Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso saat memberikan sambutan pada Webinar Bumee Summit 2021 yang diselenggarakan oleh BeritaSatu, Rabu (27/10/2021).  Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso saat memberikan sambutan pada Webinar Bumee Summit 2021 yang diselenggarakan oleh BeritaSatu, Rabu (27/10/2021). Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

OJK Gali Potensi Pembiayaan Green Economy

Rabu, 27 Oktober 2021 | 23:07 WIB
Muawwan Daelami (muawwan@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Perubahan iklim telah mendorong Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk menggali potensi pembiayaan yang bersifat green economy. OJK terus mendorong pertumbuhan ekonomi dengan tetap memastikan sumber daya alam lestari.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso menyatakan, dalam upaya menjaring potensi pembiayaan green economy terdapat empat aspek yang perlu diperhatikan. Pertama, green economy dan urgensi sektor keuangan untuk menerapkan sustainable finance. 

Kedua, mendorong sektor keuangan untuk berkontribusi besar terhadap penerapan green economy melalui program sustainable finance. Ketiga, mengimplementasikan roadmap sustainable finance dan keempat menggali potensi green banking dan pembiayaan-pembiayaan lain yang tergolong kategori pembiayaan hijau di Indonesia.

Wimboh menjelaskan, green economy merupakan upaya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan mengurangi kesenjangan di masyarakat yang sejalan dengan upaya mengurangi risiko lingkungan dan memastikan SDA tetap lestari.

Karena itu, strategi untuk menjaga kelestarian alam ini menjadi perhatian semua pihak di antaranya dengan menjaga transisi yang smooth antara ekonomi konvensional menjadi ekonomi kategori hijau dan berkelanjutan.

“Dan bagaimana kita mencari sumber pertumbuhan ekonomi baru yang berdasarkan pada aspek berkelanjutan,” papar Wimboh dalam kegiatan Bumee Summit yang digelar Beritasatu Media Holding (BSMH), Rabu (27/10).

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso saat memberikan sambutan pada Webinar Bumee Summit 2021 yang diselenggarakan oleh BeritaSatu, Rabu (27/10/2021).  Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso saat memberikan sambutan pada Webinar Bumee Summit 2021 yang diselenggarakan oleh BeritaSatu, Rabu (27/10/2021). Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Guna mewujudkan hal ini, tentu akan didukung dengan investasi pemerintah, swasta, dan berbagai infrastruktur lengkap serta sumber daya manusia (SDM) berupa keterampilan, pemahaman, serta keahlian dan kebijakan yang harus dibuat dari berbagai lintas sektor.

Apabila ditinjau dari sisi makro ekonomi, tutur Wimboh, transformasi kebijakan green economy juga akan berpengaruh pada perubahan struktur produksi dan pola konsumsi masyarakat.

Perubahan signifikan tersebut sekaligus akan mendorong tumbuhnya strategi investasi baru dalam mendukung transformasi baik di sektor manufaktur maupun seluruh sektor ekonomi.

Untuk itu, kerangka kebijakan yang diambil pemerintah dan seluruh stakeholders adalah kebijakan yang mendorong sinergi investasi antara sektor publik (pemerintah) dan swasta dalam menghasilkan backward dan forward linkages pada seluruh sendi perekonomian.

Sayangnya, proses transisi menuju green economy ini tidak lepas dari beberapa tantangan di antaranya kurangnya pemahaman terkait aspek pertumbuhan ekonomi, pembangunan berbagai bidang produksi barang dan jasa, serta perilaku konsumen yang semuanya harus dilakukan dengan mindset dan pemahaman yang sama dan bahasa yang sama.

“Karena kita semua belum mempertimbangkan aspek lingkungan hidup ini salah satunya perubahan iklim dalam kehidupan ekonomi dan sosial kita,” urai Wimboh.  

Transparansi yang kurang dan lemahnya tata Kelola dalam penyusunan berbagai roadmap kebijakan oleh seluruh pemangku kepentingan juga masih menjadi tantangan. Termasuk masyarakat atau publik yang belum memiliki kultur yang sama. 

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN