Tiongkok untuk tampil sebagai aktor positif dalam iklim. Jika para pemimpin di Tiongkok merasa bergerak lamban, saya pikir itu akan menyebabkan beberapa tekanan untuk bertindak lebih jauh. Dan itu akan menjadi alasan untuk mengabaikan suara-suara dari industri bahan bakar fosil atau industri batu bara di dalam negeri. Tapi tanpa tekanan maka keseimbangan bergeser ke arah aksi yang lebih lambat,” demikian penjelasan Wang.

Aksi Nyata Global
Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol pada Senin menyampaikan pesan terbuka kepada pemerintah negara-negara menjelang pertemuan puncak iklim, bahwa dirinya menginginkan aksi global yang nyata, bukan sekadar kata-kata.

Tidak-lah mengeherankan jika itu menjadi permintaan Birol, mengingat ia adalah kepala organisasi yang memberi nasihat kepada negara-negara tentang kebijakan energi.
“Saya ingin melihat sebuah rencana,” ujar Birol, kepada AFP.

Dalam sebuah wawancara, ia juga membahas harapannya tentang pertemuan dua minggu “The 26th UN Climate Change Conference of the Parties (COP26)” yang akan diadakan di Glasgow, Skotlandia mulai 31 Oktober.

Birol mengungkapkan, ada tiga hasil utama yang dinantikan dari pertemuan COP26. Yang pertama adalah: “Ketika kita melihat negara-negara hari ini, yang membuat komitmen untuk nol (emisi) bersih pada 2050. Bahkan jika komitmen itu harus dipenuhi, kita masih jauh dari mencapai tujuan iklim. Oleh karena itu saya berharap akan melihat penguatan komitmen tersebut.”

Sedangkan nomor dua, bagi Birol, adalah batasan dari seluruh perdebatan mengenai iklim, dan soal pembiayaan investasi energi bersih di negara-negara berkembang. Menurut dia, lebih dari 80% emisi dalam 20 tahun ke depan bakal muncul dari negara-negara berkembang dan hanya di bawah 20% dari investasi energi bersih yang masuk ke negara-negara berkembang.

“Itulah alasan mengapa sangat mendesak bahwa negara-negara maju, termasuk negara-negara kelompok G-20, harus memastikan pembiayaan investasi energi bersih di negara-negara berkembang adalah salah satu hasil utama dari pertemuan COP26,” katanya.

Kemudian yang ketiga, lanjut Birol adalah politik. Para pemimpin pemerintah dari negara-negara yang menghadiri pertemuan COP harus memberikan sinyal yang jelas kepada investor di seluruh dunia dengan berkata: “Anda investor, jika Anda berinvestasi di sumber energi lama maka Anda akan mengambil risiko kehilangan uang. Karena kami bertekad sebagai pemerintah dunia ini untuk membawa dunia ke masa depan energi bersih.”

Ada momentum politik yang sangat baik di seluruh dunia mulai dari Tiongkok hingga Amerika Serikat, mulai dari Eropa hingga negara-negara Afrika. Tapi sekarang momentum politik ini harus diubah menjadi aksi global yang nyata, bukan sekadar inisiatif pemerintah yang sporadis di sana-sini. (afp)

 

 

Editor : Iwan Subarkah (subarkah_nurdiawan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN