Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Utama PT Waskita Karya (Persero) Tbk Destiawan Soewardjono, Ekonom Universitas Indonesia Toto Pranoto, Head Of Research Samuel Sekuritas Suria Dharma, dan News Director Beritasatu Media Group selaku moderator Primus Dorimulu (kiri) dalam acara Zooming With Primus dengan tema Strategi BUMN Karya Dorong Kineja Live di Beritasatu TV pada Kamis (4/11/2021) di Jakarta. Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR

Direktur Utama PT Waskita Karya (Persero) Tbk Destiawan Soewardjono, Ekonom Universitas Indonesia Toto Pranoto, Head Of Research Samuel Sekuritas Suria Dharma, dan News Director Beritasatu Media Group selaku moderator Primus Dorimulu (kiri) dalam acara Zooming With Primus dengan tema Strategi BUMN Karya Dorong Kineja Live di Beritasatu TV pada Kamis (4/11/2021) di Jakarta. Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR

Keuangan Semakin Sehat

Waskita Bangun Tol 1.034 Km dalam 5 Tahun

Jumat, 5 November 2021 | 12:00 WIB
Muawwan Daelami (muawwan@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) dalam lima tahun terakhir sukses membangun 19 ruas jalan tol sepanjang 1.034 km. Panjang tol Waskita membuntuti tol BUMN lainnya, PT Jasa Marga (Persero) Tbk yang mencapai 1.603 km, namun Jasa Marga membangunnya sejak 1975 atau selama 46 tahun.

“Benar, dalam lima tahun terakhir, Waskita lebih fokus menyelesaikan jalan tol. Ada 19 ruas yang kami bangun secara bersamaan dalam waktu lima tahun, dengan panjang mencapai 1.034 km,” ujar Direktur Utama Waskita Karya, Destiawan Soewardjono pada diskusi Zooming with Primus (ZwP) di BeritaSatu TV, Kamis (4/11).

Acara yang dipandu secara live oleh Direktur Pemberitaan Berita Satu Media Holdings (BSMH), Primus Dorimulu itu juga menghadirkan ekonom Universitas Indonesia (UI), Toto Pranoto dan Head of Research Samuel Sekuritas, Suria Dharma.

Destiawan Soewardjono mengakui, keberhasilan Waskita membangun jalan tol sepanjang 1.034 km hanya dalam tempo lima tahun merupakan pencapaian yang luar biasa. Soalnya, BUMN lain yang memiliki spesialisasi di jalan tol memerlukan waktu 15 tahun untuk membangun jalan tol sepanjang itu.

“Jadi, ini cukup kaget juga karena Waskita tidak di-backup fasilitas kredit yang cukup baik untuk berinvestasi, sehingga investasi ini menjadi beban,” tutur dia.

Jalan tol Waskita
Jalan tol Waskita

Belajar dari pengalaman itu, menurut Destiawan, Waskita ke depan akan fokus menuntaskan terlebih dahulu pembangunan ruas-ruas tol dan segera mendivestasikannya agar bisa mengurangi beban keuangan perusahaan. “Kami akan mendivestasikanya sehingga keuangan perseroan lebih sehat dan solid,” tegas dia.

Destiawan mengungkapkan, selain piawai membangun jalan tol, Waskita memiliki keahlian yang mumpuni dalam mengerjakan proyek-proyek infrastruktur keairan, seperti bendungan. Saat ini, hampir 15 bendungan tengah dikerjakan Waskita, beberapa di antaranya harus dirampungkan dalam 2-3 tahun ke depan.

Dia menjelaskan, Kementerian BUMN mengarahkan agar Waskita fokus pada proyek-proyek unggulan (champion), seperti infrastruktur keairan, termasuk proyek-proyek kebandarudaraan. “Kami tidak berhenti menggarap proyek infrastruktur jalan tol, hanya mengurangi partisipasinya,” tandas dia.

Kebijakan itu, kata Destiawan, ditempuh guna mengembalikan kondisi keuangan Waskita agar lebih baik. Perseroan akan membuat target khusus terhadap proyek-proyek yang pembayarannya memiliki skema normal.

“Artinya, terdapat advance payment dan monthly payment sehingga perseroan bisa mengelola arus kas supaya tidak defisit. Jika hal itu bisa diraih, beban keuangan akan menjadi lebih kecil,” papar dia.

Destiawan Soewardjono mengemukakan, Waskita mendapat dukungan pemerintah berupa Penyertaan Modal Negara (PMN) sebesar Rp 7,9 triliun dan kredit modal kerja Rp 8 triliun. Perseroan akan menggunakan dana tersebut secara manageable dan akuntabel.

“Bukan berarti Waskita boleh berfoya-foya. Karena merasa sudah kaya, terus semua proyek investasi kita ambil lagi, tidak. Kami mengelola keuangan secara lebih prudent. Tapi bukan berarti kami tidak aktif meraih proyek-proyek baru. Kami me-manage keuangan sebaik mungkin sehingga ke depan beban keuangan berkurang,” tutur dia.

Dia menambahkan, Waskita masih memiliki pekerjaan besar untuk memperkecil utang yang masih di atas Rp 40 triliun. Tahun ini, perseroan harus memperkecil utang di bawah Rp 40 triliun. Tahun depan, kewajiban perseroan akan ditekan lagi.

“Beban waskita untuk investasi jalan tol kurang lebih Rp 53-54 triliun. Ini kewajiban yang harus diselesaikan. Maka dari itu, investasi yang akan kami dapatkan dipakai untuk mengembalikan kewajiban kredit investasi. Jadi, akan terjadi dekonsolidasi kurang lebih Rp 50-an triliun,” papar dia.

Proyek konstruksi Waskita
Proyek konstruksi Waskita

Divestasi Rp 7 Triliun

Menurut Destiawan Soewardjono, dari divestasi empat ruas tol, Waskita telah mengantongi Rp 7 triliun. Perseroan akan terus melihat progres kondisi setiap ruas. Waskita akan berupaya agar divestasi jalan tol selalu mendapatkan margin.

“Namanya orang jualan pasti mencari untung. Apalagi Waskita berjuang keras menyelesaikan konektivitas. Jangan hanya kerja keras kemudian kami banting harga. Makanya ada program restrukturisasi karena kami perlu waktu untuk pengembalian. Dengan adanya waktu yang longgar, kami juga punya waktu untuk negosiasi dengan investor,” ujar dia.

Destiawan menjelaskan, ruas-ruas tol kelolaan Waskita Karya harus dilepas untuk mengembalikan pinjaman-pinjaman perseroan kepada kreditur. Sebagai gantinya, Waskita akan mencari proyek lain yang risiko dan pembiayaan (financing)-nya sudah ditata dengan baik sehingga proses bisnisnya tidak membebani perseroan.

Divestasi ruas tol, kata dia, bakal terus berjalan sampai 2025 yang hasilnya akan bergantung pada proses transaksi dengan para investor. Salah satu investor yang berminat membeli ruas tol kelolaan Waskita adalah Indonesia Investment Authority (INA), lembaga bentukan pemerintah yang beroperasi sejak Februari lalu.

“Kami memang benar-benar berharap, bahkan jauh sebelum INA diresmikan. Kami sedang membicarakannya. Yang kami tunggu belum terealisasi meskipun dari awal sudah ada yang diminati dan dijadikan target oleh INA,” ucap Destiawan.

Dia mengungkapkan, saat ini terdapat tiga ruas tol yang masuk proses penelaahan menyeluruh (due diligence). Namun, INA masih harus dulu menyelesaikan standard operating procedure (SOP). SOP tersebut diharapkan rampung tahun ini agar tahun depan INA bisa dapat mengeksekusinya.

Destiawan menilai, proses dengan INA kemungkinan berbeda dari yang diharapkan sebelumnya. INA bersedia investasi pada ruas-ruas tol yang profit atau sudah menghasilkan.

“Mudah-mudahan, SOP segera selesai dan kami bisa melakukan transaksi. Tapi kami tidak akan divestasi dengan harga di bawah nilai Waskita. Jadi, kami harus mendapatkan keuntungan dari divestasi itu. Saya berharap INA juga untungnya tidak besar-besar,” tandas Destiawan.

Kinerja keuangan Waskita
Kinerja keuangan Waskita

Sikap Hati-hati

Merespons hal tersebut, ekonom UI, Toto Pranoto mengutarakan, INA merupakan institusi baru. Selain itu, pemerintah relatif belum pernah mengerjakan proyek serupa dengan melibatkan dana investasi global yang besar.

“Kalau tidak salah, tahun ini INA sudah menerima Rp 15 triliun dan akan menerima lagi Rp 15 triliun sampai akhir periode tahun berikutnya dengan program inbreng saham beberapa BUMN. Pada akhirnya, akan ketemu angka sekitar Rp 75 triliun,” ucap Toto.

Angka tersebut, menurut Toto, merupakan investasi yang besar, sehingga INA harus menerapkan prinsip kehati-hatian. Itu tercermin pada komite pengarah (steering committee) dan pengawas yang bekerja cukup hati-hati.

Namun, Toto Pranoto mengingatkan bahwa INA jangan sampai kehilangan momentum. Saat ini, ekonomi mulai tumbuh dan beberapa perusahaan di sektor infrastruktur membaik. Dengan demikian, saat ini merupakan momentum bagi INA untuk segera melakukan aksi korporasi yang penting sehingga iklim investasi di Indonesia, terutama di sektor infrastruktur, bertumbuh lebih baik.

Toto mengakui, INA bersikap hati-hati karena investasi yang dibenamkannya melibatkan bukan hanya investasi dari INA, tetapi juga campuran dari berbagai macam dana internasional, termasuk global fund.

Toto Pranoto, ekonom Universitas Indonesia dalam diskusi Zooming with Primus - Strategi BUMN Karya Dorong Kinerja live di Beritasatu TV, Kamis (4/11/2021). Sumber: BSTV
Toto Pranoto, ekonom Universitas Indonesia dalam diskusi Zooming with Primus - Strategi BUMN Karya Dorong Kinerja live di Beritasatu TV, Kamis (4/11/2021). Sumber: BSTV

Dia menjelaskan, investor yang masuk pasti memiliki target keuntungan (return). Maka tidak gampang mendefinisikan INA seolah-olah dibentuk untuk menyelesaikan proyek-proyek bermasalah.

“INA harus bisa mengombinasikan proyek strategis yang memerlukan financing dari sektor infrastruktur, sekaligus bisa memberikan return yang dikehendaki global investor. Kalau dua hal ini bisa dikombinasikan akan sangat bagus,” tutur dia.

Sependapat dengan Toto, Head of Research Samuel Sekuritas, Suria Dharma mengatakan, due diligence yang dilakukan INA bertujuan memastikan apakah perusahaan terkait bisa menjadi lebih bagus atau tidak dengan adanya suntikan modal.

Due diligence harus dilakukan. INA ini bukan charity company, tapi menginginkan return yang menarik juga. Kalau tidak, lama-lama pendanaan asing tidak akan tertarik lagi masuk ke INA,” ucap dia.

Namun Suria juga menekankan bahwa momentum merupakan faktor yang sangat penting. Itu sebabnya, ia mengingatkan, agar tidak kehilangan momentum, proses due diligence jangan terlalu lama. “Eksekusi itu penting. Kalau terlalu lama, momentum akan hilang, kesempatan yang ada juga hilang,” tandas dia.

Total 2.386 Km

Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono beberapa waktu lalu mengatakan, panjang jalan tol yang beroperasi di Tanah Air terus meningkat. Pada 1978-2014, panjang jalan tol mencapai 789,82 km, lalu pada 2015-2019 bertambah menjadi 1.400 km, dan pada 2020-2021 menjadi 2.386 km.

Basuki juga menekankan bahwa jalan tol yang dibangun pemerintah lewat BUMN, umumnya menjadi tulang punggung perekonomian nasional, misalnya Tol Trans Jawa dan Trans Sumatra.

Menurut Menteri PUPR, pada 2020-2024, proyek mayor infrastruktur yang ditetapkan pemerintah antara lain pembangunan Jalan Tol Trans Sumatra (JTTS), Jalan Trans Papua, dan Jalan Trans/Lingkar Pulau Terluar/Tertinggal (Morotai, Nias, Saumlaki, Sumba) untuk penguatan konektivitas.

Basuki Hadimuljono menjelaskan, pembangunan jalan tol tidak berdiri sendiri, namun harus dikaitkan dengan pengembangan kawasan-kawasan produktif, seperti kawasan industri, pariwisata, bandara, dan pelabuhan demi meningkatkan kelancaran logistik.

Contohnya Tol Trans Sumatra yang menghubungkan kawasan industri (KI) dengan pelabuhan, di antaranya kawasan Kawasan Lampung Industrial Park dengan Pelabuhan Panjang, Lampung, dan Bakauheuni.

Tol Trans Jawa juga dibangun untuk mendukung konektivitas KI di Jawa, antara lain KI Jababeka (Karawang), KI Subang (Jawa Barat), dan KI Batang (Jawa Tengah) dengan pelabuhan seperti Pelabuhan Merak dan Tanjung Priok. Contoh lainnya yaitu Tol Makassar New Port yang menghubungkan Kota Makassar dengan pelabuhan.

Untuk terus meningkatkan kelancaran logistik, kata Menteri PUPR, pemerintah menargetkan panjang tol yang beroperasi pada 2024 bertambah menjadi 5.103 km. Tahun ini, pembangunan infrastruktur konektivitas yang tengah digenjot adalah 410 km jalan tol, 831 km jalan nasional, 22.065 meter jembatan, dan 3.116 meter flyover-underpass.

Selanjutnya untuk infrastruktur ketahanan air dan pangan, tahun ini PUPR membangun 48 unit bendungan (43 on-going dan lima baru), 42 embung, 25.000 ha daerah irigasi, rehabilitasi 250.000 jaringan irigasi, 3,5 m3 per detik air baku, serta 265 km pengendali banjir dan pengaman pantai.

Data Kementerian PUPR menyebutkan, dari Januari hingga Agustus 2021 sudah ada 13 ruas tol baru yang tuntas konstruksi fisiknya sepanjang 96,16 km. Dari jumlah itu, 10 ruas telah beroperasi. Kementerian PUPR optimistis 11 ruas tol lagi sepanjang 189,36 km bisa dituntaskan konstruksi fisiknya hingga akhir 2021. Alhasil, total jalan tol yang sudah dibangun tahun ini ditargetkan berjumlah 24 ruas dengan total panjang 312,02 km.

Berdasarkan data Kementerian PUPR, 10 ruas tol yang telah beroperasi yaitu Banda Aceh-Sigli seksi 3 (16 km), Medan-Binjai seksi 1A (3,5 km), Bekasi-Cawang-Kampung Melayu seksi 1A (2,1 km), Serpong-Cinere seksi 1 (6,5 km), Cengkareng-Batu Ceper-Kunciran (14,19 km), dan Serpong – Cinere seksi 1 (6,5 km).

Itu belum termasuk ruas tol Depok-Antasari on/off ramp Rawajati (1,75 km), Solo-Ngawi simpang susun Sragen Timur (1,04 km), Pemalang-Batang simpang susun Pekalongan dan exit Pekalongan (3,84 km), Tol Kelapa Gading-Pulo Gebang (9,3 km), dan Balikpapan-Samarinda Seksi 1 dan 5 (32,39 km).

Sisanya sebanyak tiga ruas telah rampung konstruksi fisiknya, sudah uji laik fungsi, dan siap diresmikan beroperasi, yakni ruas Tol Cibitung-Cilincing seksi 1 (2,65 km), on/off ramp Km 42+500 Tol Jagorawi (2,9 km), dan ruas Tol Serang-Panimbang seksi 1 (26,5 km).

Adapun 11 ruas tol yang ditargetkan tuntas pembangunannya hingga akhir 2021 meliputi ruas Trans Sumatra, yakni Tol Kuala Tanjung-Tebing Tinggi-Parapat seksi 1, Tebing Tinggi-Inderapura, dan junction Tebing Tinggi (20,4 km), dan Sigli-Banda Aceh seksi 2 Seulimeum-Jantho (6,3 km). Itu belum termasuk Padang-Pekanbaru ruas Pekanbaru-Bangkinang (40 km), Lubuk Linggau-Curup-Bengkulu ruas Bengkulu-Taba Penanjung (17,6 km), dan Binjai-Langsa ruas Binjai-Stabat (12,3 km).

Ruas Tol selanjutnya yang akan tuntas hingga akhir 2021 adalah Cileunyi-Sumedang-Dawuan seksi 1,2,3, dan 6 (38,62 km), Cibitung-Cilincing seksi 2 dan 3 (24,45 km), Serpong-Cinere seksi 2 (3,64 km), BIJB Kertajati (3,38 km), Semarang-Batang simpang susun Kawasan Industri Batang (3,10 km), serta Manado-Bitung seksi 2B Danowudu-Bitung (13,5 km).

Suria Dharma, Head of Research Samuel Sekuritas dalam diskusi Zooming with Primus - Strategi BUMN Karya Dorong Kinerja live di Beritasatu TV, Kamis (4/11/2021). Sumber: BSTV
Suria Dharma, Head of Research Samuel Sekuritas dalam diskusi Zooming with Primus - Strategi BUMN Karya Dorong Kinerja live di Beritasatu TV, Kamis (4/11/2021). Sumber: BSTV

8 Stream Penyehatan

Sementara itu, dalam jumpa pers kemarin, Direktur Utama Waskita Karya, Destiawan Soewardjono mengemukakan, Waskita konsisten menjalankan program 8 stream penyehatan keuangan perusahaan. “Kami optimistis perseroan mencapai kinerja positif dari core business pada 2023,” tutur dia.

Dia menjelaskan, pada kuartal III tahun ini, Waskita telah resmi mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah berupa PMN 2021 untuk penyelesaikan proyek jalan tol, obligasi penjaminan pemerintah untuk refinancing, serta tambahan modal kerja sindikasi dengan penjaminan pemerintah.

“Modal kerja tersebut akan digunakan untuk melanjutkan dan mendorong percepatan pembangunan proyek-proyek infrastruktur yang dicanangkan dalam program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN),” ujar dia.

Waskita, menurut Destiawan, juga telah merestrukturisai utang bank perseroan dan anak usaha. Secara konsolidasian, Waskita telah merstrukturisasi utang bank sekitar 92,35% dari target. Dengan restrukturisasi ini, perseroan dapat meningkatkan efisiensi dengan memperpanjang masa fasilitas kredit sampai 2026 dan mendapatkan bunga lebih kompetitif.

Dia menambahkan, setelah aksi korporasi dan retrukturisasi, Waskita akan fokus meningkatkan kinerja operasional dan keuangan dengan likuiditas yang jauh lebih baik. Perseroan bakal fokus menyelesaikan proyek-proyek infrastruktur. Langkah itu akan mempermudah proses divestasi yang juga merupakan fokus saat ini guna menurunkan kewajiban secara bertahap.

“Selain fokus menyelesaikan proyek existing, Waskita berupaya meningkatkan perolehan nilai kontrak baru dengan fokus pada bisnis water infrastructure, airports, top 3 railroad segment and international growth, serta meningkatkan peran komite investasi dan manajemen risiko pada pemilihan proyek-proyek baru tersebut,” papar dia.

Destiawan mengatakan, hingga kuartal III-2021, Waskita telah mengantongi nilai kontrak baru senilai Rp 12,01 triliun, terdiri atas proyek investasi/business development (68,05%), pemerintah (24,96%), proyek BUMN (4,48%), dan proyek swasta (2,51%).

Berdasarkan tipe proyek, kontrak baru tersebut berasal dari jalan dan jembatan (58,89%), bangunan (13,03%), infrastruktur air (12,30%), anak usaha (11,40%), engineering, procurement & construction/EPC (3,50%), dan lain-lain (0.88%).

Perseroan menargetkan total perolehan nilai kontrak baru pada 2021 sekitar Rp 20,68 triliun. “Kami masih optimistis dapat mencapai target nilai kontrak baru sampai akhir tahun dengan likuiditas yang jauh lebih baik dan struktur biaya operasional yang lebih efisien dan efektif,” tandas Destiawan. (az)

 

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN