Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ekonom Senior Universitas Indonesia (UI) Muhammad Chatib Basri

Ekonom Senior Universitas Indonesia (UI) Muhammad Chatib Basri

Pelaksanaan Ekonomi Hijau akan Jaga Aspek Keberlanjutan Lingkungan

Rabu, 13 Oktober 2021 | 19:15 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Ekonom Senior Universitas Indonesia (UI) Muhammad Chatib Basri mengatakan, perekonomian Indonesia harus segera melakukan transisi ke ekonomi hijau. Yakni, menjalankan perekonomian  dengan menjaga  keberlanjutan lingkungan.

“Di mana kita bisa mencapai target dari ekonominya tetapi pada saat yang sama kita juga menjaga keberlangsungan,” ucap Chatib Basri dalam acara peluncuran Laporan Low Carbon Development Initiative pada Rabu (13/10).

Dari sisi lingkungan, permasalahan pemanasan global sudah menjadi masalah dunia. Seluruh negara berupaya untuk mengantisipasi dampak dari pemanasan global. Apalagi Indonesia sebagai negara kepulauan yang sebagian besar wilayahnya adalah lautan akan terkena dampak pemanasan global.

“Tidak hanya didalam soal ekonomi sebagai negara kepulauan misalnya kekuatiran mengenai pemanasan global itu adalah dampaknya pada kenaikan air laut Sehingga di satu sisi isu mengenai banjir naiknya pasang laut itu akan punya pengaruh yang sangat signifikan kepada kehidupan manusia termasuk ekonomi,” tandas  Chatib.

Mantan Menteri Keuangan ini mengatakan  pemanasan global punya dampak kepada kekeringan. Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk nomor 4 terbesar di dunia  akan mengalami kesulitan dalam ketersediaan stok dari makanan. Masalah lingkungan juga akan berdampak pada sektor kesehatan. Chatib mengatakan masalah lingkungan belum menjadi perhatian di negara berkembang.

“Buat negara berkembang termasuk Indonesia, isu lingkungan itu adalah isu barang mewah. Karena isu  yang terbesar (untuk negara berkembang) itu masih masalah mengenai kemiskinan, pengangguran, dan pembangunan,” kata Chatib.

Dia mengatakan risiko transis menuju ekonomi hijau  harus diperhatikan dengan saksama. Sebab saat transisi tidak berjalan secara perlahan akan berdampak langsung pada kenaikan harga komoditas pangan dan menyebabkan terjadinya krisis energi. Menurutnya Tiongkok terlalu cepat  melakukan dekarbonisasi sehingga tidak  persediaan bahan bakar energi tidak siap memenuhi kebutuhan industri.

“Kita tahu bahwa kita harus menuju kepada green  economy tetapi kita juga harus memastikan risiko transisi berjalan secara smooth kalau tidak  ketika harga bahan bakar energi naik secara signifikan. Resistensi dalam transisi menuju green  itu justru tidak akan mendapat dukungan politik,” pungkas Chatib. 

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN