Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Anggota staf media menyaksikan pidato langsung Presiden Tiongkok, Xi Jinping lewat layar di pusat media Konferensi Keanekaragaman Hayati PBB (COP 15), di Kunming, Pprovinsi Yunnan, Tiongkok barat daya, pada 12 Oktober 2021. ( Foto: STR / AFP )

Anggota staf media menyaksikan pidato langsung Presiden Tiongkok, Xi Jinping lewat layar di pusat media Konferensi Keanekaragaman Hayati PBB (COP 15), di Kunming, Pprovinsi Yunnan, Tiongkok barat daya, pada 12 Oktober 2021. ( Foto: STR / AFP )

Tiongkok Janjikan US$ 233 Juta Dana Keanekaragaman Hayati

Rabu, 13 Oktober 2021 | 06:18 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

BEIJING, investor.id – Pemerintah Tiongkok pada Selasa (12/10) berjanji untuk menyuntikkan US$ 233 juta ke dalam dana baru untuk melindungi keanekaragaman hayati di negara berkembang. Janji itu diutarakan pada pertemuan puncak konservasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Terlepas dari ada ketidaksepakatan di antara donor-donor utama pada inisiatif tersebut.

Pemerintah Tiongkok, negara pencemar terbesar di dunia, telah berusaha memainkan peran yang lebih menonjol secara internasional dalam konservasi keanekaragaman hayati dalam beberapa tahun terakhir.

Janjinya disampaikan ketika delegasi dari sekitar 195 negara berkumpul di Kunming, Tiongkok selatan. Ini adalah yang pertama dari pertemuan puncak dua bagian, tentang menjaga tumbuhan, hewan, dan ekosistem. KTT ini bertujuan untuk menetapkan kesepakatan baru yang menetapkan target untuk 2030 dan 2050.

"Tiongkok akan memimpin dalam pembentukan dana keanekaragaman hayati Kunming dengan kontribusi modal 1,5 miliar yuan (US$ 233 juta) untuk mendukung tujuan konservasi keanekaragaman hayati di negara-negara berkembang. Tiongkok meminta semua pihak untuk berkontribusi pada dana tersebut," kata Presiden Tiongkok Xi Jinping dalam pidato yang disampaikan melalui tautan video kepada para pemimpin COP15, yang dikutip AFP.

Usulan utama yang diperdebatkan di konferensi tersebut adalah agenda "30 kali 30" yang akan menghasilkan 30% dari status perlindungan daratan dan lautan bumi pada 2030.

Pengeluaran global untuk melindungi dan memulihkan alam perlu ditambah tiga kali lipat pada dekade ini, menjadi sekitar US$ 350 miliar per tahun pada 2030 dan US$ 536 miliar pada 2050 untuk memenuhi target ini, kata laporan PBB pada Mei 2021.

Tetapi beberapa donor negara kaya mengatakan dana baru untuk konservasi tidak diperlukan karena Fasilitas Lingkungan Global (GEF) PBB telah membantu negara-negara berkembang membiayai proyek-proyek hijau.

"Penting untuk memobilisasi semua sumber, termasuk dana yang ada seperti fasilitas lingkungan global dan dana iklim, untuk melindungi dan memulihkan keanekaragaman hayati," ujar Presiden Prancis Emmanuel Macron.

Masalah pendanaan akan dibahas dalam negosiasi di Jenewa pada Januari 2022, kemudian pada pertemuan bagian kedua pada April dan Mei tahun depan.

Janji pemerintah Tiongkok jauh di bawah US$ 4 miliar yang dijanjikan oleh Inggris untuk proyek konservasi global selama lima tahun ke depan, atau komitmen Prancis untuk menghabiskan 30% pendanaan iklimnya untuk keanekaragaman hayati.

"Pengumuman Tiongkok adalah awal, bukan akhir dari perlombaan," kata Georgina Chandler, staf senior kebijakan internasional di Royal Society for the Protection of Birds (RSPB) yang berbasis di Inggris.

Perang Bunuh Diri

Konvensi PBB tentang Keanekaragaman Hayati telah diratifikasi oleh 195 negara dan Uni Eropa (UE). Pemerintah Amerika Serikat (AS) tidak terlibat, meski tercatat sebagai pencemar terbesar di dunia dalam sejarah. Sementara para pihak peseta konvensi mengadakan pertemuan setiap dua tahun.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB Antonio Guterres mengingatkan bahwa negara-negara termiskin di dunia akan terkena dampak terburuk dari hilangnya keanekaragaman hayati.

"Kita kalah dalam perang bunuh diri melawan alam. Keruntuhan ekosistem dapat menelan biaya hampir US$ 3 triliun per tahun pada 2030. Dampak terbesarnya akan terjadi pada beberapa negara termiskin dan berutang banyak," kata dia.

Diskusi keanekaragaman hayati di COP15 terpisah dari KTT COP26 yang lebih berat, akan dimulai bulan depan di Glasgow, Skotlandia. di mana para pemimpin dunia berada di bawah tekanan untuk bertindak untuk mengatasi krisis iklim. 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN