Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi batu bara.  Foto: AFP

Ilustrasi batu bara. Foto: AFP

Penuruan Emisi Perlu Pendekatan Komprehensif

Kamis, 14 Oktober 2021 | 23:32 WIB
Eva Fitriani (eva_fitriani@investor.co.id)

Peneliti Indef Bidang Perdagangan, Industri, dan Investasi Ahmad Heri Firdaus mengatakan, langkah pemerintah untuk mengurangi gas rumah kaca (GRK) yang berasal dari industri manufaktur harus dilakukan dengan cara mereduksi penggunaan batu bara dalam proses produksi dan menggantinya dengan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan.

“Kita perlu melihat penyebab GRK secara lebih komprehensif. Kalau mau mengurangi GRK, penggunaan batu bara dalam proses industri harus direduksi ke bahan bakar yangg lebih ramah lingkungan,” ujar Ahmad.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Ahmad Heri Firdaus
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Ahmad Heri Firdaus

Dia meyakini, komitmen industri manufaktur dalam menurunkan emisi karbon akan mengikuti kebijakan yang ditetapkan pemerintah.

“Kalau kebijakannya mendukung, tentu industri oke-oke saja. Industri pasti rasional, pasti akan mengkombinasikan berbagai input seefisien mungkin untuk menghasilkan output yang maksimal,” kata dia.

Dia mencontohkan, regulasi yang mendukung percepatan investasi di energi terbarukan.

“Tentu industri dengan sendirinya akan memilih energi terbarukan yang lebih efisien dan ekonomis. Artinya, kebijakan dulu yang didesain, yaitu aturan untuk sumber energi terbarukan yang bisa meminimalisir GRK,” jelas dia.

Menurut Ahmad, harus ada investasi yang besar dalam pengembangan energi terbarukan. Dan itu harus didahului dengan kebijakan yang pro investasi agar bisa menarik banyak investor baik dalam maupun luar negeri.

“Investor pasti masuk ke situ kalau menarik. Nah, menarik atau tidaknya tergantung pemerintah,” ungkap dia.

Terkait pajak karbon, diakui Ahmad, kebijakan tersebut memang akan menambah beban industri manufaktur. Terlebih, industri saat ini tengah berjuang untuk memulihkan kinerja yang terpuruk akibat pandemi Covid-19.

Direktur Eksekutif Indef Tauhid Ahmad
Direktur Eksekutif Indef Tauhid Ahmad

Direktur Eksekutif Indef Tauhid Ahmad menilai, pengenaan pajak karbon bagi industri pada tahun depan belum tepat karena industri manufaktur pengguna batu bara masih berusaha bangkit sejak terkena pandemi awal tahun lalu.

“Dalam jangka panjang, pajak karbon memang dibutuhkan. Tapi itu dalam kondisi normal. Dalam kondisi pandemi, terlebih saat PMI sedang turun seperti sekarang, pengenaan pajak karbon pasti berat. Terlalu cepat kalau diberlakukan tahun depan tanpa melihat kesiapan industri,” ungkap dia.

Selain kinerja yang belum membaik, lanjut Tauhid, industri manufaktur juga belum mampu mengalokasikan dana lebih untuk investasi teknologi dan mesin dalam upaya mengurangi emisi karbon.

“Dan tidak mudah untuk memaksa industri beralih penggunaan dari batu bara ke EBT, karena dari sisi harga dan volume yang tersedia juga belum memenuhi syarat keekonomian,” tutur dia.

Tauhid menyebut, harga EBT untuk dijual ke industri masih relatif mahal, yang tentunya belum masuk dalam skala keekonomian. Apabila dipaksakan, berakibat pada harga jual produk industri yang akan melonjak.

Selain itu, tambah Tauhid, pasokan EBT yang tersedia juga belum terlalu besar. “Tapi memang harus dimulai dari sekarang. Artinya, upaya penurunan penggunaan batu bara harus sejalan dengan penggunaan EBT,” kata dia.

Tauhid menambahkan, pemerintah juga perlu memberikan serangkaian insentif bagi industri manufaktur yang berani memulai investasi ke teknologi ramah lingkungan.

“Tidak cukup dengan pajak, perlu insentif fiskal juga. Misalnya bagi industri yang menggunakan teknologi ramah lingkungan seperti pembebasan bea masuk mesin yang diimpor, pengurangan pajak badan, dan lainnya,” tutur dia.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN