Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Sektor Kehutanan, Kunci pengurangan emisi Indonesia

Sektor Kehutanan, Kunci pengurangan emisi Indonesia

Lima Jurus Sektor Kehutanan Turunkan Gas Ruah Kaca

Selasa, 28 September 2021 | 13:20 WIB
Tri Listiyarini

Pemerintah Indonesia menyiapkan lima aksi penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) dari sektor kehutanan dan penggunaan lahan (forest and other land use/FoLU) guna memenuhi target Dokumen Pembaruan Kontribusi yang Ditetapkan Secara Nasional/Nationally Determined Contribution (Updated NDC) 2030. Kelima aksi itu adalah penurunan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan, pembangunan hutan tanaman, penerapan sustainable management of forest (SMF), rehabilitasi hutan, dan pengelolaan lahan gambut.  

Dalam Updated NDC, sektor FoLU menjadi tulang punggung penurunan emisi GRK pada 2030 dengan kontribusi 59% dari target, yakni 17,20% dari target29% melalui usaha sendiri dan 24,10% dari target 41% melalui bantuan internasional. Updated NDC telah disampaikan ke Sekretariat UNFCCC pada 22 Juli 2021 lalu, bersamaan dengan itu Indonesia juga telah membuat Indonesia Long-Term Strategy for Low Carbon and Climate Resilience 2050 (Indonesia LTS-LCCR 2050) yang di dalamnya memuat skenario ambisius Indonesia dalam penurunan emisi GRK, termasuk skenario Net Sink FoLU 2030.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar, saat sosialisasi nasional Updated NDC dan Indonesia LTS-LCCR 2050 pada 23 September 2021 lalu, mengatakan, Updated NDC tidak mengubah angka target penurunan GRK, namun Updated NDC menunjukkan peningkatan komitmen Indonesia melalui penguatan program strategis dan tindakan dalam elemen mitigasi,adaptasi, kerangka, transparansi, dan dukungan implementasi.

Hal itu mendapat dukungan LTS-LCCR 2050 yang memberikan arah visi berkelanjutan Indonesia untuk periode jangka panjang dalam mencapai keseimbangan antara pengurangan emisi GRK pada masa depan dan pembangunan ekonomi.

Strategi jangka panjang LTS-LCCR 2050 memuat skenario Indonesia yang paling ambisius yaitu LowCarbon Scenario Compatible (LCCP) with Paris Agreement yang bertujuan mencapai puncak emisi GRK nasional pada 2030 dengan net sink pada sektor FoLU pada 2030 dan menuju netral karbon (net zero emission) pada 2060 atau lebih cepat pada 2054-2056.

“Dari sudut pandang pembangunan ekonomi, strategi itu bertujuan mengurangi potensi kerugian produk domestik bruto (PDB) negara lebih kurang 3,45% akibat perubahan iklim pada 2050 melalui peningkatan ketahanan empat kebutuhan pembangunan sosial ekonomi dasar, yakni pangan, air, energi, dan kesehatan lingkungan,” kata Menteri Siti.

Sesditjen Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan Kementerian LHK (PTKL KLHK) Hanif Faisol Nurofiq menjelaskan, penurunan emisi GRK dalam kerangka memenuhi target Updated NDC diemban lima sektor, yakni kehutanan (FoLU), energi, limbah, pertanian, dan industrial processes and product use (IPPU).

“Sektor FoLU punya porsi terbesar, hampir 60%, ini kenapa penting bagi KLHK menyusun langkah-langkah strategis dan implementasinya. KLHK menyiapkan Indonesia Net Sink FoLU 2030, sektor FoLU menjadi pionir dari percepatan penurunan emisi GRK, dari yang semula Net Sink FoLU 2050 ditarik menjadi Net Sink FoLU 2030 karena ada target ambisius Indonesia penuhi NDC,” kata dia.

Net Sink FoLU 2030 adalah sebuah kondisi yang ingin dicapai Indonesia melalui aksi mitigasi penurunan emisi GRK dari sektor kehutanan dan lahan dengan kondisi di mana tingkat serapan sudah lebih tinggi dari tingkat emisi pada 2030.

Sesuai arahan Menteri LHK, Ditjen PTKL diminta menyusun rencana operasional Net Sink FoLU 2030 yang bersifat spasial, detil, jelas siapa penanggung jawab dan targettargetnya, termasuk pembiayaannya. Saat ini, KLHK telah menyiapkan Peta Jalan (Roadmap) Mitigasi NDC untuk Sektor FoLU, rinciannya adalah penurunan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan, pembangunan hutan tanaman, penerapan SMF, rehabilitasi hutan, dan pengelolaan lahan gambut.

Hanif merinci, Peta Jalan Mitigasi NDC untuk Sektor FoLU terbagi menjadi sembilan aksi. Yakni, pengurangan laju deforestasi di lahan mineral dan gambut, pengurangan laju degradasi hutan mineral dan gambut, penanaman di hutan tanaman industri (HTI), penerapan reduced impact logging (RIL), penerapan enhanced natural regeneration (ENR), rehabilitasi dengan rotasi, rehabilitasi nonrotasi, restorasi gambut, dan perbaikan tata air gambut.

“Selama tujuh tahun terakhir, kita sudah mengawal komitmen Indonesia dalam NDC dan berjalan baik. Terbukti, laju deforestasi neto Indonesia yang sangat tinggi pada 2000-an yaitu sampai 1 juta hektare (ha) per tahun terus turun menjadi 400 ribu ha (2018), 200 ribu ha (2019), dan menjadi 115 ribu ha per tahun pada 2020. Ini sejarah buat Indonesia,” jelas dia.

Kunci pengurangan emisi GRK di sektor FoLU dan mengubahnya menjadi net sink pada 2030 tergantung pada kemampuan Indonesia dalam mengurangi emisi dari deforestasi dan degradasi, peningkatan kapasitas pengelolaan hutan alam dalam menyerap karbon, pengelolaan lahan gambut dan restorasi hutan, memaksimalkan lahan tidak produktif yang mana saat ini 14 juta ha lahan di Indonesia dalam posisi kritis, dan kemampuan meningkatkan produktivitas lahan dan mengurangi kehilangan hasil pertanian.

Sedangkan upaya ambisius menuju Indonesia Net Sink FoLU 2030 antara lain dengan hanya memperkenankan deforestasi secara terukur yakni 7,10 juta ha hingga 2030 melalui upaya sendiri dan apabila dengan bantuan internasional lebih ekstrem lagi yakni 4 juta ha. Deforestasi lahan gambut sampai 2030 hanya diperkenankan 75 ribu ha dengan upaya sendiri dan 33 ribu ha dengan bantuan internasional 

Tekan Suhu

Dalam kanal media sosial KLHK, Menteri Siti menuturkan, pada Major Economic Forum belum lama ini Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) menggarisbawahi pentingnya setiap negara yang telah meratifikasi Paris Agreement untuk memenuhi target NDC,

Kepala Negara juga menyampaikan target Indonesia untuk mencapai net zero emission pada 2060 atau lebih cepat. Kedua komitmen Presiden RI tersebut tercantum dalam Updated NDC dan Indonesia LTS-LCCR 2050 yang telah disampaikan pada Sekretariat UNFCCC pada 22 Juli 2021.

“Ini mencerminkan pentingnya pengendalian perubahan iklim bagi Indonesia untuk dilakukan pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan demi mencegah terjadinya bencana bagi kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya,” ungkap Menteri Siti.

Penurunan emisi GRK untuk pegendalian perubahan iklim penting karena sudah menjadi amanat dari UUD 1945 pasal 28H, apalagi laporan working group pertama IPCC menyebutkan bahwa pada 2011-2020 suhu permukaan global sudah meningkat rata-rata 1,09 derajat celcius dengan kenaikan suhu di permukaan daratan 1,50 derajat celcius dan di pemukaan lautan 0,89 derajat celcius. Suhu akan terus meningkat mencapai 2,10- 3,50 derajat celcius pada scenario intermediate apabila tidak dilakukan penurunan emisi GRK yang besar pada 2020-2050.

“Dan ini sangat ditentukan oleh upaya-upaya ambisius pada 2020-2030. Kenaikan suhu 1,50 derajat celcius akan meningkatkan intensitas hujan, risiko banjir, dan kekeringan di berbagai negara, terutama di Asia,” jelas Siti.

Kondisi itu di Indonesia sudah nampak terlihat dengan data bahwa 95% kejadian bencana merupakan bencana hidrometeorologi, seperti banjir, badai, longsor, kekeringan, angin puting beliung, gelombang pasang, dan abrasi, yang merupakan dampak dari perubahan iklim. Pada 2015, tercatat 1.654 kali kejadian bencana dan menjadi 4.650 kejadian pada 2020.

Kejadian banjir di Jabodetabek pada awal 2020 menimbulkan kerugian lebih dari Rp 10 triliun. Badan Kebijakan Fiskal (BKF) memperkirakan bisa terjadi kerugian pada 2050 sebesar 1,40% dari PDB saat ini.

“Perlu kerja keras dan kerja bersama seluruh pihak akan perubahan gaya hidup yang lebih ramah lingkungan dan ramah iklim,” ujar Siti.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN