Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Koordinator Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Asia Tenggara Tata Mustasya dalam webinar Strategi Indonesia Menuju Target Bauran Energi Tahun 2025, Minggu, 24 Oktober 2021.

Koordinator Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Asia Tenggara Tata Mustasya dalam webinar Strategi Indonesia Menuju Target Bauran Energi Tahun 2025, Minggu, 24 Oktober 2021.

RUPTL Terbaru Dinilai Belum Cukup Hijau, Ini Alasannya 

Minggu, 24 Oktober 2021 | 14:32 WIB
Herman

JAKARTA, investor.id - Koordinator Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Asia Tenggara Tata Mustasya mengungkapkan, dokumen Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2021-2030 yang baru dirilis belum cukup hijau untuk mencegah perubahan iklim dan kerusakan lingkungan. Pasalnya dalam RUPTL terbaru tersebut ada rencana penambahan kapasitas pembangkit dari batu bara (PLTU) mencapai 13,8 gigawatts (34%) dari total tambahan kapasitas pembangkit sebesar 40,5 gigawatts (100%).

“13,8 gigawatts ini 90% di Jawa-Sumatera yang sudah over capacity, listriknya sudah berlebih, kemudian mau ditambah lagi. Semakin banyak PLTU batu bara, sebenarnya ruang untuk energi terbarukan semakin sedikit,” kata Tata Mustasya dalam webinar “Strategi Indonesia Menuju Target Bauran Energi Tahun 2025”, Minggu (24/10/2021).

Dikatakan Tata, sektor energi merupakan penyumbang emisi terbesar. Diperkirakan pada 2030, hampir 60% emisi kita berasal dari sektor energi. Indonesia sendiri telah berkomitmen untuk mengurangi emisi Gas Rumah Kaca sebanyak 26% di 2021 dan 29% pada 2030 mendatang.

“Jadi, kalau kita bicara usaha mengenai perubahan iklim, kuncinya memang ada di sektor energi. Kalau sektor energi gagal melakukan transisi dari energi fosil ke energi baru terbarukan (EBT), maka kita tidak akan berhasil mengatasi perubahan iklim,” ujarnya.

Dalam dokumen RUPTL juga disebutkan, target bauran EBT sebesar 23% pada 2025. Untuk mencapai itu, PLN akan mengimplementasikan co-firing dengan campuran 10-20% pada 52 PLTU, di mana saat ini sudah terlaksana di 32 proyek PLTU yang sudah beroperasi dengan porsi 5%. Untuk mencapai target EBT tersebut, diperlukan biomassa yang sangat besar sekitar 8-14 juta ton per tahun.

“Dalam mewujudkan rencana yang ambisius, tentu ada proses transisi dan sebagainya, kita memahami. Tetap kita juga jangan terjebak dalam solusi semu. Misalnya untuk menuju bauran EBT 23% di 2025, kita akan mengimplementasikan co-firing dan itu membutuhkan 8-14 juta ton biomassa, itu bisa menimbulkan masalah baru dideforestasi,” kata Tata.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : BeritaSatu.com

BAGIKAN