Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS), Janet Yellen berbicara kepada pers dalam KTT Iklim PBB COP26 di Glasgow, Skotlandia, pada 3 November 2021. ( Foto: PAUL ELLIS / AFP )

Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS), Janet Yellen berbicara kepada pers dalam KTT Iklim PBB COP26 di Glasgow, Skotlandia, pada 3 November 2021. ( Foto: PAUL ELLIS / AFP )

AS Mendukung Penerbitan Obligasi Hijau

Kamis, 4 November 2021 | 07:08 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

GLASGOW, investor.id – Pemerintah Amerika Serikat (AS) pada Rabu (3/11) mendukung mekanisme baru di pasar modal untuk penerbitan obligasi-obligasi level investasi dan peningkatan pembiayaan baru untuk mendorong energi bersih serta infrastruktur berkelanjutan di negara-negara berkembang.

Menteri Keuangan (Menkeu) Janet Yellen mengatakan pada konferensi iklim COP26 di kota Glasgow, Skotlandia bahwa AS bakal bergabung dengan Inggris dalam mendukung Mekanisme Pasar Modal baru di Dana Investasi Iklim atau Climate Investment Funds (CIF). Pernyataannya itu menunjukkan betapa mendesaknya langkah-langkah untuk menghentikan pemanasan global.

Menurut Yellen, inisiatif tersebut akan membantu menarik dana iklim swasta yang baru secara signifikan. Yang diharapkan akan menyediakan US$ 500 juta per tahun untuk Dana Teknologi Bersih CIF. Serta program investasi Percepatan Transisi Batubara yang baru.

Sebagai informasi, CIF sendiri didirikan pada 2008 untuk memobilisasi sumber daya dan investasi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. Menurut catatan, mekanisme ini telah menarik dana sekitar US$ 10,5 miliar dalam bentuk janji dari 14 negara kontributor. Dan memanfaatkan pendanaan US$ 61 miliar dari sumber lain untuk proyek-proyek yang telah menguntungkan 72 negara hingga saat ini.

“Krisis iklim sudah terjadi. Ini bukan tantangan bagi generasi mendatang, melainkan harus kita hadapi hari ini. Kian besarnya tantangan ini akan membutuhkan transformasi besar-besaran dari ekonomi karbon kita yang sarat karbon. Usaha ini diperkirakan menelan biaya antara US$ 100 triliun dan US$ 150 triliun selama tiga dekade ke depan, sekaligus menawarkan peluang besar bagi pertumbuhan dan investasi,” ujar Yellen dalam sambutannya, yang dikutip Reuters.

Sedangkan CIF menyebutkan mekanisme baru tersebut dapat menghasilkan pendanaan sekitar US$ 50 miliar untuk negara-negara berkembang selama dekade berikutnya. Dikatakan juga bahwa ini adalah pertama kalinya dana iklim multilateral berfokus pada obligasi guna membantu mempersempit kesenjangan infrastruktur bersih di negara-negara berkembang.

Untuk Pembiayaan

Di bawah program tersebut, CIF bakal menguangkan aset yang ada dari Dana Teknologi Bersih untuk menerbitkan obligasi, kemudian mencairkannya melalui bank-bank pembangunan multilateral dalam bentuk ekuitas, utang, pembiayaan tanpa jaminan (mezzanine), penjaminan, dan bentuk pembiayaan lainnya.

“Negara-negara berkembang membutuhkan lebih banyak sumber daya secara signifikan untuk mewujudkan ambisi iklim mereka dan kami mengindahkan seruan mereka,” ungkap Kepala Eksekutif CIF, Mafalda Duarte, seraya menambahkan bahwa model mobilisasi modal dapat diskalakan, dapat direplikasi, dan mengubah permainan.

Seperti diketahui, negara-negara berkembang adalah rumah bagi dua pertiga populasi dunia dan berada di jalur yang mengonsumsi 70% pasokan energi. Tetapi investasi dalam energi bersihnya masih tertinggal jauh di belakang di negara-negara ini dan mengancam upaya-upaya untuk mencapai ekonomi nol bersih pada 2050.

Yellen mengatakan, Presiden AS Joe Biden telah mengumumkan rencana untuk melipatgandakan bantuan AS di bidang pendanaan iklim bagi negara-negara berkembang pada 2024, menjadi lebih dari US$ 11 miliar, tetapi sektor swasta juga perlu berpartisipasi.

“Sebesar upaya sektor publik di semua negara kita, harga US$ 100 triliun plus untuk mengatasi perubahan iklim secara global jauh lebih besar,” katanya.

Yellen – yang sempat bertemu dengan para eksekutif keuangan pada Selasa – mengungkapkan bahwa lembaga-lembaga keuangan dengan aset kolektif yang mengelola hampir US$ 100 triliun telah bersatu di bawah Glasgow Financial Alliance for Net Zero (GFANZ), dan berjanji membuat portofolio netral karbon pada 2050.

Di Amerika Serikat, tambah Yellen, Dewan Pengawas Stabilitas Keuangan (Financial Stability Oversight Council) bekerja untuk meningkatkan data dan pengungkapan terkait iklim yang tersedia bagi investor, pelaku pasar, dan regulator. Di samping itu, Negeri Paman Sam akan bekerja dengan para mitranya untuk mendukung upaya serupa dalam skala global.

“Penting juga untuk meningkatkan transparansi data tentang proyek infrastruktur,” tutur Yellen, seraya menegaskan dukungannya atas inisiatif baru Kelompok G-20 untuk menerapkan prinsip-prinsip khusus dalam investasi infrastruktur.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN