Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
CEO Aramco Amin Nasser sedang berbicara di Kongres Energi Dunia (WED) ke-24 di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA) pada 10 September 2019. (Foto: AFP / KARIM SAHIB)

CEO Aramco Amin Nasser sedang berbicara di Kongres Energi Dunia (WED) ke-24 di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA) pada 10 September 2019. (Foto: AFP / KARIM SAHIB)

Aramco: Transisi Terlalu Cepat Dapat Memicu Kerusuhan

Rabu, 8 Desember 2021 | 07:07 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

HOUSTON, investor.id – Chief Executive Officer (CEO) Saudi Aramco Amin Nasser pada Senin (6/12) waktu setempat mendesak para pemimpin global untuk terus berinvestasi dalam bahan bakar fosil di tahun-tahun mendatang. Dia beralasan, asumsi bahwa dunia dapat beralih ke energi bersih dalam waktu semalam adalah langkah yang sangat cacat.

Sambutan yang disampaikan Nasser dalam Kongres Minyak Dunia atau “World Petroleum Congress” di Houston, Texas, Amerika Serikat (AS), mengklaim bahwa transisi ke bahan bakar lebih bersih yang terlalu cepat dapat memicu inflasi yang tidak terkendali serta kerusuhan sosial, dan pada akhirnya mengubah target emisi negara untuk membatasi polusi karbon.

“Saya mengerti, mengakui secara terbuka bahwa minyak dan gas akan memainkan peran penting dan signifikan selama transisi, dan seterusnya akan sulit bagi sebagian orang,” ujar Nasser selama konferensi yang difokuskan pada strategi dan teknologi rendah karbon, yang dilansir CNBC.

Dia mengakui bahwa kenyataan tersebut bakal jauh lebih mudah daripada berurusan dengan kerawanan energi, inflasi yang merajalela, kerusuhan sosial akibat harga menjadi sangat tinggi, dan menyaksikan komitmen nol-bersih negara-negara yang mulai terurai.

Pernyataan Nasser itu muncul di tengah meningkatnya tekanan terhadap industri minyak dan gas (migas) supaya membatasi eksplorasi dan produksi bahan bakar fosil serta beralih ke pengembangan energi terbarukan. Ini mengingat, banyak negara yang telah menetapkan target pengurangan emisi karbon baru guna memerangi perubahan iklim.

Sebelumnya, Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) mengeluarkan peringatan pada Mei bahwa investasi dalam proyek-proyek migas baru harus segera dihentikan agar dunia mencapai emisi nol bersih pada 2050, dan menghindari konsekuensi terburuk dari perubahan iklim.

Menurut Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (Intergovernmental Panel on Climate Change/IPCC), mempertahankan suhu global agar tidak melebihi 1,5 derajat Celcius dari pemanasan mengharuskan dunia untuk memangkas emisi gas rumah kaca hampir setengahnya dalam dekade berikutnya dan mencapai emisi nol bersih pada 2050. Suhu Bumi sendiri dilaporkan telah menghangat sekitar 1,1 derajat Celcius di atas tingkat pra-industri dan diprediksi menunjukkan kenaikan suhu 2,4 derajat Celcius pada 2100.

Tetap Tinggi

Tetapi para pemimpin energi dunia lain dalam konferensi tersebut, termasuk ceo Exxon dan Chevron, juga berpendapat bahwa permintaan migas akan tetap tinggi di tahun-tahun mendatang meskipun ada upaya transisi ke ekonomi energi bersih.

“Minyak dan gas terus memainkan peran sentral dalam memenuhi kebutuhan energi dunia, dan kami memainkan peran penting dalam menyediakannya dengan cara yang lebih rendah karbon. Produk kami membuat dunia berjalan,” kata CEO Chevron Mike Wirth di konferensi tersebut.

Selain itu, Exxon juga pada Senin menyampaikan rencana untuk mencapai emisi nol bersih dari operasinya di ladang migas di Texas Barat dan New Mexico pada 2030 sebagai bagian dari upaya membatasi emisi di seluruh bisnisnya.

Selama konferensi, CEO perusahaan Darren Woods menekankan kebutuhan bahan bakar fosil yang berkelanjutan di tengah transisi energi bersih. “Faktanya tetap, di bawah skenario yang paling kredibel, termasuk jalur net-zero, minyak dan gas alam akan terus memainkan peran penting dalam memenuhi kebutuhan masyarakat,” kata Woods.

Sebagai informasi, laju permintaan bahan bakar fosil global tahun ini naik tajam karena perekonomian negara-negara pulih dari pandemi virus corona Covid-19. Emisi karbon global dari pembakaran bahan bakar fosil pun diperkirakan meningkat menjadi 36,4 miliar ton tahun ini dibandingkan dengan tahun 2020 yang sempat mengalami kenaikan sebesar 4,9%.

Bulan lalu, Presiden Joe Biden mengumumkan bahwa AS, berkoordinasi dengan Tiongkok, India, Jepang, Korea Selatan dan Inggris akan memanfaatkan cadangan minyak strategis serta melepaskan 50 juta barel sebaagi upaya meredam kenaikan pesat harga bahan bakar tahun ini.

“Meskipun mungkin ada penolakan atas pernyataan saya hari ini, saya tahu bahwa jika kita tidak berbicara sebagai sebuah industri, tidak ada orang lain yang akan mewakili kita,” tutur Nasser.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN