Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Perry Warjiyo. Foto: IST

Perry Warjiyo. Foto: IST

RI Perlu Tingkatkan Perdagangan Bilateral dengan AS untuk Genjot Ekspor

Senin, 8 Juli 2019 | 15:08 WIB

JAKARTA, investor.id - Bank Indonesia (BI) menyarankan pemerintah perlu meningkatkan kerja sama perdagangan bilateral dengan Amerika Serikat (AS) agar dapat mensubstitusi komoditas ekspor yang selama ini dipasok Tiongkok ke negeri Paman Sam sehingga Indonesia dapat mengeruk hasil positif dari perang dagang antara dua negara raksasa ekonomi dunia itu.

Gubernur BI Perry Warjiyo di Gedung DPR Jakarta, Senin, mengatakan untuk mempererat hubungan bilateral dengan AS, Indonesia dapat mengganti pasokan impornya dari negara lain ke AS, seperti untuk komoditas kedelai maupun katun.

"Untuk komoditas itu bisa kita impor dari AS supaya kita selanjutnya bisa mengekspor ke AS khususnya garmen, furnitur, elektronik, dan sejumlah mesin serta peralatan tertentu," ujar Perry seperti dilansir Antara.

Perry mengingatkan perang dagang, dalam hal ini yang terjadi antara AS dan Tiongkok tidak selalu memberikan imbas negatif, namun juga dapat memberikan dampak positif bagi negara-negara yang terlibat dalam rantai perdagangan global.

Dampak perang dagang antara AS dan Tiongkok, ujar Perry, memang membuat kinerja ekspor sejumlah negara mengalami perlambatan termasuk Indonesia. Namun, Indonesia bisa mencontoh Vietnam yang suskses mengeruk hasil positif dari sengketa antara Tiongkok dan AS. Hal itu karena Vietnam dapat menggantikan komoditas ekspor dari Tiongkok yang biasa diekspor ke AS.

"Pertumbuhan ekonomi AS ada kecenderungan menurun, sehingga permintaan barang-barang ekspor, tidak hanya ke Indonesia, tetapi dari seluruh negara memang menurun. Kecuali sejumlah negara, seperti Vietnam karena dapat memenuhi yang dulu dipasok Tiongkok ke AS," ujarnya.

Oleh karena itu, di saat seperti ini, strategi perdagangan bilateral lebih efektif dibandingkan perdagangan multilateral. Perry menyarankan pemerintah lebih intensif mendelegasikan misi perdagangan ke AS.

"Caranya dengan lebih banyak mengirim misi dagang ke AS untuk bisa menjual komoditas-komoditas kita ke sana," ujarnya.

Hingga Mei 2019, neraca perdagangan Indonesia masih mencatat surplus US$ 0,21 miliar . Angka itu membaik dari kondisi April 2019 yang mencatat defisit US$ 2,28 miliar. Namun, perbaikan neraca perdagangan tersebut tidak cukup untuk memperbaiki secara signifikan neraca transaksi berjalan. Di kuartal II 2019, neraca transaksi berjalan diperkirakan defisit dua persen hingga tiga persen Produk Domestik Bruto (PDB).

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN