Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kika: Triyansyah Putra ST, MBA, CPM (Asia),  Dr. Ir. Ishenny Mohd Noor, M.Eng.Sc,
Ir. Audey Sjofjan, Dr. Hanafi Sofyan Guciano, dan Ir. Piet Gregorius Tangka MSc. (Pieter Tangka).

Kika: Triyansyah Putra ST, MBA, CPM (Asia), Dr. Ir. Ishenny Mohd Noor, M.Eng.Sc, Ir. Audey Sjofjan, Dr. Hanafi Sofyan Guciano, dan Ir. Piet Gregorius Tangka MSc. (Pieter Tangka).

Deklarasi, Carbon Inisiatif Indonesia Siap Bantu Pemerintah Wujudkan Ketahanan Pangan

Sabtu, 6 November 2021 | 16:22 WIB
Mashud Toarik (mashud_toarik@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Sejumlah pakar dalam bidang perhitungan daya tampung dan daya serap korbon, sertifikat karbon, energi baru dan terbarukan, serta para palaku karbon ekonomi pangan pertanian dan perkebunan, sepakat mendirikan sebuah perkumpulan bernama asosiasi Carbon Inisiatif Indonesia (CII). Deklarasi pendirian CII berlangsung di Jakarta, Sabtu, (6/11/2021).

Ketua Umum CII, Audey Sjofjan mengatakan, CII terbentuk sebagai integrator ekosistem para pemangku kepentingan ekonomi karbon yang sirkular di Indonesia demi mengurai tantangan perubahan iklim menjadi peluang yang bermanfaat dalam mendukung ekonomi hijau Indonesia.

“Menindaklanjuti hasil pertemuan Konfrensi Perubahan Iklim COP 26 di Glaslow, kami merasa perlu untuk berkontribusi secara aktif dan mendukung program pemerintah dengan mendirikan CII,” papar Audey saat menyampaikan sambutan di acara deklarasi tersebut.

Lebih lanjut dikatakan, CII berharap dapat menjadi think-thank bagi pemerintah dalam penyusunan roadmap percepatan ekonomi karbon sirkular bagi Indonesia. “Kita punya kekuatan sumber karbon yang sangat besar yang bisa dioptimalkan oleh kita sendiri,” imbuhnya.

Adapun program penting CII diantaranya; berupaya membantu mewujudkan ketahanan pangan dengan sumber daya karbon besar yang dimiliki Indonesia, hingga nantinya dapat mendirikan bursa karbon di Indonesia.

Sekretaris Umum CII, Ichsan menyampaikan, saat ini sudah waktunya kita melihat kembali potensi besar Indonesia di bidang pertanian yang dapat mendukung keamanan pangan dengan menggunakan sistem pasca panen modern menggunakan kemandirian energi yang berasal dari energi terbarukan dan berbasis ekonomi sirkular yang di dalam proses produksinya memanfaatkan material produksi lebih ramah lingkungan dan limbah produksi yang dapat didaur ulang.

“Saya yakin CII dapat mewujudkan hal ini melalui sinergi kepakaran dan sinergi program,” imbuh Ichsan.

Sementara Ishenny Mohd Noor menyampaikan teknologi karbon akan mendukung keselamatan lingkungan dan sustainability-nya, sehingga mendukung terciptakan ekonomi sirkular, sekaligus meningkatkan produktivitas lahan pertanian.

“Dalam tiga bulan ke depan kita harapkan sudah mulai bisa melihat hasil dari pilot project yang kita inisiasi saat ini,” kata Ishenny yang merupakan Penasehat CII untuk urusan Technopreneur & Materials.

Adapun Hanafi Sofyan Guciano selaku Penasehat CII dalam Trading & International Relationship menyoroti tren pasar karbon lintas negara yang menggunakan mata uang asing dan kripto. Menurutnya teknologi telah membuat pasar lebih cepat, transparan, sehingga verifikasi, sertifikasi, harga, kliring, trading, dan retiring semua dapat terintegrasi dalam ekosistem karbon yang mudah diakses.

Lebih lanjut dikatakan, penginderaan jarak jauh dan drone akan membantu audit lapangan tiap tahun. Ini membantu pemerintah dalam registrasi dan pelapuran NDC serta mencegah terjadinya double counting. “Pasar Karbon juga marketplace bagi investor yang ingin masuk di pasar primer selain pasar sekunder. Ini pasar produk etis, sehingga yang akan merusak pasar perlu diedukasi bahwa ini tidak sama seperti main di bursa-bursa yang ada. Semakin kredibel pasar, produk dan pembagian manfaat, semakin tinggi nilai kredit kita. Ini yang akan di kawal CII,” kata dia.

Adapun Triyansyah Putra yang merupakan Pengurus CII Bidang Karbon Storage & Trading mengatakan, pemanasan global dapat menimbulkan risiko besar bagi masa depan. “Apakah kita siap menghadapi penurunan 18% dari PDB global jika kita gagal mempertahankan suhu global di bawah 1,5 derajat Celcius pada tahun 2030?” paparnya.

Dia membandingkan, penurunan PDB global akibat pandemi yang mencapai sekitar 3 persen. “[Dari] 3 persen menjadi 18 persen, itu enam kali lipat,” katanya.

Untuk dapat menarik minat investor dan pelaku usaha ke dalam ekosistem ekonomi karbon sirkular, secara financial dan investment, business model ekonomi karbon sirkular mesti feasible. Dengan meningkatnya investment grade maka pengembangan usaha ekonomi karbon sirkular layak untuk di scale up sehingga tercapai economics of scale.

“Kondisi ini yang ingin CII ciptakan sebagai usaha asosiasi dalam menurunkan entry barrier untuk memasuki bisnis ekonomi karbon sirkular bagi pelaku usaha karbon,” pungkasnya.

Tantangan

Perubahan iklim global disebut mengancam seluruh eksistensi makhluk hidup di muka bumi termasuk manusia, salah satu penyebab utama adalah meningkatnya karbon di alam sebagai CO2/CH4 yang berdampak pada meningkatnya Gas Rumah Kaca (GRK). Kondisi tadi mengakibatkan terjadinya ketimpangan sosial akan berbagai fasilitas seperti tempat hidup yang layak tanpa pencemaran, hak atas akses air bersih, yang dapat mengahncurkan kehidupan masyarakat.

Hal ini disebut juga akan berpengaruh kepada terpaparnya masa depan SDM Indonesia terhadap kekurangan gizi, keterbelakangan mental, stunting, dll dikarenakan runtuhnya ketahanan pangan dan pencemaran lingkungan hidup. Selain itu, ketahanan energi yang tidak seimbang antara energi fossil dan energi baru terbarukan akan berakibat pada ketersediaan energi untuk seluruh rakyat Indonesia.

Kendati begitu dalam permasalahan selalu ada peluang, resiko akibat perubahan iklim global disebut membuka peluang bagi regulator, pelaku usaha dan masyarakat untuk dapat menciptakan ekosistem ekonomi karbon sirkular.

Pemanfaatan sumber daya alam yang berlimpah dalam pembentukan Karbon, energi baru terbarukan, sustainability farming Indonesia memiliki semua keunggulan geografis atas hal tersebut.

“Oleh karena itu, CII akan menjadi asosiasi yang dapat merekomendasikan, mengawal dan mengeluarkan dukungan terhadap berbagai upaya pelaksanaan ekonomi karbon sirkular di Indonesia. Termasuk mendukung berbagai upaya untuk menyimpan karbon material di tanah, sebagai salah satu alat untuk menangkal perubahan iklim dan meningkatkan ketahanan pangan sehingga gizi dan nutrisi masyarakat luas dapat terpenuhi dan para pemangku kepentingan di desa sampai pemerintah daerah mendapatkan nilai tambah baik secara pendapatan daerah maupun social ekonomi bagi masyarakat setempat,” urai Audey Sjofjan

Lebih jauh, CII akan menginisiasi instrumen praktis yang dirancang untuk mendorong agar upaya pelaksanaan karbon emisi baik green karbon ataupun blue karbon serta karbon material untuk pasar karbon di Indonesia dan dunia. Dan mengawasi dan mendorong para pelaku usaha ekonomi karbon sirkular di Indonesia agar dapat selalu menjalankan upaya ekonomi karbon sirkular secara etis di Indonesia.

“Integritas CII selalu berpegang teguh pada data & fakta ilmiah untuk memberikan dukungan kepada para anggota asosiasi serta pelaku ekonomi karbon sirkular agar tercipta suatu pasar Karbon yang dipercaya luas baik di dalam negeri maupun pasar internasional. Peran CII juga tidak terlepas dari pemberian pendidikan dan bimbingan kepada para anggota asosiasi maupun pemangku kepentingan di Indonesia sehingga di masa depan akan tercipta masyarakat Indonesia yang sadar akan potensi ekonomi karbon sirkular dan siap menjadi praktisi pasar karbon Indonesia,” katanya.

Dukungan CII kepada pemerintah dalam hal pemenuhan NDC Indonesia menjadi perhatian khusus bagi asosiasi. CII akan secara aktif memberikan dorongan dan mempersiapkan pemerintah dalam upaya untuk mengganti energi fosil menjadi energi baru terbarukan yang berkelanjutan.

Editor : Mashud Toarik (mashud_toarik@investor.co.id)

Sumber : Majalah Investor

BAGIKAN