Menu
Sign in
@ Contact
Search
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati

Menkeu: Waspadai Kondisi Global 2020

Rabu, 21 Aug 2019 | 11:45 WIB
Triyan Pangastuti (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan akan tetap mewaspasai kondisi ketidakpastian global yang akan terjadi di 2020, lantaran saat ini pertumbuhan ekonomi global juga mengalami pelemahan karena dipengaruhi oleh kebijakan global yang dilakukan pada 2018.

Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan tahun ini, seperti penurunan suku bunga acuan oleh The Fed, menurutnya akan terlihat dampaknya di tahun depan. Hal itu sebagaimana terjadi dengan kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pada 2018 dan kemudian dampaknya terlihat di tahun ini, sementara berbagai kebijakan di tahun ini akan terlihat dampaknya di tahun depan.

"Sehingga di 2020 kita juga akan melihat apa respons policy di 2019 ini. Respons policy seperti Federal Reserve yang tadinya menaikkan suku bunga, sekarang menurunkan suku bunga, kita belum tahu apakah mereka akan melakukan lagi, ataukah itu adalah keputusan sendiri pada saat penurunan kemarin. Ini akan sangat menentukan momentum dari pelemahan ekonomi dunia akan berlanjut atau membalik di 2020," tutur dia, di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (20/8).

Kemudian eskalasi perang dagang antara Tiongkok dan Amerika Serikat (AS) juga masih meningkat, namun saat ini sulit untuk memprediksi apakah akan ada kenaikan tarif atau penurunan tarif, sebab masih ada berbagai indikator dan persyaratan yang memang belum disetujui oleh kedua belah pihak, antara Tiongkok dan Amerika Serikat.

Advertisement

Menurutnya, ketegangan perang dagang juga akan memiliki pengaruh kepada kegiatan-kegiatan industri manufaktur yang terlihat dari Indeks Manufaktur Tiongkok yang mengalami pelemahan. Hal ini menyebabkan pertumbuhan ekonomi Tiongkok mengalami pelemahan.

“Ini mungkin akan terlihat apakah respons policy yang dilakukan oleh pemerintah RRT dan berbagai kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah AS.  Apakah mereka akan mampu membalikkan situasi tension ini sehingga menimbulkan kepastian dan membalik jadi optimis,” tutur dia.

Selain ketegangan perang dagang AS dan Tiongkok, Sri Mulyani juga melihat beberapa tension dari sisi politik yang tejadi di Hongkong dan Argentina yang juga memberikan tambahan ketidakpastian. Oleh karena itu, Sri menegaskan untuk 2020, pemerintah akan terus mewaspadai mengenai siklus atau adanya tren pelemahan.

“Kita juga tetap harus mewaspadai apakah siklus atau tren pelemahan ini akan terus terjadi atau membalik menjadi sesuatu yang positif. Karena policy yang dilakukan The Fed di AS, bank sentral di Eropa, kemudian di RRT sendiri dengan policy fiskal dan moneternya dalam rangka untuk menjaga agar perlambatan ekonomi di Tiongkok tidak makin melemah. Itu semua akan beri tone atau pengaruh terhadap optimisme atau proyeksi 2020,” jelasnya.

Lanjutnya, ia menyebut bahwa asumsi makro berdasarkan kondisi ketidakpastian (dalam menyusun RAPBN). Hal ini juga terjadi di 2018. Saat itu, pemerintah memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia dan harga komoditas diasumsikan berada di 48 dolar per barel, namun realisasinya justru di atas 60 dolar per barel. Kemudian kondisi nilai tukar yang diasumsikan sebesar Rp 13.400 menjadi di atas Rp 14.000. Sehingga perlu pengelolaan APBN yang baik ditengah ketidakpastian.

“Itulah yang akan kita coba terus fokuskan menggunakan APBN sebagai instrumen menjaga perekonomian nasional dan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi kita,” tutur dia.

Kinerja Ekspor Melambat

Sebelumnya, mantan direktur Pelaksana Bank Dunia ini menuturkan bahwa pelemahan perekonomian global juga ikut mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia, serta  mempengaruhi kinerja ekspor yang melambat. Padahal, saat ini kinerja ekspor juga menjadi kunci motor penggerak pertumbuhan ekonomi.

Saat ini, pelemahan kinerja ekspor sudah ikut melemahkan kinerja negara seperti Singapura dan Jerman. "Negara tetangga seperti Singapura sudah negatif. Begitu pula negara yang andalkan ekspor kayak Jerman juga masuk dalam zona negatif sebab global environment-nya memang sedang melemah," ujar Sri Mulyani.

Untuk kinerja ekspor 2019 sudah melemah dan tercatat tumbuh negatif pada dua kuartal 2019, padahal pemerintah sejak awal sudah memperkirakan kinerja ekspor tahun ini dapat tumbuh positif.

“Oleh karena itu, kita akan lihat faktor penyumbang pertumbuhan ekonomi yang bisa mengkompensite itu dan bagaimana cara mendorongnya. Kita akan terus melakukan itu dari sisi manajemen bersama dengan kementerian terkait,” tuturnya.

Editor : Nasori (nasori@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com